Tautan-tautan Akses

Aktivis Liberia Peraih Nobel Galang Kekuatan Perempuan Akhiri Perang


Aktivis perempuan Liberia, Leymah Gbowee (39 tahun) mengaku sangat bergembira dianugerahi Nobel Perdamaian.

Aktivis perempuan Liberia, Leymah Gbowee (39 tahun) mengaku sangat bergembira dianugerahi Nobel Perdamaian.

Aktivis perempuan, Leymah Gbowee, 39 tahun, dianugerahi Nobel Perdamaian karena mengerahkan perempuan mengakhiri perang saudara di Liberia.

Aktivis perdamaian Liberia Leymah Gbowee mengatakan kegembiraannya "meluap-luap" sekaligus "kembali bersemangat" oleh kabar hari Jumat bahwa ia termasuk di antara penerima Hadiah Nobel Perdamaian.

Mantan pekerja sosial berusia 39 tahun itu dianugerahi hadiah tersebut karena mengerahkan ribuan perempuan guna membantu mengakhiri perang saudara selama 13 tahun di Liberia yang menewaskan 250 ribu orang.

Gbowee mendirikan Aksi Massa Perempuan Liberia bagi Perdamaian, gerakan yang menyatukan perempuan Muslim dan Kristen untuk menghadapi panglima perang dan orang kuat Liberia, Charles Taylor.

Para anggota gerakan itu berdemonstrasi dengan mengenakan kaos putih, warna yang dimaksudkan untuk melambangkan pendekatan mereka yang anti-kekerasan. Pada satu ketika, organisasi perempuan itu melakukan aksi mogok seks, menolak untuk berhubungan seks dengan suami-suami mereka sampai kerusuhan berakhir.

Organisasi perempuan itu menekan Taylor menghadiri pembicaraan damai dan para anggotanya suatu ketika mencegah faksi-faksi pesaing meninggalkan ruangan selama perundingan damai berlangsung.

Upaya Gbowee diyakini membantu mengakhiri perang tahun 2003. Menurutnya, penghargaan bergengsi itu kini memberinya pendirian lebih besar untuk melanjutkan upayanya agar "suara perempuan didengar."

Dalam otobiografinya 'Mighty Be Our Powers’, Gbowee menggambarkan organisasi itu bagai tentara perempuan berkaos putih yang tegak tanpa takut menyuarakan dengan lantang untuk mengakhiri perang dan memulihkan stabilitas di negara itu.

XS
SM
MD
LG