Tautan-tautan Akses

AS

Akhir Sedih Kota 'Erin Brockovich'


Dalam foto yang diambil pada 2010 ini, Roberta Walker menuangkan air dari galon air mineral di rumahnya di Hinkley, California. (Foto: Dok)

Dalam foto yang diambil pada 2010 ini, Roberta Walker menuangkan air dari galon air mineral di rumahnya di Hinkley, California. (Foto: Dok)

Ketakutan akan air yang tercemar membuat satu persatu warga kota Hinkley, California, pergi dan satu-satunya sekolah di daerah itu ditutup.

Para siswa kelas satu dan dua di Sekolah Dasar Hinkley berkumpul berpasang-pasangan untuk melatih perbendaharaan kata mereka. Sepertinya tidak ada masalah saat ini, namun dengan begitu banyak keluarga yang pindah ke kota lain, sekolah tersebut dijadwalkan ditutup selamanya mulai Juni.

"Setiap hari ada anak yang pindah dan kami semua bertangisan," ujar Sonja Pellerin, seorang guru di sekolah itu. "Beberapa orang telah tinggal di sini bergenerasi-generasi, dan situasi ini membuat susah para keluarga."

Hinkley merupakan kota di negara bagian California yang menjadi populer berkat film Erin Brockovich. Dua puluh tahun lalu, perusahaan energi California, Pacific Gas & Electric membayar ratusan juta dolar untuk membayar tuntutan para warga bahwa PG&E telah meracuni air sumur mereka dengan membuang limbah industri secara tidak benar ke tanah. Namun kemenangan hukum tersebut, yang dikisahkan dalam film yang dibintangi Julia Roberts, bukan akhir dari kisah itu.

Sejak saat itu, air tanah yang tercemar bahan kimia beracun kromium heksavalen, atau kromium 6, terus menyebar. Saat ini, banyak warga Hinkley yang pindah dan masa depan kota tidak jelas.

Hanya Sekolah Dasar Hinkley yang jelas nasibnya. Setelah jumlah murid berkurang terus dalam beberapa tahun terakhir, pihak berwenang mengatakan mereka tidak sanggup membuka sekolah tersebut.

Roberta Walker, yang memiliki cucu yang bersekolah di situ, marah karena PG&E menolak permintaan pihak sekolah untuk membeli kampus tersebut agar sekolah tetap dapat beroperasi.

"Sekolah itu merupakan bagian terbesar dari komunitas," ujar Walker. "Dan mereka menolak mengakui kesalahan mereka dalam penurunan jumlah siswa."

Pada 1990an, Walker merupakan penuntut utama dalam tuntutan hukum oleh ratusan warga Hinkley terhadap PG&E karena membuang air pendingin dari pabrik kompresi gas alam di sebelah selatan kota itu ke kolam-kolam yang tidak memiliki dinding pembatas. Limbah tersebut, dipenuhi kromium 6 yang beracun, mencemari sumur-sumur air tanah Hinkley, dan tuntutan itu menyalahkan perusahaan karena peningkatan kasus kanker dan penyakit imunitas sesudahnya.

Perusahaan tersebut memilih penyelesaian di luar pengadilan. Dengan uang bagiannya, Walker membangun rumah-rumah baru untuk dirinya dan anak-anak perempuannya, beberapa kilometer dari tempat yang terkontaminasi. Sekarang, kromium 6 muncul kembali di air sumurnya. Walker dan putri-putrinya sedang melakukan negosiasi dengan PG&E untuk membeli rumah-rumah mereka.

PG&E telah setuju membayar sepertiga warga Hinkley. Juru bicara perusahaan Jeff Smith berulangkali mengatakan dalam beberapa tahun terakhir bahwa PG&E ingin menjamin keberlangsungan hidup Hinkley. Namun hal itu menjadi lebih rumit.

"Kami berkomitmen bekerja sama dengan warga Hinkley," ujar Smith. "Jika mereka ingin propertinya dibeli dan meninggalkan komunitas ini, kami ingin menjamin bahwa opsi tersebut juga tersedia bagi mereka."

Di tingkat nasional, badan perlindungan lingkungan EPA telah menghabiskan lima tahun terakhir mempelajari batas-batas baru terhadap kromium 6 dalam lingkungan. EPA merilis dokumen penilaian pada 2010, namun studi itu masih dikaji secara ilmiah. Badan ini mengatakan tidak bisa merevisi standar air minum nasional sampai prosesnya lengkap.

“Hinkley merupakan contoh, bahkan jika suatu kasus mendapatkan perhatian, masih ada saja yang kurang dalam tingkat masyarakat yang lebih besar, dan standar-standar yang melindungi warga," ujar Renee Sharp, dari Environmental Working Group, organisasi riset dan advokasi swasta.

Di bawah perintah negara, PG&E masih mencoba membersihkan kesalahannya. Jutaan liter air yang tercemar telah dipompa ke lapangan tumbuhan alfalfa setiap tahun, agar mikroba-mikroba tanah mengurai racun tersebut. Perusahaan itu juga memompa etanol ke tanah untuk memicu reaksi kimia untuk menetralisir kromium.

“Kami telah membuat banyak kemajuan. Kami telah membersihkan sekitar 22 hektar wilayah," ujar teknisi proyek Kevin Sullivan pada sebuah pertemuan publik Oktober lalu.

Namun itu hanyalah sebagian kecil dari kerusakan lingkungan. Tiga tahun lalu, pejabat kualitas air negara memperkirakan bahwa bagian yang tercemar masih lebih dari empat kilometer jauhnya. Menurut laporan negara yang paling baru, bagian itu bisa menyebar menjadi lebih dari 11 kilometer, dan dewan kualitas air negara mengatakan kontaminan menyebar lebih dari setengah meter per hari.

"Sepertinya semakin kita lihat, semakin banyak yang kita temukan, dan hal itu menakutkan warga," ujar anggota dewan air Lauri Kemper.

Meski polusi itu menakutkan, Patsy Morris, 83, bertekad tetap tinggal. Namun saat semakin banyak warga yang pergi, ia tidak punya pilihan selain meninggalkan tempat itu, ujarnya.

PG&E memperkirakan perlu 40 tahun lagi untuk membersihkan semua polusi kromium 6. Pernyataan itu mengundang tawa pahit warga Hinkley, yang memperkirakan bahwa dalam 10 tahun, tempat itu akan menjadi kota hantu. (VOA/Chris Richard)
XS
SM
MD
LG