Tautan-tautan Akses

Analis: Gencatan Senjata di Sudan Selatan Lebih Penting dari Solusi Politik

  • Mohammed Yusuf

Dalam foto tertanggal 1/1/2014 ini warga Sudan Selatan tampak harus mengungsi dari wilayah Bor tempat pecahnya pertempuran antara pihak pemerintah dan pemberontak di Sudan Selatan.

Dalam foto tertanggal 1/1/2014 ini warga Sudan Selatan tampak harus mengungsi dari wilayah Bor tempat pecahnya pertempuran antara pihak pemerintah dan pemberontak di Sudan Selatan.

Pihak pemerintah Sudan Selatan dan pemberontak telah memulai perundingan yang bertujuan mengakhiri kekerasan yang sudah berlangsung hampir tiga minggu. Analis menekankan saat ini penghentian segera pertikaian lebih utama bagi rakyat Sudan Selatan dibandingkan penyelesaian politik.

Perwakilan-perwakilan dari pemerintah Sudan Selatan dan pemberontak telah bertemu secara terpisah di Addis Ababa dimana para mediator berusaha mencapai kesepakatan gencatan senjata. Jumat sore, kedua delegasi tidak bertemu tatap muka.

Jok Madut Jok dari Sudd Institute, lembaga penelitian independen di Sudan Selatan, mengatakan penghentian segera pertikaian lebih utama bagi rakyat Sudan Selatan saat ini dibandingkan penyelesaian politik.

Yang kini dinantikan dan diharapkan di Sudan Selatan adalah faksi-faksi, dari partai-partai yang bertikai, dapat segera melakukan gencatan senjata. Itu benar-benar mendesak karena rakyat sangat putus asa menghadapi situasi sekarang ini,” demikian ungkap Jok.

PBB memperkirakan lebih dari seribu orang tewas dan kira-kira 200 ribu orang harus mengungsi dari rumah mereka akibat pertikaian yang sedang berlangsung di Sudan Selatan.

Jauh dari lokasi perundingan, pertempuran terus berlanjut, dimana bentrokan militer dilaporkan terjadi di sekitar kota Bor yang dikuasai pemberontak, di negarabagian Jonglei, dan di ibukota Unity State, Bentiu.

Pekan lalu, Blok Afrika Timur - IGAD menghimbau kedua belah pihak dalam konflik itu untuk memanfaatkan "kesempatan sekecil apapun" untuk memulai perundingan damai.

Kelima negara IGAD juga memperingatkan para pemberontak yang dipimpin oleh mantan wakil presiden Riek Machar bahwa IGAD tidak akan menerima "penggulingan yang tidak konstitusional" terhadap pemerintah Sudan Selatan.

Jok mengatakan mediator regional akan berada dalam situasi yang sulit ketika mereka berusaha mengakhiri konflik.

Kelompok Afrika Timur, IGAD - di satu sisi, ingin mengirim sinyal ke Sudan Selatan dan negara-negara lain di wilayah itu bahwa penggunaan kekerasan sebagai jalan untuk mencapai tujuan kekuatan politik harus sedapat mungkin dihindarkan. Karenanya mereka mungkin berusaha mengecam tindakan mantan wakil presiden itu, tetapi dengan berbuat demikian resikonya adalah mendorong situasi ke perang saudara,” tambah Jok.

Pertumpahan darah di negara terbaru di dunia itu meletus ketika tentara pemberontak menyerang sebuah markas pasukan Sudan Selatan tanggal 15 Desember. Presiden Kiir menuduh mantan wakil presiden Machar berusaha melakukan kudeta.

Kekerasan memecah negara itu berdasarkan etnis, pendukung Presiden Kiir, anggota dari suku Dinka, dan pendukung Machar, dari suku Nuer, keduanya saling bertikai.

Sementara itu, Kedutaan Besar Amerika di Juba telah memerintahkan evakuasi para staf lebih banyak lagi karena "memburuknya situasi keamanan" di Sudan Selatan.

Pernyataan kedutaan menghimbau semua warga Amerika untuk keluar dan Departemen Luar Negeri Amerika berjanji akan mengatur penerbangan evakuasi hari Jumat.
XS
SM
MD
LG