Tautan-tautan Akses

Aktivis Thailand Penentang UU Monarki Dibunuh


Demonstrasi menentang undang-undang 'lese majeste' di Thailand. (Foto: Dok)

Demonstrasi menentang undang-undang 'lese majeste' di Thailand. (Foto: Dok)

Sebuah kelompok garis keras yang baru telah mengancam untuk memburu siapapun yang menentang monarki, menggambarkan mereka sebagai sampah.

Seorang aktivis pro-pemerintah yang menentang undang-undang yang menghukum para pengkritik kerajaan Thailand, disebut lese majeste law, ditembak sampai tewas Rabu (23/4) di ibukota, menurut polisi.

Pembunuhan tersebut terjadi seiring berlanjutnya ketegangan atas nasib Perdana Menteri Yingluck Shinawatra, yang dicoba digulingkan oleh para musuhnya agar pemerintah baru dapat melaksanakan reformasi.

Kolonel Polisi Thanawat Watthanakul mengatakan Kamol Duangphasuk ditembak oleh pria-pria bersenjata yang mengendarai sepeda motor di tempat parkir sebuah restoran di utara Bangkok.

Kamol, seorang penyair yang juga dikenal sebagai Mainueng Kor Khuntee, adalah anggota gerakan "Kaos Merah" yang mendukung Yingluck dan abangnya, mantan Perdana Menteri Thaksin Shinawatra.

Thailand telah dilanda konflik politik sejak kudeta militer 2006 yang menggulingkan Thaksin dari jabatannya, setelah para demonstran menuduhnya korupsi, menyalahgunakan kekuasaan dan tidak menghormati Raja Bhumibol Adulyadej. Sejak kudeta tersebut, lawan dan pendukung Thaksin telah berebut kekuasaan, melakukan demonstrasi di jalanan yang terkadang diwarnai kekerasan.

Kamol adalah penentang keras undang-undang lese majeste, yang mengandung hukuman sampai 15 tahun penjara bagi siapapun yang menghina kerajaan. Sebuah kelompok garis keras yang baru telah mengancam untuk memburu siapapun yang menentang monarki, menggambarkan mereka sebagai sampah.

Puisi Kamol memiliki nuansa politik yang keras, dan ia mendorong para Kaos Merah untuk diorganisir seperti militer di tingkat lokal untuk melindungi pemerintahan Yingluck. Yingluck menghadapi tuntutan pengadilan yang dapat menggulingkannya dari jabatannya, atau apa yang disebut para pendukungnya "kudeta yudisial." (AP)
XS
SM
MD
LG