Tautan-tautan Akses

AS

Anglikan AS Bersiap Berikan Suara tentang Pernikahan Sesama Jenis di Gereja


Ribuan orang menghadiri kebaktian dalam Konvensi Umum Gereja Episkopal di Salt Lake City, Utah, 28 Juni 2015.

Ribuan orang menghadiri kebaktian dalam Konvensi Umum Gereja Episkopal di Salt Lake City, Utah, 28 Juni 2015.

Kalangan Episkopal dijadwalkan untuk memilih hari Rabu (1/7) tentang apakah mereka akan mengijinkan pernikahan keagamaan pasangan sesama jenis, beberapa hari setelah Kejaksaan Agung AS melegalisasi pernikahan sesama jenis di seluruh negara tersebut.

Pada tahun 2003, Komuni Anglikan global cabang AS membuat terobosan dengan memilih uskup gay pertama. Sejak itu, banyak keuskupan yang mengijinkan pendeta mereka memberkati pernikahan sesama jenis.

Namun, gereja masih belum mengubah hukumnya tentang pernikahan.

Pemilihan tentang pernikahan sesama jenis diharapkan berlangsung siang hari di Salt Lake City di majelis nasional denominasi.

Di malam pemilihan di AS, Uskup Agung Canterbury Justin Welby, pemimpin spiritual Anglikan dunia, mengeluarkan pernyataan yang berisi kekhawatiran mendalam tentang dampak perubahan definisi pernikahan dalam hukum gereja Episkopal.

Hubungan di antara kalangan Anglikan tegang sejak Episkopal pada tahun 2003 memilih Uskup Gene Robinson, yang hidup terang-terangan dengan pasangan prianya, untuk memimpin Keuskupan New Hampshire. Welby telah berjuang keras untuk menjaga hubungan baik antar gereja.

Usulan tersebut akan menghilangkan bahasa yang terkait dengan gender dari hukum gereja tentang pernikahan sehingga pernikahan sesama jenis bisa dilakukan secara keagamaan. Pendeta bisa menolak untuk melakukan upacara pernikahan. Saat ini, setiap uskup memutuskan apakah pendeta mereka bisa melaksanakan pernikahan sesama jenis atau tidak.

Di antara kelompok-kelompok Protestan utama, hanya United Church of Christ dan Gereja Presbiterian (U.S.A.) yang mengijinkan pernikahan sesama jenis pada semua jemaat mereka. Gereja Lutheran Evangelis di Amerika mengijinkan jemaat individual memutuskan upacara pernikahan, dan United Methodist Church melarang pernikahan sesama jenis.

Robinson, kini pensiun, menyatakan kekagumannya melihat betapa banyak kemajuan yang dicapai gerakan hak-hak gay sejak saat ia menerima ancaman mati setiap hari dan mengenakan rompi anti peluru 12 tahun yang lalu.

Ia mengatakan semua agama akan menerima tekanan lebih besar agar bisa lebih sejalan dengan masyarakat, didorong oleh umat mereka sendiri yang gay dan lesbian yang ingin menikah secara agama.

“Gereja konservatif berseteru dengan kaum muda karena kaum muda sekarang punya teman gay, lesbian, biseksual dan transgender," kata Robinson.

Setelah keputusan Kejaksaan Agung minggu lalu, banyak gereja teologis konservatif, termasuk Konvensi Baptis Selatan dan Gereja Mormon, memperbarui penolakan mereka terhadap pernikahan sesama jenis.

Gereja Episkopal telah mencatat sejarah selama konvensi, dengan memilih uskup pemimpin pertama yang merupakan seorang Afrika-Amerika, Uskup Michael Curry dari North Carolina.

Curry mendukung hak-hak gay, dan menentang amandemen konstitusi North Carolina tahun 2012 yang melarang pernikahan sesama jenis, yang dibatalkan oleh Kejaksaan Agung. Dalam konferensi pers setelah pemilihannya hari Sabtu (27/6) Curry mengatakan Kejaksaan Agung "menegaskan keabsahan cinta" dengan melegalisasi pernikahan gay di seluruh Amerika.

Tunjukkan komentar

XS
SM
MD
LG