Tautan-tautan Akses

AS

Anggota Kongres AS Kecam Kebijakan Obama di Suriah


Senator Mitch McConnell (tengah), pemimpin mayoritas Senat dari partai Republik berbicara di Gedung Capitol (foto: dok).

Senator Mitch McConnell (tengah), pemimpin mayoritas Senat dari partai Republik berbicara di Gedung Capitol (foto: dok).

Ketika Rusia meluncurkan misil-misilnya di udara menuju Suriah, para pemimpin fraksi Republik di Kongres pekan ini menyampaikan kecaman keras terhadap Presiden Obama.

ISIS, Ebola, dan kini Putin di Suriah. Ketika serangan udara Rusia di Suriah – negara yang tengah dikoyak perang – menjadi berita utama dunia, para pengecam pemerintahan Obama kembali mempertanyakan apakah Presiden Obama terlambat mengambil tindakan dalam konflik di Suriah.

Senator Mitch McConnell, pemimpin mayoritas Senat dari partai Republik mengatakan, “Dari berulangkali menyatakan akan mengambil langkah sepihak untuk mengakhiri perang, untuk mengenyampingkan persenjataan yang ada untuk melakukannya sampai menurunkan tingkat kepercayaan pada banyak organisasi internasional. Kebijakan luar negeri presiden selalu bisa ditebak dan tidak efektif.”

Pemimpin mayoritas Senat Mitch McConnell menambahkan kekuatan-kekuatan seperti Rusia, China, dan Iran berupaya memanfaatkan sikap lemah Amerika guna meraih hegemoni dan memperbesar pengaruh mereka di kawasan.

Presiden Obama membalas kecaman itu dengan mengatakan orang berusaha mencari “jawaban yang mudah dan beresiko kecil” terhadap “masalah sangat besar yang rumit”. Ia mengutip pelajaran dari perang Amerika di Afghanistan dan Irak.

“Kalau saya membuat keputusan tentang tingkat keterlibatan militer di Suriah, saya harus membuat keputusan bahwa kalau kita memulai sesuatu, kita harus menyelesaikannya,” kata Obama.

Menurut Stephen Wayne – pakar di Georgetown University, ini merupakan tipe klasik Presiden Obama sebagai pengambil keputusan berdasarkan informasi dan rasio, serta selalu memikirkan segalanya dengan hati-hati.

“Jadi ia bisa keliru karena terlalu berhati-hati. Hati-hati berarti melakukan sesuatu secara lambat dibanding cepat. Ini adalah sifat Presiden Obama,” ujar Wayne.

Wayne menambahkan meskipun kondisi di Timur Tengah sekarang lebih buruk dibanding ketika Presiden Obama pertama kali berkuasa, ia tidak bisa dipersalahkan karena dianggap tidak bertindak cepat terutama di Suriah.

“Dalam demokrasi, kita tidak bisa bertindak tanpa dukungan publik yang luas. Obama tidak mendapat dukungan publik. Ia menyampaikan pernyataan tentang penggunaan senjata kimia di Suriah dan bahwa Amerika akan membom Suriah. Tetapi kemudian ia melihat hasil jajak pendapat yang memperlihatkan bahwa ia tidak memperoleh dukungan militer,” tambahnya.

Profesor Matthew Dallek di Universitas George Washington melihat kesamaan sikap Presiden Obama dengan mantan presiden Bill Clinton yang dikecam karena tidak bertindak cepat dan tegas guna mengakhiri kekejaman Serbia di Kosovo pada akhir tahun 1990an.

“Serangan militer dari udara di Kosovo itu dinilai sukses, meskipun selama beberapa tahun para pengecamnya mengatakan Clinton hanya melakukan sedikit upaya dan malahan absen dalam krisis Kosovo,” kata Dallek.

Apakah krisis itu mengenai penularan Ebola di Afrika Barat atau militan ISIS di Timur Tengah, para analis mengatakan pada akhirnya tanggapan Presiden Obama terhadap suatu krisis didorong oleh beragam faktor, baik itu liputan media, dukungan publik untuk mengambil tindakan atau sekedar seberapa penting isu itu bagi presiden sebagai panglima tertinggi. [em/ii]

Tunjukkan komentar

XS
SM
MD
LG