Tautan-tautan Akses

Anak-anak Bermain Musik, Bangun Rasa Percaya Diri

  • Lea Johannes

Penampilan anak-anak anggota kelompok ‘The Blue Hill Boys and Girls Club’ pada peluncuran CD 'Because of You.'

Penampilan anak-anak anggota kelompok ‘The Blue Hill Boys and Girls Club’ pada peluncuran CD 'Because of You.'

Seorang guru musik di Boston membentuk klub yang mengajak anak-anak bermain musik, sekaligus meningkatkan rasa percaya diri mereka.

Saat Rick Aggeler menyelesaikan pendidikan di Berklee College of Music yang tersohor pada tahun 1997, ia mempunyai dua pilihan karir, sebagai pemain drum profesional atau seorang guru musik. Ia memilih berprofesi sebagai guru musik dengan sebuah misi.

Musik itu ajaib, itulah yang dirasakan oleh Rick Aggeler, musisi berusia 25 tahun ini. “Musik membuat saya merasa tidak ada yang mustahil,” ujar Aggeler.

Betapa tidak. Saat Aggeler berumur tujuh tahun, ia harus menjalani operasi otak. Setelah operasi, ia tidak dapat melakukan kegiatan olah raga karena kondisi kesehatannya. Sebagai gantinya, ibunya menyarankan Aggeler untuk bermain drum.

Aggeler mulai bermain drum dengan guru SD-nya, Ronit Glick. Melalui musik inilah, Aggeler mendapatkan semangat hidupnya kembali.

Akeylah Hunter di depan keyboard sedang melakukan cek suara sebelum rekaman.

Akeylah Hunter di depan keyboard sedang melakukan cek suara sebelum rekaman.

Bertahun-tahun kemudian, kecintaannya bermain musik membawa Aggeler ke Boston, untuk menempuh pendidikan di Berklee College of Music. Sebagai mahasiswa baru, ia bekerja sukarela sebagai guru musik pada pusat kegiatan remaja setempat . Di sana, ia membentuk sebuah kelompok musik kecil, kemudian menjabat sebagai direktur pusat tersebut. Ia melihat pertumbuhan pesat kelompok kecil itu menjadi program yang besar. Klub Musik, "The Blue Hill Boys and Girls Club" kini menawarkan kesempatan untuk belajar dan bermain berbagai alat musik, tidak hanya drum.

Melihat energi anak-anak yang senang belajar dan bermain musik membuat Aggeler teringat dengan jasa gurunya, Ibu Glick. Ia mengatakan, klub musik ini telah menjadi tempat bernaung anak-anak usai sekolah atau selama libur musim panas. Mereka belajar memainkan alat musik, mengadakan pertunjukan band, bahkan merekam lagu ciptaan mereka sendiri di studio klub tersebut. Salah satunya adalah yang berjudul, "Super Hero," yang diambil dari album kedua klub tersebut.

Javon Martin (14 tahun), atau nama panggungnya, "Young Fresh," bergabung dengan klub musik ini tiga tahun lalu.

Young Fresh sedang merekam lagu ciptaannya di studio.

Young Fresh sedang merekam lagu ciptaannya di studio.

“Ini membawa perubahan besar dalam hidup saya, karena sebelumnya saya tidak terpikir untuk melakukan hal ini. Kini kami mengadakan pertunjukan, semua orang ingin mewanwancara kami, lagu kami ada di radio dan orang mulai memandang saya sebagai seorang musisi,” tutur Young Fresh.

Kini di usianya yang ketiga, klub musik ini beranggotakan 500 anak. Aggeler mengatakan, melakukan pertunjukan di depan berbagai penonton akan membangun percaya diri musisi muda tersebut. Menyiapkan pertunjukan juga dapat menolong mereka belajar mengatasi masalah pribadi.

“Saya melihat klub ini dapat membangun rasa percaya diri. Hal ini merupakan jalan keluar dari permasalahan yang ada di lingkungan, seperti geng atau masalah keluarga," ungkap Aggeler.

Untuk mengembangkan klub musik dan menolong lebih banyak anak dalam mempelajari musik, Aggeler mencari bantuan dari masyarakat melalui kerjasama dengan Berklee College of Music dan toko musik setempat. Bantuan tersebut datang berupa alat musik, alat rekaman, komputer dan piranti lunak.

XS
SM
MD
LG