Tautan-tautan Akses

Angka Perceraian Melonjak, Generasi Muda China Pertanyakan Arti Pernikahan


Sepasang pengantin menunggu berlangsungnya pernikahan massal di Shanghai. (Foto: Dok)

Sepasang pengantin menunggu berlangsungnya pernikahan massal di Shanghai. (Foto: Dok)

Keputusan untuk menikah di China telah lama menjadi urusan keluarga, dan biasanya orangtua yang memutuskan siapa pasangan anak-anak mereka.

Di sebuah kantor catatan sipil di Beijing, Sun Xiangshu dan Shi Ci berpose untuk difoto, dengan buku nikah di tangan, menandakan bahwa mereka sudah resmi menjadi suami istri.

Namun seperti banyak ikatan di China, pernikahan tersebut juga tidak berlangsung lama. Bahkan pernikahan mereka merupakan bagian dari seni pertunjukan dari seniman yang dikenal sebagai Nut Brother.

Dua orang asing telah dipersatukan untuk menikah dan kemudian bercerai dalam 48 jam untuk memicu debat mengenai arti lembaga pernikahan dalam masyarakat China modern, yang memiliki tingkat perceraian yang tinggi.

"Banyak teman saya yang dipaksa menikah. Pernikahan telah mengambil banyak hal yang tidak seharusnya, bercampur dengan hal-hal seperti seks, properti, merawat orangtua dan stabilitas sosial," ujar Nut Brother.

Keputusan untuk menikah di China telah lama menjadi urusan keluarga, dan biasanya orangtua yang memutuskan siapa pasangan anak-anak mereka.

Dengan sistem kesejahteraan yang tambal sulam dan ekspektasi ajaran Konfusius bahwa generasi muda akan merawat yang tua, isu-isu mengenai kekayaan material seringkali lebih penting dibandingkan kesesuaian ketika anak-anak muda menghadapi tekanan untuk menikah dan menghasilkan generasi berikutnya dari garis keluarga.

Anak-anak muda yang memutuskan bahwa mereka tidak ingin mengambil jalur pernikahan tradisional harus melawan nilai-nilai mapan yang dianut mereka di posisi teratas.

"Seberapa banyak pun waktu berubah, sejauh mana struktur sosial berubah, kita harus menekankan pembangunan keluarga," ujar Presiden Xi Jinping dalam pidato Festival Musim Semi tahun lalu.

Nilai-nilai keluarga China tradisional adalah kunci keselarasan sosial, tambahnya.

Namun ketika kewajiban-kewajiban tradisional keluarga semakin berkonflik dengan aspirasi-aspirasi yang lebih individualistis, tingkat perceraian telah melonjak.

Dari 2011 sampai 2014, periode dengan data terbaru yang tersedia, angka perceraian meningkat 27 persen, dipicu sebagian oleh mereka yang merasa mustahil mempertahankan pernikahan yang mungkin terlihat indah tapi kekurangan cinta yang sesungguhnya.

Ini yang terjadi pada Shi Ci, yang menceraikan istrinya yang dinikahinya selama delapan tahun setelah ia mengetahui bahwa ia dipilih karena bisa membiayainya, bukan karena sang istri mencintainya.

"Ini buruk untuk kami berdua. Perlu saling apresiasi dan cinta untuk merasa memiliki kualitas hidup," ujarnya.

Shi Ci mengatakan saat ini ia tidak ingin menikah lagi. Tapi ia tidak akan mengatakan tidak pernah.

"Sekarang saya rasa yang terpenting itu cinta. Hanya jika saya memiliki cinta maka saya akan mempertimbangkan pernikahan." [hd]

Tunjukkan komentar

XS
SM
MD
LG