Tautan-tautan Akses

Aksi Terorisme Tak Pengaruhi Kalender Acara di Solo, Iklim Investasi

  • Yudha Satriawan
  • Iris Gera

Sendratari Matah Ati yang dilangsungkan di Mangkunegaran Palace in Solo, Central Java, Indonesia. (VOA/Yudha Satriawan)

Sendratari Matah Ati yang dilangsungkan di Mangkunegaran Palace in Solo, Central Java, Indonesia. (VOA/Yudha Satriawan)

Berbagai kegiatan wisata dan acara internasional di Solo terus berlangsung, dan pakar menilai iklim investasi Indonesia tidak terpengaruh.

Ribuan warga Solo dan para wisatawan di Solo menonton sendratari Matah Ati mengenai sejarah perjuangan ratu Mangkunegaran, di halaman istana Mangkunegaran, Minggu malam (9/9).

Acara yang menjadi rangkaian agenda pariwisata di Solo ini tetap berlangsung tanpa kendala meski aksi terorisme sempat mengguncang kota ini tiga pekan terakhir.

Kepala Dinas Pariwisata dan Kebudayaan kota Solo, Widdi Srihanto, menegaskan kalender kegiatan wisata di Solo tetap berjalan seperti biasa.

“Kita tetap seperti biasa, tidak buat hal-hal yang khusus apalagi pasca aksi terorisme kemarin. Bagi saya, meski terjadi aksi terorisme, kalender acara pariwisata terus berjalan sesuai jadwal. Semua pihak terkait tetap mendukung suasana Solo tetap aman dan nyaman dikunjungi wisatawan,” ujar Widdi.

Sementara itu, para wisatawan masih tampak berkeliling ke berbagai obyek wisata di Solo. Wisatawan asal Austria, Steve, mengaku Solo tetap menjadi lokasi wisata yang menarik untuk dikunjungi.

“Solo kota yang indah. Saya sudah berkeliling Solo dan ternyata sangat menarik. Saya baru tahu dan sedikit kaget kalau di Solo terjadi terorisme. Saya tidak takut. Solo tetap menarik. Lain waktu, saya ingin kembali berkunjung ke Solo,” ujarnya.

Sebelum penyelenggaraan pentas sendratari, di Solo juga berlangsung Kirab Budaya bertema wayang dan diikuti ratusan peserta Konferensi internasional federasi promosi budaya tingkat Asia Pasifik (FACP).

Delegasi berbagai negara anggota FACP yang hadir dalam konferensi dan ikut dalam kirab budaya tersebut antara lain: Taiwan, Jepang, Singapura, Filipina, Thailand, RRC, Inggris, Hongkong, Indonesia, Malaysia, Australia, Korea Selatan, Mongolia, Amerika Serikat, dan Eurasia wilayah Kaukasus (Georgia). Konferensi selesai akhir pekan kemarin.

Iklim Investasi

Pengamat ekonomi Irfan Syauqi Beik dari Institut Pertanian Bogor (IPB) mengatakan fundamental ekonomi Indonesia tetap kuat meski terjadi berbagai gangguan keamanan termasuk aksi teror. Ia menambahkan walaupun tidak berpengaruh negatif terhadap kondisi perekonomian dan iklim investasi di tanah air, pemerintah harus tetap serius menangani aksi-aksi teror termasuk mengungkap aktor utama dibalik aksi teror di Solo, Jumat pekan lalu.

“Dari perspektif ekonomi, walaupun terjadi beberapa kali teror tapi tren pertumbuhan ekonomi tetap positif. Kemudian juga di pasar keuangan kita relatif tidak terlalu terganggu dengan kondisi yang ada, tapi saya tetap berharap ini diselesaikan, tetap tanggung jawab pemerintah, kewaspadaan tetap, tindakan hukum harus tetap jalan,” ujarnya.

Irfan menambahkan perekonomian Indonesia akan lebih terpengaruh oleh kondisi global dibanding berbagai kejadian di dalam negeri, termasuk aksi teror. Ia menilai masyarakat, pelaku ekonomi dan pengusaha sudah lebih dewasa dalam menilai setiap kejadian sehingga tidak cepat terpengaruh.

Sementara menurut dekan pasca sarjana Universitas Paramadina, Jakarta, Dina Wisnu, pemerintah harus terus memperbaiki iklim investasi di tanah air karena menjadi incaran para investor. Saat ini ketidakpastian kondisi ekonomi di beberapa negara dapat dimanfaatkan Indonesia menjadi peluang masuknya investasi.

“Menurut saya Indonesia ini masih cantik sebenarnya dibandingkan dengan negara-negara lain. Kalau kita lihat dari perkembangan terakhir misalnya bahwa Cina, India inflasinya makin meroket, jadi orang justru menahan diri masuk ke negara-negara tersebut. Otomatis Indonesia ini sekarang di belakang mereka dari segi ranking untuk keseksian sasaran investasi. Indonesia akan naik daun, cuma berapa persen dana yang masuk dari investasi asing itu yang sungguh turun nanti ke sektor riil, yang sungguh turun ke orang-orang yang biasa ini, yang non konglomerat ini,” ujar Dina.
XS
SM
MD
LG