Tautan-tautan Akses

Anggota Parlemen Negara Islam Akan Kunjungi Gaza


Poster yang dibawa oleh demonstran di Jakarta baru-baru ini yang memrotes serangan Israel di Jalur Gaza. (VOA/Andylala Waluyo)

Poster yang dibawa oleh demonstran di Jakarta baru-baru ini yang memrotes serangan Israel di Jalur Gaza. (VOA/Andylala Waluyo)

Serikat parlemen negara-negara anggota Organisasi Kerja Sama Islam (OKI) akan datang ke Gaza, memberi dukungan moral dan politik untuk Palestina.

Beberapa anggota Parliamentary Union of the Organization of Islamic Cooperation (PUIC), atau serikat parlemen negara-negara yang tergabung dalam Organisasi Kerja Sama Islam (OKI), akan berkunjung ke Jalur Gaza untuk memberikan dukungan moral dan politik kepada Palestina yang beberapa waktu lalu mendapat serangan militer dari Israel.

Presiden PUIC, ketua Dewan Perwakilan Rakyat Marzuki Alie, mengatakan pada VOA bahwa ia akan berangkat Rabu (28/11) dan kembali pada 5 Desember.

“Sebagai presiden Parlemen OKI, tentu saya harus tunjukkan tanggung jawab yang nyata dalam perjuangan kemerdekaan Palestina ini. Karena salah satu agenda yang sering dibicarakan dalam forum Parlemen OKI itu yaitu persoalan Palestina. Apa yang terjadi sekarang ini harus segera dihentikan. Saya ingin menunjukkan kepada dunia bahwa kita jangan cuma bicara saja,” ujar Marzuki pada Selasa (27/11).

Agenda lain dari PUIC, menurut Marzuki, adalah mendorong Pemerintah Otoritas Palestina agar bersatu, khususnya antara faksi Fatah dengan Hamas. OKI, ujar Marzuki, juga mendorong munculnya solusi perdamaian di wilayah Timur Tengah.

“Menyampaikan himbauan agar faksi-faksi di Palestina bisa bersatu, karena tanpa persatuan tidak mungkin ada pemerintahan. Yang berikutnya adalah menyatukan bangsa-bangsa Arab, karena yang kita tahu bangsa-bangsa Arab susah sekali bersatu. Tetapi dengan terjadinya reformasi di Mesir dan sebagainya, nah ini peta politik tentu agak berbeda,” ujar Marzuki.

“Nah tapi sekali lagi seperti kita tahu, apapun yang terjadi di Timur tengah itu tidak terlepas dari peran dari Amerika Serikat. Makanya Amerika yang punya kapasitas. OKI berharap, Amerika melakukan hal-hal yang lebih konkrit dan tidak diskriminatif dan betul-betul [mencari] solusi untuk perdamaian wilayah Timur Tengah.”

Marzuki mengatakan ia akan terlebih dulu menghadiri pertemuan di Tunisia untuk bertemu dengan pemerintahan baru di sana untuk membangun komunikasi terkait dengan reformasi politik dan dimulainya proses demokrasi di Tunisia.

Setelah dari Tunisia, menurut Marzuki, rombongan perwakilan negara-negara OKI akan ke Mesir, baru setelah itu ke Gaza untuk bertemu dengan otoritas Palestina sekaligus memberikan bantuan kemanusiaan.

Pengamat Geopolitik Timur Tengah dari Universitas Nasional Suryo Ari Bowo kepada VOA mengimbau kunjungan PUIC agar bukan sekedar menjadi pencitraan. Yang harus diprioritaskan, menurut Suryo, adalah membangun lobi ke negara-negara Eropa dan Arab Saudi dalam melakukan kampanye dukungan terhadap Palestina.

“Segala upaya untuk membuat perdamaian terutama di jalur Gaza tidaklah mudah. Harusnya OKI mencoba melalui bangsa Eropa. Kuncinya adalah bagaimana mencabut pemahaman Eropa bahwa Hamas adalah organisasi teroris internasional,” ujarnya.

“Lalu yang kedua, yang harus dilakukan OKI adalah meyakinkan Arab Saudi. Karena kuncinya adalah di sana. Kalau saja Arab Saudi mau sedikit peduli terhadap kebebasan Palestina, maka dengan sendirinya lobi terhadap Amerika Serikat dan dunia barat akan jauh lebih mudah dilakukan dibandingkan harus dilakukan oleh OKI sendiri. Terlebih misalnya Liga Arab pernah minta bantuan kepada Amerika. Jangan sampai kunjungan ke Gaza ini hanya sekedar pencitraan.”
XS
SM
MD
LG