Tautan-tautan Akses

Analisis Gempa Bumi Mentawai Menurut Pakar

  • R.Teja Wulan

Peta Lokasi Pusat Gempa di Mentawai (Courtesy BMKG)

Gempa bumi yang terjadi di Mentawai, Sumatera Barat, Rabu (2/3) kemarin cukup membuat masyarakat panik. Dengan kekuatan 7,8 Skala Richter (SR), sumber gempa di bawah laut, sehingga berpotensi tsunami. Namun peringatan tersebut dicabut karena pusatnya jauh daratan dan kedalamannya yang kecil.

Pakar gempa bumi dari ITB, Irwan Meilano mengatakan, peristiwa gempa bumi di Mentawai pada Rabu (2/3) lalu tersebut merupakan peristiwa yang menarik dan penting bagi keilmuan. Pasalnya, gempa tersebut terjadi bukan di daerah batas lempeng seperti di zona Nias, zona Mentawai, zona Aceh, dan zona Bengkulu, tapi gempa terjadi di bagian luar lempeng, yaitu di bawah laut, kira-kira 600 kilometer dari Mentawai. Gempa seperti ini disebut penting karena jarang terjadi. Terakhir, gempa dengan karakteristik seperti ini pernah terjadi pada April 2012. Gempa tersebut memiliki karakteristik menggeser secara mendatar, sehingga potensinya kecil untuk menghasilkan tsunami. Irwan mengatakan, kalaupun gempa tersebut sampai menyebabkan tsunami, maka tsunami yang terjadi tidak akan tinggi. Menurut Irwan, gempa di Mentawai Rabu lalu tidak ada kaitannya dengan peristiwa gempa di Aceh, Nias, dan Bengkulu beberapa tahun silam. Tapi gempa itu berkaitan dengan peristiwa-peristiwa gempa di Samudera Hindia, seperti gempa pada April 2012.

“Yang menarik bagi para pakar dan harus dipelajari dengan baik secara keilmuan karena gempa ini terjadi bukan di batas lempeng seperti yang biasa kita ketahui, tetapi di dalam lempeng dan lempengnya lempeng lautan, lempeng oceanic. Lempeng lautan yang kita menyangka lebih tipis, tidak setebal yang kontinen. Jadi kalaupun terjadi gempa tidak akan terlalu besar. Namun gempa yang kemarin justru berkekuatan cukup besar yaitu 7,8 SR. Untuk sebuah gempa dengan karakteristik geser mendatar, (7,8 SR) itu cukup besar,” demikian pernyataan Dr. Irwan Meilano, Pakar Gempa Bumi ITB.

Irwan menambahkan, gempa tersebut bisa berkekuatan besar karena ketika lempeng bergerak, di dalam lempeng tersebut pergerakannya berbeda.

“Ini terjadi karena ketika lempeng bergerak, ternyata walaupun satu lempeng tapi geraknya nggak bareng. Pergerakan yang berbeda dalam satu lempeng itulah yang memungkinkan terjadinya akumulasi energi dan akhirnya menghasilkan gempa,” ujar Dr. Irwan Meilano.

Menurut Irwan, gempa kemarin terjadi di lempeng Samudera Oceanic dan terjadi di antara daerah transisi lempeng Oceanic dari India dan lempeng lautan Indo-Australia. Karena berada di daerah transisi lempeng, maka gerakannya tidak bersamaan. Meski langka atau jarang terjadi, ternyata gempa seperti ini berpotensi terjadi di Indonesia. Irwan memperkirakan, dalam beberapa minggu ke depan masih akan terjadi gempa susulan namun dengan kekuatan yang terus mengecil dan tidak berpotensi tsunami. Dengan kecilnya potensi tsunami, maka masyarakat sudah bisa melakukan aktivitas kembali seperti biasa.

XS
SM
MD
LG