Tautan-tautan Akses

Alat Baru untuk Prediksi Risiko Kebakaran Hutan Diluncurkan


Kebakaran hutan terlihat dari helikopter Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) di Pelalawan, Riau (10/6).

Kebakaran hutan terlihat dari helikopter Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) di Pelalawan, Riau (10/6).

Peta Risiko Kebakaran menghitung risiko-risiko terjadinya dan menyebarnya kebakaran, menggunakan data satelit terbaru mengenai suhu, kelembaban dan curah hujan di wilayah ini.

Sebuah peta yang menggunakan teknologi satelit untuk memperingatkan akan risiko-risiko kebakaran hutan bertujuan membantu pemerintah-pemerintah Asia Tenggara menggalang sumber-sumber daya mereka dengan lebih baik untuk memberantas api dan kabut asap yang menyelimuti wilayah ini setiap tahun.

Hal itu dikemukakan seorang ahli kebakaran hutan hari Selasa (12/7).

Pembukaan lahan dengan pembakaran, sebagian besar untuk tanaman kelapa sawit, telah menyebabkan kabut asap yang menyesakkan napas di Singapura, Malaysia dan Indonesia bagian utara selama berbulan-bulan tahun lalu.

Diperbarui setiap hari, Peta Risiko Kebakaran mengkalkulasi risiko-risiko terjadinya dan menyebarnya kebakaran, menggunakan data satelit terbaru mengenai suhu, kelembaban dan curah hujan di wilayah ini. Kondisi-kondisi yang lebih kering mengindikasikan risiko-risiko yang lebih tinggi terjadinya dan menyebarnya api.

"Kami mengharapkan Peta Risiko Kebakaran ini akan membantu para pejabat pemerintah dan pengelola lahan di perusahaan untuk lebih proaktif mengenai kebakaran," ujar Susan Minnemeyer, ahli kebakaran hutan di Global Forest Watch, kepada Yayasan Thomson Reuters.

Lembaga nirlaba di Washington itu mengembangkan alat tersebut dengan kelompok lingkungan hidup Conservation International.

Kedua lembaga ini mengatakan meski sebagian besar kebakaran di Indonesia dimulai oleh warga lokal untuk membuka lahan, tingkat kekeringan lahan dapat mengindikasikan seberapa mudah api tersulut dan apakah api dapat membesar tanpa dapat dikontrol.

Alat tersebut akan memberikan petugas, perusahaan dan komunitas lokal peluang untuk mengambil tindakan sebelum kebakaran terjadi, misalnya dengan menampung air untuk memadamkan api dan menempatkan sumber-sumber daya di tempat-tempat di mana api kemungkinan menyebar.

Kebakaran-kebakaran hutan tahun lalu, terutama di Indonesia, merupakan yang terburuk yang pernah tercatat, memaksa penerbangan batal, sekolah-sekolah ditutup dan ribuan orang sakit di seluruh wilayah.

Minnemeyer mengatakan, meskipun Indonesia memasuki musim kemarau yang berisiko tinggi, ketika kebakaran biasanya memuncak, musim kemarau ini diperkirakan akan lebih pendek tahun ini karena peluang tinggi terjadinya pola cuaca La Nina. [hd]

XS
SM
MD
LG