Tautan-tautan Akses

Antibodi Percobaan Mungkin Dipakai untuk Atasi Ebola di Afrika

  • Jessica Berman

Petugas medis di pintu masuk sebuah rumat sakit yang merawat para penderita ebola di kota Conakry, Guinea, Afrika barat (foto: dok).

Petugas medis di pintu masuk sebuah rumat sakit yang merawat para penderita ebola di kota Conakry, Guinea, Afrika barat (foto: dok).

Di tengah wabah virus Ebola yang mematikan di Guinea, Afrika Barat, sebuah tim peneliti internasional telah meningkatkan produksi antibodi eksperimental.

Di tengah wabah virus Ebola yang mematikan di Guinea, Afrika Barat, sebuah tim peneliti internasional telah meningkatkan produksi antibodi eksperimental yang menurut para ilmuwan berpotensi untuk menyembuhkan mereka yang terinfeksi virus tersebut, yang memiliki tingkat kematian 90 persen.

Sebanyak 20 laboratorium dan lokasi riset di seluruh dunia, termasuk di Kanada, Jepang, Israel, Uganda, dan AS, bekerja secara bersamaan untuk mengembangkan antibodi buatan manusia terhadap virus Ebola. Antibodi adalah protein sistem kekebalan garis depan yang dihasilkan tubuh secara alami untuk melawan penyakit ketika terpapar infeksi untuk pertama kalinya.

Protein sistem kekebalan tubuh yang menarget Ebola, saat diberikan melalui suntikan, memiliki angka kesembuhan yang tinggi pada hewan percobaan, kata Erica Ollmann Saphire, pakar imunologi pada Institut Riset Scripps di La Jolla, California.

"Kami telah melakukan banyak percobaan pada primata non-manusia dan jika bisa memasukkan antibodi itu ke dalam tubuh mereka dalam 48 jam setelah terpapar, kita dapat menyelamatkan hampir semua hewan itu. Bahkan jika kita menunggu empat atau lima hari sampai penyakit hewan-hewan itu berkembang menjadi demam berdarah, kita dapat menyelamatkan lebih dari separuhnya," papar Erica.

Penyakit itu, yang ditularkan melalui konsumsi kelelawar yang terinfeksi dan daging hewan liar yang tercemar, dengan cepat menyebabkan sakit kepala, demam dan nyeri otot yang parah sebelum pasien mengalami gejala muntah, diare dan pendarahan.

AS telah menyumbang 28 juta dolar untuk sebuah upaya yang bertujuan untuk menentukan antibodi mana dari sekitar setengah lusin antibodi yang sedang dikembangkan di seluruh dunia yang paling efektif dalam memerangi virus mematikan tersebut. Pengobatan Ebola yang manjur pada akhirnya mungkin terdiri dari campuran beberapa antibodi.

Erica Saphire memimpin upaya penelitian itu, yang sedang dikoordinasikan oleh Institut Scripps. Dia mengatakan biasanya, dibutuhkan beberapa hari bagi tubuh untuk membuat antibodi terhadap infeksi, waktu yang kebanyakan tidak dimiliki pasien Ebola.

Erica menambahkan, "Ini adalah cara untuk membuat orang menjadi kebal dengan segera. Dan gagasannya adalah kita mendapatkan antibodi ini baik dari sel-sel yang disumbangkan oleh korban Ebola yang selamat atau dengan mengimunisasi tikus, dan kami memanusiakan antibodinya; kita dapat mengambil hal-hal yang telah dikembangkan dalam kultur sel dan memberikannya kepada pasien sekarang juga untuk melindungi dari infeksi yang diderita tanpa harus menunggu empat hari."

Menurut Erica, persediaan antibodi yang terbatas, yang sejauh ini belum diuji pada manusia, telah dikirim ke Guinea untuk membantu korban Ebola.

Pada tahap awal, Ebola sulit untuk dibedakan dari penyakit lain yang endemik di Afrika, termasuk malaria dan kolera. Jadi, tes diagnostik juga telah dikirim ke Guinea dan negara-negara tetangga untuk membantu deteksi dan upaya-upaya untuk mengobati mereka yang terinfeksi virus tersebut.
XS
SM
MD
LG