Tautan-tautan Akses

AS

Analis: Bank Sentral AS Mungkin Tunda Kenaikan Suku Bunga


Gubernur Bank Sentral AS Janet Yellen (Foto: dok.)

Gubernur Bank Sentral AS Janet Yellen (Foto: dok.)

Bank sentral Amerika kemungkinan tidak akan menaikkan suku bunga saat ini dan diperkirakan untuk sementara waktu menunda kenaikan suku bunga.

Ini merupakan temuan dari hasil survei para ekonom oleh jaringan stasiun TV berita keuangan CNBC. Komite pengatur suku bunga Bank Sentral Amerika berkumpul di Washington dalam pertemuan mereka yang dijadwalkan secara rutin pada hari Selasa (26/1), dan akan melaporkan keputusan mereka Rabu sore.

Banyak ekonom mengatakan kepada CNBC bahwa lemahnya ekonomi global, serta kejatuhan dan ketidak-stabilan dalam pasar saham dan harga minyak, dapat diartikan para pejabat Bank Sentral Amerika mungkin akan menunda kenaikan suku bunga berikutnya hingga bulan Mei.

Bank Sentral Amerika menaikkan sedikit suku bunga dari rekor terendah pada akhir tahun lalu dan diperkirakan akan terus menaikkan suku bunga, secara bertahap dalam waktu setahun ke depan.

Suku bunga rendah cenderung merangsang pertumbuhan ekonomi, tetapi juga dapat memicu inflasi yang merusak dan masalah serius lainnya jika terlalu lama bertahan pada tingkat yang sangat rendah.

Tingkat patokan suku bunga utama Amerika telah dikurangi hingga mendekati nol selama krisis keuangan untuk meningkatkan pertumbuhan ekonomi dan lapangan kerja. Sejak itu, ekonomi tumbuh kembali, dan tingkat pengangguran telah berkurang dengan separuhnya.

Pasar kerja membaik dan rendahnya harga bensin telah membangkitkan kepercayaan konsumen, menurut studi kepercayaan konsumen oleh Conference Board dan Consumer Technology Association. Analis di Wells Fargo Bank mengatakan kondisi bisnis membaik berarti konsumen "tidak mengindahkan" kekacauan pasar saham baru-baru ini.

Ekonom mengamati perilaku konsumen secara cermat karena permintaan konsumen mendorong dua-pertiga dari semua aktivitas ekonomi Amerika.

Turun naiknya pasar dan meningkatnya kepercayaan konsumen terkait dengan turunnya harga minyak. Sebuah studi Bank Dunia yang diterbitkan hari Selasa menurunkan perkiraan harga minyak untuk tahun ini dari $ 51 per barel menjadi $ 37, lebih tinggi dibanding harga saat ini.

Para pakar di Bank Dunia mengatakan harga minyak akan tetap pada tingkat yang relatif rendah untuk sementara waktu, tapi mungkin akan meningkat paling tidak sedikit dari posisi terendah di pasar baru-baru ini. Para pakar di Bank Dunia mengatakan harga yang rendah memaksa beberapa produsen berbiaya tinggi untuk berhenti memompa minyak. Pada saat bersamaan, mereka mengharapkan pemulihan pertumbuhan ekonomi untuk meningkatkan permintaan energi. Kedua faktor itu akan mendorong pasokan minyak sesuai dengan permintaan, yang akan mengakibatkan harga minyak naik sedikit. [zb/ii]

XS
SM
MD
LG