Tautan-tautan Akses

Analis: 'Bom H' Mungkin Rugikan Korut


Penjaga keamanan berjaga-jaga di pintu masuk kedutaan besar Korea Utara di Beijing, 6 Januari 2016. Korea Utara mengatakan berhasil melakukan uji coba bom hydrogen pertamanya.

Penjaga keamanan berjaga-jaga di pintu masuk kedutaan besar Korea Utara di Beijing, 6 Januari 2016. Korea Utara mengatakan berhasil melakukan uji coba bom hydrogen pertamanya.

Keputusan Korea Utara untuk menguji-coba apa yang disebutnya bom hidrogen pertamanya, memicu kecaman internasional dan tampaknya akan mengarah pada sanksi-sanksi yang lebih ketat, sementara keprihatinan meluas ke China.

Para analis mengatakan, percobaan itu menggarisbawahi keputusasaan pemimpin generasi ketiga Korea Utara, Kim Jung Un dan bagaimana ia kini kehabisan pilihan.

Kim yang hari ini berulang tahun ke 33, menjadi pemimpin negara yang terisolasi itu akhir tahun 2011.

Meski demikian pemimpin muda itu tampaknya belum bisa menikmati tingkat kekuasaan seperti ayah dan kakeknya, kata Ding Xueliang professor ilmu sosial di Hong Kong University of Science & Technology yang baru-baru ini melakukan perjalanan riset ke Yanbian, daerah perbatasan antara China dan Korea Utara.

Mengutip perkiraan ilmuan lain di Yanbian yang memantau secara teratur pembangunan di Korea Utara, professor Ding Xueliang mengatakan Kim sekarang makin diuji karena Korea Utara dilanda kemarau dan mengalami kelangkaan pangan besar sampai 20-25 % yang mendorong rakyat yang sudah kelaparan kebawah garis hidup.

Ding menduga kesulitan ekonomi itu mungkin memotivasi Kim untuk melakukan tindakan yang provokatif untuk, memperkuat kekuasaannya di dalam negeri dan meningkatkan kemampuan berundingnya dengan China dan Korea Selatan.

Ding berpendapat, menurut pandangan Kim, pendahulunya sukses dalam sejumlah upaya menggunakan strategi yang menyerempet bahaya. Jadi Korea Utara tampaknya akan berunding dengan China untuk meningkatkan pasokan energi, pangan serta bantuan mesin dan keuangan, di mana hal yang terakhir, paling diperlukan Kim untuk mengadakan kongres partai yang mewah bulan Mei mendatang.

Tapi Shi Yinhong, professor hubungan internasional pada Renmin University of China di Beijing tidak sepakat. Ia mengatakan ancaman semacam itu hanya akan menjadi boomerang bagi Korea Utara.

Shi mengatakan tidak peduli berhadapan dengan China atau Amerika, Korea Utara tahu pasti bahwa aksi provokasi seperti itu hanya akan mengarah pada sikap yang lebih keras dari pemerintah Amerika.

Shi memperkirakan DK PBB akan memberi putaran sanksi keras lainnya terhadap Korea Utara dimana China tidak punya alasan selain menyetujuinya.

Mengenai apakah China akan memberlakukan putaran lain sanksi-sanksi sepihak sebagaimana dilakukan pada 6 bulan pertama tahun 2013 dengan menghentikan pasokan energy ke Korea Utara selama tujuh bulan, terlalu dini untuk disimpulkan, kata professor Shi.

Ding mengatakan akan lebih penting lagi bagi China untuk memutuskan hubungan finansial. Profesor yang berbasis di Hong Kong itu mengatakan China sekarang bisa menghentikan lebih banyak, bantuan keuangan yang akan menjadi pukulan langsung pada pimpinan Korea Utara. Ia menambahkan China dapat bergabung dengan Korea Selatan untuk mengupayakan sanksi bersama karena terlalu sensitif bagi China untuk bergabung dengan negara-negara barat dan Jepang. [my/al]

XS
SM
MD
LG