Tautan-tautan Akses

Analis: Perang Kedua Mungkin Dibutuhkan untuk Hancurkan ISIS


Foto dari kamera video senjata api yang diambil pada 4 Juli 2015 dan dirilis oleh United States Central Command menunjukkan serangan udara dekat kota yang dikuasai ISIS, Raqqa, Suriah.

Foto dari kamera video senjata api yang diambil pada 4 Juli 2015 dan dirilis oleh United States Central Command menunjukkan serangan udara dekat kota yang dikuasai ISIS, Raqqa, Suriah.

Ada keprihatinan semakin besar di kalangan pejabat Amerika bahwa perlu lebih dari satu perang untuk mengalahkan dan menghancurkan ISIS.

Banyak pihak optimis dengan strategi Amerika untuk memberdayakan pasukan setempat dan mendukung mereka dengan serangan udara dan bantuan lain. Pejabat militer mengingatkan bahwa militan ISIS kehilangan wilayah di Irak dan Suriah sejak Mei 2015.

Tetapi sementara taktik-taktik seperti itu bisa menggerogoti daerah kekuasaan yang mereka nyatakan sebagai kalifah itu, dan juga kekuatan pasukan konvensional, beberapa pihak mengatakan, sebuah perang kedua yang lebih kompleks dibutuhkan untuk menghancurkan ISIS sebagai kelompok teroris.

"Kita saksikan jumlah orang yang melakukan operasi eksternal bertambah," kata pejabat Amerika yang tidak mau disebutkan namanya, dan ditambahkan, ada pergeseran yang menyolok dalam jajaran ISIS.

Mereka tidak sekedar mengilhami penyelenggaraan serangan teror di Barat, tetapi ISIS bermasuk merencanakan serangan dengan penekanan lebih besar pada unsur-unsur komando dan kendali, kata pejabat itu.

Saat ini keprihatinan cukup besar di pihak ISIS, bahwa perencana operasi eksternal mereka semakin gencar disasarkan oleh serangan udara Amerika dan koalisi di Irak dan Suriah.

Menurut Komando Pusat Amerika, 5 dari ke 10 pemimpin ISIS yang tewas dalam serangan udara Desember berperan dalam merencanakan serangan teror di luar Irak dan Suriah. Dua dari mereka, Abdul Kadir Hakim dan Charaf al Mouadan, punya kaitan dengan serangan teror di Paris pada November yang menewaskan 130 orang.

Beberapa pejabat dan analis mengatakan, pergeseran ke fokus keluar kemungkinan dimulai setelah kelompok militan itu sukses dalam merebut teritori di Irak dan Suriah, sehingga mereka memiliki lebih banyak sumber daya untuk merencanakan serangan di Barat.

Pihak lain menilai ini merupakan tanggapan atas kerugian yang diderita ISIS di lapangan.

ISIS juga memanfaatkan sebuah pendekatan komando dan kendali yang lebih longgar untuk keuntungannya, seperti misalnya di Paris, di mana ISIS memanfaatkan anggota asingnya membantu menyusun persekongkolan dan mempergunakan orang-orang yang sudah teradikalisasi.

"Kekalahan ISIS secara militer akan tiba," kata Kolonel Warren dari Operasi Inherent Resolve. "Namun mengalahkan ideology mereka akan membutuhkan rekonsiliasi politik di Irak dan pengakhiran perang saudara di Suriah." [jm]

Tunjukkan komentar

XS
SM
MD
LG