Tautan-tautan Akses

Aktivitas Gunung Anak Krakatau Meningkat, Tapi Tak Ada Ancaman Tsunami

  • Budi Nahaba

Anak Krakatau mengepulkan debu vulkanik di Selat Sunda (foto: dok). Gunung berapi ini kembali menunjukkan aktivitas yang meningkat belakangan ini.

Anak Krakatau mengepulkan debu vulkanik di Selat Sunda (foto: dok). Gunung berapi ini kembali menunjukkan aktivitas yang meningkat belakangan ini.

BNPB mengimbau masyarakat tetap tenang, terutama warga yang berada di kawasan pantai utara Provinsi Banten dan kawasan timur laut Provinsi Lampung.

Kepala Pusat Data Informasi dan Humas BNPB Sutopo Purwo Nugroho di Jakarta, Selasa, (4/10) mengatakan Gunung Anak Krakatau telah dinaikan statusnya Jumat (30/9) lalu dari status Waspada menjadi Siaga atau Level III. Sutopo mengatakan bahwa berdasarkan pengamatan yang dilakukan petugas Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG), telah terjadi intensitas gempa yang cukup tinggi .

"Dalam sehari terjadi 5.000 kejadian gempa vulkanik dangkal dan dalam," ujar Sutopo. "Demikian juga dengan asap yang berwarna kelabu gelap dan kami mencium bau belerang yang menunjukkan bahwa aktivitas Anak Krakatau memang cukup intensif.”

Sutopo Purwo Nugroho menambahkan bahwa bersama otoritas pemerintah daerah setempat, pihaknya telah menetapkan agar masyarakat tidak beraktivitas pada radius sekitar dua kilometer dari kawasan Anak Krakatau.

“Dalam hal ini, maka radius dua kilometer dari puncak Gunung Anak Krakatau ditetapkan menjadi daerah yang berbahaya," tutur Sutopo, "sehingga tidak diperbolehkan ada aktivitas di sana."

Petugas pemerintah mencatat gempa dengan intensitas yang cukup tinggi di sekitar kawasan Gunung Anak Krakatau sementara ini hanya berkisar 1,0 hingga 2,0 skala Richter. Sutopo meminta masyarakat tetap tenang, khususnya warga di wilayah Provinsi Banten dan Lampung.

"Kedua kawasan itu masih aman. Masyarakat dipersilakan melakukan aktivitas sehari-hari . Berdasarkan simulasi analisa mengenai tidak akan terjadi sampai ke Jakarta, seperti isu yang beredar saat ini," tambah Sutopo.

Kalangan pakar mengatakan sebagai sebuah kawasan kepulauan vulkanik, kemunculan Anak Krakatau, sebagai gunung api yang cukup aktif diawali dengan meletusnya Gunung Krakatau pada tanggal 26-27 Agustus 1883. Letusan Krakatau pada waktu itu menewaskan sekitar 36.000 jiwa. Letusan Krakatau masa itu terdengar sampai ke Australia dan Pulau Rodrigues dekat Afrika, atau sekitar 5.000 kilometer. Daya ledaknya diperkirakan mencapai 30.000 kali bom atom Hirosima, Jepang.

Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG) sampai sekarang (4/10) mencatat, terdapat enam gunung api di Indonesia yang berstatus siaga, antara lain Anak Krakatau, Lokon, Karangetang, Papandayan, dan Gunung Tambora.

Menteri Koordinator Kesejahteraan Rakyat Agung Laksono baru-baru ini mengatakan, pemerintah akan menyediakan anggaran penanggulangan bencana alam untuk tahun 2012 sekitar empat triliun rupiah. Jumlah ini naik sekitar 500 miliar dibandingkan anggaran yang sama untuk tahun ini. Tiga bencana terakhir yang cukup menyita anggaran antara lain adalah bencana di Wasior, Mentawai dan letusan Gunung Merapi.

Pada awal tahun 2011 lalu, Indonesia ditetapkan menjadi Pusat Koordinasi Bantuan Kemanusiaan dan Manajemen Bencana untuk kawasan ASEAN (AHA Center).AHA Center didirikan dengan tujuan untuk kemitraan regional dalam penanganan bencana, memfasilitasi koordinasi diantara negara-negara anggota ASEAN, (PBB dan berbagai organisasi internasional di dunia.

Wilayah Indonesia dikepung oleh lempeng Eurasia, lempeng Indo-Australia, dan lempeng Pasifik. Selain dikepung tiga lempeng tektonik dunia, Indonesia juga merupakan jalur Cincin Api Pasifik (The Pacific Ring of Fire) dan secara histografi Indonesia merupakan wilayah langganan gempa bumi dan tsunami. Berbagai daerah di Indonesia merupakan titik rawan bencana, terutama bencana gempa bumi, tsunami, banjir dan letusan gunung berapi.

PVMBG Departemen Energi dan Sumber Daya Mineral menunjukan terdapat 28 wilayah di Indonesia yang dinyatakan rawan gempa dan tsunami, terutama di Pulau Sumatera dan Jawa.

XS
SM
MD
LG