Tautan-tautan Akses

Aktivis Khawatirkan Banyaknya Limbah Beracun di Jawa Timur

  • Petrus Riski

Aksi seruan Jawa Timur Darurat B3 di depan gedung negara Grahadi, Kamis, 7 Januari 2016. (VOA/Petrus)

Aksi seruan Jawa Timur Darurat B3 di depan gedung negara Grahadi, Kamis, 7 Januari 2016. (VOA/Petrus)

Sejumlah aktivis di Jawa Timur mendesak pemerintah daerah bertindak tegas terhadap pembuangan limbah bahan beracun berbahaya secara sembarangan, yang dinilai akan menimbulkan dampak kesehatan bagi warga.

Dengan menggunakan masker dan pakaian khusus penanganan wabah penyakit, aktivis lingkungan "Ecoton" dan "Posko Ijo" membentangkan poster bertuliskan "Jawa Timur Darurat B3" di depan Gedung Negara Grahadi, Surabaya. B3 adalah singkatan untuk bahan beracun berbahaya yang terdapat dalam limbah yang tidak dikelola dengan baik di Jawa Timur, bahkan dibuang sembarangan.

Rulli Mustika dari "Posko Ijo" mengatakan aksi ini merupakan peringatan kepada masyarakat Jawa Timur terhadap ancaman bahaya limbah B3, yang banyak dihasilkan oleh industri.

"Kita menyampaikan informasi kepada masyarakat Jawa Timur terkait bahayanya limbah B3, bahan beracun berbahaya yang sebagian besar itu adalah dihasilkan oleh industri," kata Rulli.

Sementara Direktur Eksekutif "Ecoton", Prigi Arisandi mengungkapkan provinsi Jawa Timur merupakan salah satu daerah penghasil limbah B3 terbesar di Indonesia, dengan volume mencapai sekitar 2 juta ton per bulan. Selama ini limbah B3 yang berasal dari sejumlah pabrik di Jawa Timur itu, dikirim dan diolah di salah satu tempat pembuangan limbah di Bogor, Jawa Barat. Tetapi dengan semakin meningkatnya biaya pengiriman dan pengangkutan limbah itu, maka sebagian besar limbah kini tidak lagi dikirim dan diolah di Bogor, melainkan langsung dibuang ke beberapa daerah di Jawa Timur.

"Di Jawa Timur itu ada 2 juta ton per bulan, 1 meter kubik itu biayanya sekitar 4 juta rupiah, estimasi ekonomimya, maka berarti ada duit milyaran rupiah di Jawa Timur yang hilang. Industri itu sambat (mengeluh) sering, karena apa, kami (industri) sudah membayar, banyak industri besar yang sudah membayar tapi realisasinya itu kita melihat, kita sudah invenstigasi itu, ternyata banyak transporternya kemudian itu (limbahnya) dibuang. Bahkan ada, yang jahat itu adalah limbah B3 itu dibeli oleh masyarakat untuk urug (menimbun sebagai pondasi bangunan), ngurug mushola, ngurug rumah," kata Prigi.

Ditambahkannya, dari sekitar 2 juta ton limbah B3 di Jawa Timur, Kabupaten Gresik menjadi penyumbang terbesar limbah B3, disusul Pasuruan, Sidoarjo dan Surabaya.

"60 persen dari 2 juta ton itu adalah dari Gresik, industri di Gresik kan banyak, ada kertas, ada produk makanan, semua limbah terutama industri yang menggunakan bahan bakar batu bara," ujar Prigi.

Selain berbahaya dan dapat merusak lingkungan, limbah B3 menurut Prigi juga berbahaya bagi kesehatan manusia, terlebih bila dibuang begitu saja dan mencemari air serta lingkungan yang menjadi tempat tinggal masyarakat.

"Handphone kita, TV kita, Radio kita, Komputer kita itu banyak ditumpuk, tidak diolah kemudian. Kita kemarin menemukan di Gunung Gangsir, Kawasan Industri Ngoro dan Lamongan, disitu banyak masyarakat terutama anak-anak terkena gangguan syaraf. Kita sudah mengukur darah mereka mengandung Pb, itu diatas 10 Ug per miligram per liter, jadi diatas standardnya WHO, artinya memang sudah ada dampak kesehatan yang dirasakan oleh masyarakat di sekitar kawasan industri," tambah Prigi.

Kepala Badan Lingkungan Hidup (BLH) Provinsi Jawa Timur, Bambang Sadono telah menyatakan Jawa Timur sebagai darurat limbah B3. Ia mendesak dibangunnya tempat penampungan dan pengolahan limbah B3 di Jawa Timur.

Bambang mengatakan, "Kita itu darurat untuk mendirikan industri pengelolaan B3 itu, dan itu mendesak sekali. Selama ini belum punya, dan di tahun 2016 ini kita sedang menganggarkan untuk lahannya, lahannya itu direncanakan 50 hektar. Diperkirakan itu di daerah Mojokerto, tapi kita belum bisa menentukan secara pasti titiknya, ini karena kita mau paparan dulu di Kementerian LKH." [fw/em]

XS
SM
MD
LG