Tautan-tautan Akses

AS

Analis: Pembelaan Trump untuk Rusia, di Luar Kebiasaan AS


Presiden terpilih Amerika Donald Trump memberikan keterangan kepada wartawan di Mar-a-Lago, Palm Beach, Florida..

Presiden terpilih Amerika Donald Trump memberikan keterangan kepada wartawan di Mar-a-Lago, Palm Beach, Florida..

Presiden terpilih Amerika Donald Trump terus meragukan kesimpulan intelijen Amerika bahwa Rusia ikut campur dalam pemilihan presiden Amerika.

Amerika pekan lalu menerapkan sanksi baru terhadap Rusia setelah menetapkan bahwa negara itu meretas komputer Partai Demokrat. Tetapi sebagian anggota terkemuka Partai Republik menuntut sanksi yang lebih berat terhadap Rusia atas apa yang mereka sebut "serangan kurang ajar terhadap demokrasi Amerika."

Komisi Hubungan Luar Negeri dan Angkatan Bersenjata Senat bertemu hari Kamis (5/1) untuk mendengar kesaksian mengenai masalah itu.

Komisi Angkatan Bersenjata diketuai oleh tokoh Partai Republik John McCain. Hari Rabu (4/1) McCain mengatakan, jelas bahwa Rusia berada dibalik peretasan itu dan harus menanggung akibatnya. Ia menyebutnya "aksi perang" oleh Rusia.

Sementara itu, Trump terus menerus memuji Presiden Rusia Vladimir Putin, yang tidak membalas pengusiran diplomat Rusia dari Amerika oleh pemerintah Obama. Dalam tweet hari Rabu, Trump menegaskan, siapa saja bisa meretas sistem komputer Partai Demokrat dan bahwa saingannya, kampanye Hillary Clinton, seharusnya lebih berhati-hati.


Brian Katulis, pakar keamanan nasional, mengatakan pembelaan Trump yang gigih terhadap Rusia dan Putin membuat presiden-terpilih itu keluar dari garis umum yang ditekuni Amerika selama ini.

"Fraksi Republik di Kongres menyerukan penyidikan khusus atas kegiatan Rusia, melampaui apa yang diminta Presiden Obama supaya dilakukan badan-badan intelijen. Dan menurut saya, jika kita melihat hasil jajak pendapat di kalangan orang Amerika umumnya, ada keprihatinan mendalam terhadap kemungkinan peran dan keterlibatan Rusia dalam berbagai proses pemilihan kita. Jadi, pada intinya, Presiden terpilih Trump telah menempatkan diri di luar arus utama negara yang akan ia pimpin mengenai isu Rusia, dan di luar tradisi kebijakan luar negeri Amerika yang bipartisan yang melihat Rusia dengan tingkat skeptis tertentu," jelasnya.

Senator Arizona John McCain, yang pernah gagal mencalonkan diri sebagai presiden, tidak ragu-ragu mengecam Rusia. "Di Kongres kami akan mengupayakan sanksi yang lebih keras guna mencegah serangan lebih lanjut terhadap Amerika. Dan kami akan bekerja atas dasar bipartisan untuk mencapai itu."

McCain dan rekannya, Senator Lindsey Graham, menegaskan pesan tersebut ketika berkunjung ke beberapa negara pecahan Uni Soviet dalam seminggu terakhir. McCain juga menunjukkan bahwa Kongres siap menentang Trump mengenai masalah itu.

"Kami ingin bekerjasama dengan presiden yang akan menjabat, tetapi kami juga bertanggungjawab sebagai anggota Kongres untuk merespon serangan terhadap Amerika," kata John McCain.

Trump memilih pengusaha minyak Texas yang memiliki hubungan dekat dengan Putin sebagai menteri luar negeri. Belum jelas apakah para senator akan mendukung pilihan itu ditengah hubungan yang memburuk dengan Rusia.(ka/ii)

XS
SM
MD
LG