Tautan-tautan Akses

Aktivis Serukan Perlindungan bagi Perempuan Nepal

  • Ron Corben

Para perempuan dan anak-anak Nepal antri untuk mendapatkan bahan makanan bagi korban gempa di Kathmandu (5/5).

Para perempuan dan anak-anak Nepal antri untuk mendapatkan bahan makanan bagi korban gempa di Kathmandu (5/5).

Berbagai organisasi internasional dan LSM di Nepal memperingatkan bahwa kehancuran akibat gempa bumi 25 April lalu membuat ribuan anak perempuan dan perempuan muda mungkin menjadi korban perdagangan manusia.

Ratusan ribu orang di Nepal kehilangan tempat tinggal dan harta benda, membuat perempuan dan anak perempuan putus asa sehingga rentan jadi korban perdagangan manusia, kata para aktivis.

Berbagai Lembaga Swadaya Masyarakat (LSM) setempat mengatakan jaringan kriminal secara khusus menarget wilayah pedesaan di Nepal, bahkan menggunakan kedok bantuan kemanusiaan untuk menculik atau membujuk perempuan.

PBB mengatakan hampir 15.000 anak perempuan diperdagangkan setiap tahun dari Nepal, dipaksa menjadi pekerja seks mulai dari Korea Selatan sampai ke Afrika Selatan, meskipun sebagian besar dibawa ke India di mana ribuan orang bekerja di rumah-rumah pelacuran.

Anuradha Koirala, pendiri organisasi anti perdagangan manusia Maiti Nepal, mengatakan anak-anak terutama sangat rentan di tengah banyaknya bantuan kemanusiaan dan rehabilitasi.

“Di semua wilayah yang paling buruk terkena dampaknya, 80 persen anak-anaknya diselundupkan. Hanya sedikit orang yang memusatkan perhatian pada masalah ini. Menurut kami, anak-anak ini paling rentan, kita harus menyelamatkan dan merawat mereka. Kami sendiri telah menyelamatkan tiga anak,” ungkap Koirala.

Dana Anak-anak PBB (UNICEF) menyerukan didirikannya fasilitas sekolah sementara, karena hampir satu juta anak tidak dapat kembali ke bangku sekolah karena bangunannya hancur. Diperkirakan 24.000 ruang kelas rusak atau hancur karena gempa bumi yang paling buruk di Nepal dalam 80 tahun.

Koirala dari kelompok Maiti Nepal mengatakan membangun kembali sekolah-sekolah dan meningkatkan kesadaran penduduk desa akan ancaman perdagangan manusia harus menjadi prioritas. UNICEF menyatakan kekhawatiran bahwa pencapaian terbaru di Nepal yang telah menaikkan jumlah anak-anak yang bersekolah menjadi 95 persen mungkin pupus karena dampak gempa.

Namun, para petugas kesehatan mengatakan warga Nepal secara umum – semakin putus asa setelah kehilangan segalanya karena gempa itu – kini rentan jadi korban perdagangan manusia dengan iming-iming pekerjaan dan upah.

Sebuah laporan Departemen Luar Negeri AS mendapati perempuan dan anak perempuan Nepal dipaksa bekerja di Nepal dan India sebagai pembantu rumah tangga, pengemis, pekerja pabrik dan pekerja tambang.

Sebagian lainnya dipaksa bekerja dalam industri hiburan orang dewasa. Yang lainnya dijual ke Malaysia, Hong Kong dan orea Selatan, dan bahkan ke distrik Khasa di China.

Laporan itu mengatakan meskipun Nepal gagal memenuhi “standar minimal bagi penghapusan perdagangan manusia, upaya-upaya signifikan” telah dilakukan. Tetapi para aktivis khawatir emua itu mungkin pupus karena gempa 25 April lalu.

XS
SM
MD
LG