Tautan-tautan Akses

Aktivis Suriah: ISIS Hancurkan Kuil Kuno Lain di Palmyra

  • Edward Yeranian

Foto yang disebarkan militan Negara Islam (ISIS) di media sosial pada 25 Agustus 2015 menunjukkan penghancuran kuil zaman Romawi di kota kuno Palmyra, Suriah.

Foto yang disebarkan militan Negara Islam (ISIS) di media sosial pada 25 Agustus 2015 menunjukkan penghancuran kuil zaman Romawi di kota kuno Palmyra, Suriah.

ISIS menggunakan bom untuk menghancurkan Kuil Bel yang berumur hampir 2.000 tahun, kuil kedua di kota kuno Palmyra, Suriah, yang dihancurkan oleh ISIS.

Aktivis-aktivis Suriah mengatakan kelompok militan Negara Islam (ISIS) telah menghancurkan satu lagi kuil kuno lain di kota bersejarah Palmyra. Badan Pemantau Hak Asasi Manusia Suriah yang berkantor pusat di Inggris mengutip pernyataan beberapa saksi di Palmyra, Minggu (30/8), yang mengatakan ISIS menggunakan bom untuk menghancurkan Kuil Bel yang berumur hampir 2.000 tahun. Seorang saksi mata mengatakan hanya dinding kuil yang masih tersisa. Kuil itu merupakan situs kedua di kota itu yang dihancurkan oleh kelompok militan ISIS.

Para ahli purbakala dan sejarawan sangat marah, sementara warga awam Suriah sangat sedih atas perusakan sistematis terhadap sejarah dan warisan negara itu.

Sejarawan Manar Hammad menghabiskan waktu empat tahun membuat daftar peninggalan-peninggalan kuno di Palmyra. Ia mengatakan kepada VOA, “sulit membicarakan tentang perusakan situs yang sangat ia cintai”.

Hammad mencatat, Kuil Bel telah dipelihara dengan baik selama berabad-abad, karena digunakan “pertama kali sebagai gereja Bisantium, kemudian sebagai masjid”. “Para penganut ajaran monotheis” katanya, "memuja satu Tuhan dengan cara mereka sendiri”, tetapi semua “percaya bahwa situs itu seharusnya dilestarikan”. Itu berlangsung sampai kelompok ISIS menduduki Palmyra bulan Mei.

Kepala Departemen Purbakala Suriah, Mamoun Abdel Karim, mengatakan kepada stasiun TV pemerintah, kelompok militan itu tidak memandang peninggalan Palmyra itu dari segi budaya atau sejarah, tetapi menganggapnya sebagai sisa-sisa ajaran murtad dari jaman dulu, yang berbeda dengan ajaran Takfiri mereka yang menganggap ajaran lain keliru.

Abdel Karim mengatakan, ia tidak punya informasi yang pasti bahwa kuil Bel telah dihancurkan, kecuali dari laporan berita-berita itu. Ia mengatakan, para saksi mata mendengar ledakan, tetapi tidak yakin di mana ledakan itu.

Menteri Pariwisata Bashar Yaziji mengutuk perusakan paling baru terhadap situs bersejarah itu oleh militan ISIS, dan ia berusaha menarik perhatian dunia atas tindakan jahat yang dilakukan kelompok itu.

Ia mengatakan, Kuil Bel melambangkan warisan sejarah dan budaya Suriah dan ia mendesak warga Suriah di seluruh dunia untuk membantu mempertahankan warisan mereka yang sedang dihancurkan.

Militan ISIS menghancurkan gereja-gereja dan biara-biara bersejarah, termasuk warisan-warisan kuno yang bersejarah di Nimroud dan Hattar di Irak, serta sebuah museum terkenal di Mosul.

Pekan lalu ISIS memasang foto-foto di media sosial yang menunjukkan militan menghancurkan kuil lain di kota kuno Palmyra, Baal Shamin. Badan PBB Urusan Kebudayaan, UNESCO, mengatakan tindakan itu merupakan kejahatan perang.

Badan Pemantau HAM Suriah juga menambahkan ISIS memenggal kepala mantan direktur benda-benda kuno di kota Palmyra, Khaled Asaad, dan mempertunjukkan mayatnya di depan umum.

Begitu ISIS merebut kota Palmyra Mei lalu, para sejarawan segera menyampaikan peringatan. Militan ISIS menyebut artefak dan patung-patung kuno yang tak ternilai harganya itu sebagai penghujatan atas Tuhan. Mereka juga menghancurkan beberapa situs bersejarah lain di Irak.

Tetapi Badan Pemantau HAM Suriah mengatakan ISIS telah menjual sejumlah benda-benda kuno untuk memperoleh uang. Ditambahkannya bahwa dalam beberapa video militan ISIS menghancurkan kopi atau replika dan artefak palsu seolah-olah mereka menghancurkan karya seni asli.

Tunjukkan komentar

XS
SM
MD
LG