Tautan-tautan Akses

AS

Akankah Perempuan Hentikan Langkah Trump?


Demonstrasi anti-Trump pada Konvensi Nasional Partai Republik di Cleveland, Ohio.

Demonstrasi anti-Trump pada Konvensi Nasional Partai Republik di Cleveland, Ohio.

Isu pelecehan dan serangan seksual yang dituduhkan pada Trump tampak mempengaruhi sikap pemilih Amerika.

“Empat puluh lima menit setelah pesawat lepas landas, Mr. Trump menaikkan pembatas tangan pada kursinya dan mulai menyentuh saya. Ia meraba payudara saya dan berusaha memasukkan tangannya ke rok saya," tutur Jessica Leeds yang kini berusia 74 tahun dalam artikel surat kabar The New York Times edisi Kamis (13/10).

“Tangannya seperti gurita. Meraba ke mana-mana," tambahnya mengenang insiden lebih dari 30 tahun lalu itu.

“Saya sedang duduk di sebuah sofa di klub malam di Manhattan awal 1990an ketika saya menyadari orang yang duduk di samping saya meraba paha dan menyentuh alat kelamin saya dengan tangannya. Insiden itu hanya berlangsung 30 detik, tapi saya ingat dia adalah Mr. Trump," ujar fotografer Kristen Anderson, 46, kepada surat kabar The Washington Post.

“Saya seorang resepsionis di Bayrock Group, perusahaan investasi real estat yang terletak di Trump Tower Manhattan, ketika suatu pagi bertemu Mr. Trump. Ia mencium saya di bibir ketika saya memperkenalkan diri karena tahu perusahaan saya berbisnis dengannya. Satu hal yang tidak normal," ujar Rachel Crooks, yang berusia 22 tahun ketika insiden itu terjadi pada tahun 2005.

Satu per satu perempuan dari sejumlah tempat di Amerika menyampaikan apa yang mereka alami. Bahkan ketika calon presiden AS dari Partai Republik Donald Trump membantah keras klaim-klaim yang muncul itu dalam kampanye di North Carolina Jumat lalu, seorang perempuan lain menggelar konferensi pers di Los Angeles, menyampaikan tindakan tidak senonoh yang dilakukan Trump tahun 2007.

Summer Zervos, yang didampingi pengacaranya Gloria Allred, mengatakan insiden itu terjadi di bungalow Trump di Beverly Hills Hotel.

Summer Zervos (kanan), mantan peserta acara televisi "The Apprentice," bersama pengacaranya Gloria Allred, dalam konferensi pers mengenai serangan seksual oleh Donald Trump di Los Angeles (14/10). (Reuters/Kevork Djansezian)

Summer Zervos (kanan), mantan peserta acara televisi "The Apprentice," bersama pengacaranya Gloria Allred, dalam konferensi pers mengenai serangan seksual oleh Donald Trump di Los Angeles (14/10). (Reuters/Kevork Djansezian)

Hingga laporan ini diturunkan, sedikitnya 12 perempuan telah menyatakan secara terbuka serangan seksual yang diduga dilakukan Trump terhadap mereka. Perbuatan itu dilakukan di pesawat terbang dan klub malam, sampai di gedung pencakar langit Trump Tower di New York dan tempat peristirahatan mewah di tepi pantai Mar-a-Lago di Florida.

Pernyataan-pernyataan ini muncul beberapa hari setelah Washington Post merilis video rekaman pembicaraan cabul Trump menjelang syuting sebuah opera sabun tahun 2005, dimana ia mengatakan bisa melakukan apa pun, termasuk mencengkeram alat kelamin perempuan, karena ia ''orang terkenal''.

Beberapa jam setelah rekaman itu dirilis 7 Oktober, Trump minta maaf, tetapi mengatakan bahwa pembicaraan itu hanya “percakapan di ruang ganti pakaian”. Hal ini diulanginya dalam debat kedua di St. Louis dua hari kemudian.

Calon presiden dari Partai Demokrat Hillary Clinton tampak menahan diri untuk tidak mengecam keras Trump dalam debat itu. Bisa jadi karena Trump berulangkali mengatakan ia hanya membual, tidak seperti suami Hillary – yang juga mantan presiden – Bill Clinton yang memang melakukan pelecehan seksual. Tetapi mungkin juga karena Hillary punya pertimbangan lain.

Namun banyak pihak bereaksi keras, termasuk para petinggi Partai Republik.

Ketua DPR Paul Ryan mengatakan ''muak'' melihat isi rekaman pembicaraan Trump dengan pembawa acara Billy Bush, yang ketika itu bekerja sebagai wartawan hiburan.

Sementara itu, senator Arizona yang juga mantan capres Republik tahun 2008 John McCain, mengatakan ''Trump akan menanggung konsekuensi tindakannya'."

Hal senada disampaikan mantan capres Partai Republik tahun 2012, Mitt Romney, menilai ''Trump tidak saja merendahkan istri dan anak perempuan kita, tetapi juga merusak citra Amerika di mata dunia."

Ibu negara AS Michelle Obama berbicara dalam kampanye Hillary Clinton di Manchester, New Hampshire (13/10).

Ibu negara AS Michelle Obama berbicara dalam kampanye Hillary Clinton di Manchester, New Hampshire (13/10).

Reaksi yang paling menarik perhatian mungkin muncul dari ibu negara Michelle Obama, yang menyampaikan pidato berapi-api di New Hampshire, Kamis lalu.

“Ini bukan politik. Ini memalukan. Ini tidak dapat ditolerir. Terlepas dari apakah Anda seorang Demokrat, Republik atau independen, tidak seorang perempuan pun boleh diperlakukan seperti itu. Kita tidak boleh dilecehkan seperti itu dan perilaku seperti ini harus dihentikan," tegas Michelle dalam pidato selama 30 menit yang tidak sekali pun menyebut nama Trump.

Namun miliarder itu tak bergeming. Dalam dua kampanye hari Jumat, ia bahkan mengolok-olok perempuan-perempuan yang menuduhnya.

“Percayalah pada saya, perempuan itu bukan pilihan pertama saya. Lihat dia. Lihat kata-katanya," ujar Trump.

Pemimpin redaksi majalah feminis Magdalene, Devi Asmarani, menilai sikap ini jelas merupakan ciri pemangsa seksual.

“Saya yakin Trump tidak sekedar bicara tentang pelecehan seksual ini, tetapi memang melakukannya. Anda tidak mungkin sekedar bicara bahwa Anda bisa meraba-raba alat kelamin perempuan jika memang Anda tidak yakin bahwa ini bisa dilakukan. Ini menunjukkan bahwa ia memang predator seksual," ujar Devi kepada VOA.

Lantangnya Suara Pemilih Perempuan

Dua survei utama yang dirilis hari Minggu (16/10) menunjukkan lantangnya suara pemilih perempuan Amerika. Isu diskriminasi terhadap warga Hispanik, seruan yang melarang warga Muslim datang ke Amerika, kecaman terhadap keluarga penerima penghargaan Purple Heart dan veteran perang, hingga cemooh Trump terhadap warga cacat tidak terlalu menimbulkan dampak berarti. Tetapi isu pelecehan dan serangan seksual yang dituduh telah dilakukan Trump, tampak mempengaruhi sikap pemilih Amerika.

Survei Washington Post-ABC News menunjukkan Clinton unggul 9 persen di kalangan pemilih perempuan, sementara Trump unggul di mata pemilih laki-laki. Survei NBC-Wall Street Journal menunjukkan Clinton bahkan unggul 20 persen di antara pemilih perempuan, sementara Trump unggul 3 persen di kalangan pemilih laki-laki.

Donald Trump mencium poster bertuliskan "Perempuan untuk Trump" dalam kampanye di Lakeland, Florida (12/10).

Donald Trump mencium poster bertuliskan "Perempuan untuk Trump" dalam kampanye di Lakeland, Florida (12/10).

Survei Washington Post-ABC News itu juga menunjukkan Clinton jauh memimpin di kalangan pemilih kulit hitam Amerika yaitu 79 persen dan kelompok Hispanik 28 persen. Sementara itu, Trump unggul 14 persen dibanding Clinton di antara pemilih warga kulit putih.

Survei itu juga menunjukkan bahwa pemilih muda dan mereka yang memiliki pendidikan universitas lebih berpihak pada Clinton, sementara pemilih yang lebih berumur dan tidak memiliki pendidikan universitas cenderung berpihak pada Trump.

Washington Post menunjukkan masyarakat justru sangat percaya dengan tuduhan-tuduhan yang disampaikan sejumlah perempuan terhadap Trump, dimana 68 persen mengatakan Trump telah melakukan tindakan seksual yang tidak diinginkan dan hanya 14 persen yang menolak tuduhan-tuduhan tersebut.

Meskipun demikian, hampir 90 persen pendukung Clinton dan Trump mengatakan mereka telah menentukan pilihan dan akan “benar-benar” mendukung pilihan mereka itu di tempat pemungutan suara nanti, baik pada hari pemilu 8 November maupun pemilihan awal yang telah dimulai di banyak negara bagian.

Trump dan Clinton akan kembali saling berhadapan dalam debat ketiga dan sekaligus debat terakhir hari Rabu di Las Vegas, Nevada. [hd]

Opini Anda

Tunjukkan komentar

XS
SM
MD
LG