Tautan-tautan Akses

Antibiotika Murah Kurangi Kematian akibat AIDS


Meskipun benua Afrika dihuni 10 persen jumlah populasi dunia, namun berdasarkan data WHO , 60 persen penduduk Afrika mengidap HIV/AIDS, penyakit yang telah menewaskan 25 juta orang sejak ditemukan tiga dekade silam.

Meskipun benua Afrika dihuni 10 persen jumlah populasi dunia, namun berdasarkan data WHO , 60 persen penduduk Afrika mengidap HIV/AIDS, penyakit yang telah menewaskan 25 juta orang sejak ditemukan tiga dekade silam.

Hasil kajian medis baru mengenai pasien HIV/AIDS di Afrika menyatakan resiko kematian pada tahap-tahap awal penyakit ini turun signifikan jika pasien menggunakan antibiotika yang murah harganya.

Para peneliti di Inggris dan Afrika menyatakan ada cara murah dan aman untuk mengurangi kematian akibat HIV/AIDS pada pasien yang baru saja memulai terapi anti-retroviral. Kajian mereka, yang diterbitkan pada jurnal kesehatan The Lancet, menyatakan, risiko kematian para pasien di Afrika yang mulai menggunakan antibiotika co-trimoxazole dikombinasikan dengan obat-obat anti-HIV, berkurang 50 persen pada 18 bulan pertama mereka bila dibandingkan dengan para pasien yang tidak menerapkan hal itu.

Salah seorang penulis kajian tersebut, Profesor Diana Gibb dari Dewan Riset Kedokteran di London, menyatakan, harga co-trimoxazole hanya beberapa ratus rupiah per hari. Akan tetapi, ujarnya, obat tersebut tidak tersedia secara luas di Afrika sebagaimana seharusnya.

"Selalu ada masalah mengenai persediaan obat, khususnya di wilayah pedesaan di mana 70 persen rakyat Afrika bermukim. Namun ini adalah obat generik, yang sangat sering diproduksi di beberapa negara di sana, juga tersedia obat generiknya yang diproduksi beberapa perusahaan farmasi India. Ini mungkin hanya masalah jalur-jalur komunikasi mengenai cara mendapatkannya di tempat obat itu dibutuhkan, dan ini perlu dilakukan, " ujar Profesor Gibb.

Gibb menambahkan banyak pasien yang tidak diberi co-trimoxazole karena ada anggapan keliru mengenai keamanannya.

"Seperti yang terjadi pada studi ini, orang kerap mengira tidak tepat untuk memberikannya secara bersamaan sewaktu perawatan dimulai, karena pasien harus minum pil-pil baru anti-HIV. Mungkin ada kekhawatiran mengenai efek samping dan sebagainya atau mengenai apakah pasien mampu minum lebih banyak pil lagi, " katanya.

Menurut kajian tersebut, risiko kematian yang lebih rendah dari penggunaan awal antibiotika itu menyanggah semua kekhawatiran itu. Demikian kesimpulan yang juga disepakati oleh Organisasi Kesehatan Sedunia.

Gibb menyatakan tidak jelas apakah co-trimoxazole itu juga manjur bagi para pasien HIV/AIDS yang telah menerima perawatan anti-retroviral sebelumnya. Ia mengatakan semua itu merupakan alasan lain bagi para pasien baru untuk segera mulai minum antibiotika.

"Yang ingin kami sampaikan kepada para petugas kesehatan di Afrika adalah, “Ambil botol obat antibiotika bersamaan dengan perawatan anti-HIV.” Setidaknya pada satu setengah tahun hingga dua tahun pertama, ini yang kami lihat dalam ujicoba, obat tersebut bermanfaat baik dalam kurun itu, " katanya.

Para peneliti adalah para pakar dari Uganda, Zimbabwe dan Imperial College London. Mereka menyatakan berharap temuan mereka akan membantu menyelamatkan lebih banyak pasien di antara jutaan pengidap HIV/AIDS di Afrika.

XS
SM
MD
LG