Tautan-tautan Akses

Amerika dan Uni Eropa Serukan Ketenangan di Albania

  • Steafan Bos
  • Sri Purwati

Para demonstran melemparkan batu ke arah polisi di Tirana, Albania, Jumat (21/1).

Para demonstran melemparkan batu ke arah polisi di Tirana, Albania, Jumat (21/1).

Amerika dan Uni Eropa termasuk dalam negara-negara yang menyerukan ketenangan di Albania, setelah sedikitnya tiga orang tewas dan puluhan lainnya luka-luka dalam aksi unjuk rasa anti-pemerintah di ibukota Albania, Tirana.

Amerika dan Uni Eropa termasuk dalam negara-negara yang menyerukan ketenangan di Albania, setelah sedikitnya tiga orang tewas dan puluhan lainnya luka-luka dalam aksi unjuk rasa anti-pemerintah di ibukota Albania, Tirana.

Perdana Menteri Albania Sali Berisha mengatakan ia tidak akan membiarkan adanya semacam penggulingan pemerintah, seperti yang terjadi di Tunisia, tetapi pihak oposisi telah berjanji akan mengadakan demonstrasi lagi.

Perwakilan-perwakilan diplomatik Albania di Uni Eropa, Amerika dan Organisasi Keamanan dan Kerjasama Eropa, dalam penyataan bersama mengatakan bahwa mereka sangat menyesalkan jatuhnya korban dalam aksi unjuk rasa anti pemerintah pada hari Jumat. Mereka juga menyerukan dicapainya kompromi. Tetapi ini tampaknya sulit dicapai.

Para pendukung golongan sosialis yang beroposisi menuduh pemerintah melakukan ketidak beresan dalam keuangan dan melakukan kecurangan dalam pemilu tahun 2009. Ketegangan lebih lanjut semakin meningkat pekan ini ketika Wakil Perdana Menteri Albania Ilir Meta mengundurkan diri ditengah-tengah tuduhan terlibat skandal korupsi.

Perdana Menteri Albania Sali Berisha menuduh lawan-lawannya berusaha menimbulkan pergolakan gaya Tunisia, yang merujuk pada penggulingan berdarah terhadap Presiden Tunisia di mana sejumlah orang tewas. Perdana Menteri Berisha mengatakan Albania tidak akan mengalami “keadaan darurat” seperti di Tunisia. Ia mengatakan kepada rakyat Albania dalam pidatonya melalui televisi, bahwa “skenario kekerasan tidak akan dapat diterima”.

Tetapi, mereka yang menyaksikan demonstrasi tersebut menggambarkannya sebagai tindak kekerasan paling buruk yang terjadi di negara Balkan ini dalam lebih dari sepuluh tahun belakangan.

Rekaman video unjuk rasa dari hari Jumat menunjukkan tembakan-tembakan dilepaskan ketika pasukan keamanan berusaha memukul mundur kira-kira 20.000 orang demonstran.

Para pengunjuk rasa meneriakkan kata-kata seperti “keluar, keluar”, sementara mereka berkumpul di luar kantor Perdana Menteri Berisha yang konservatif, di Tirana. Para demonstran yang lain membawa bendera Albania berwarna merah dan hitam.

Ketegangan mereda di jalan-jalan Tirana. Tetapi pemimpin Partai Sosialis, Walikota Tirana Edi Rama mengatakan, pihak oposisi akan mengadakan unjuk rasa dengan lebih banyak demonstran setelah sehari berkabung bagi mereka yang tewas. Walikota Rama menjelaskan ia tidak ingin menunggu sampai pemilu yang dijadwalkan akan diadakan tahun 2013. Katanya, pihak oposisi tidak akan menerima apa yang disebutnya "rezim pencuri," yang tidak bisa diterima sebagai penguasa negara termiskin di Eropa ini.

Ketegangan telah menimbulkan keprihatinan internasional atas demokrasi di Albania. Uni Eropa menolak permintaan Albania untuk menjadi calon resmi anggota organisasi tersebut, dengan mengatakan, Albania harus pertama-tama memberantas korupsi dan menegakkan demokrasi di negaranya.

XS
SM
MD
LG