Tautan-tautan Akses

AS

Akademi Excel di Washington Buka SD Khusus Perempuan

  • Julie Taboh

Sekolah Dasar khusus perempuan Akademi Excel di Washington, D.C. (foto: dok).

Sekolah Dasar khusus perempuan Akademi Excel di Washington, D.C. (foto: dok).

Apakah murid belajar lebih baik jika ditempatkan sekelas dengan jenis kelamin yang sama? Para pendidik di sebuah sekolah perempuan di Washington DC yakin demikian.

Namun, para pendidik lainnya mengatakan tidak ada bukti nyata yang mendukung klaim itu dan ada faktor lain yang lebih penting yang membuat sekolah efektif.

Anyreah Clavijo senang bersekolah dan bercita-cita menjadi seorang perancang busana.

Siswi 10 tahun itu dulu menjalani TK di sebuah kelas campuran, laki-laki dan perempuan, tetapi selama lima tahun terakhir, dia bersekolah di Akademi Excel, sekolah perempuan pertama yang dikelola secara independen dan didanai pembayar pajak di Washington DC.

Anyreah mengatakan lebih senang belajar di sekolah perempuan.

“Teman-teman sekelas mendukung saya dan mengatakan saya bisa melakukannya. Mereka membuat saya merasa dicintai dan merasa saya adalah anak terpintar di dunia. Kalau anak laki-laki kasar dan mereka lebih suka melakukan kegiatan lain yang berbeda dari perempuan,” katanya.

Akademi Excel, yang diresmikan tahun 2008, menawarkan program akademis yang gratis bagi komunitas yang berpenghasilan rendah.

Sekolah ini memiliki lebih dari 600 siswa perempuan, mulai dari TK sampai kelas lima SD.

Kaye Savage, pendiri dan CEO Akademi Excel mengatakan, “Seringkali dalam kelas campuran, guru-guru lebih cenderung mengajarkan anak laki-laki. Anak laki-laki lebih lantang dan lebih aktif daripada anak perempuan, dan karenanya anak perempuan dinomorduakan di kelas dan sekolah mereka sendiri.”

Tapi Galen Sherwin, dari Serikat Kebebasan Sipil Amerika (ACLU) membantahnya.

“Tidak ada data yang mendukung klaim tentang manfaat pendidikan di sekolah satu gender. Persamaan antara anak laki-laki dan anak perempuan lebih banyak dan lebih relevan daripada perbedaannya. Yang jelas segala perbedaan yang ada tidak relevan dari sudut pandang pendidikan,” ujar Sherwin.

Satu faktor penting kata Elaine Weiss, pakar pendidikan di Institut Kebijakan Ekonomi, adalah perkembangan sejak dini.

“Semua yang terjadi pada awal kehidupan, mulai dari stres atau tidak sang ibu mereka semasa kehamilan, bagaimana gizinya, apakah mereka memiliki akses ke program pra-TK yang berkualitas, semua faktor itu mempengaruhi kesiapan mereka memasuki TK,” papar Weiss.

Anyreah Clavijo belum yakin apakah akan terus mengikuti program khusus perempuan, tetapi dia senang dengan sekolahnya sekarang ini.

“Saya merasa lebih percaya diri dengan apa yang saya katakan dan yang saya lakukan di dekat teman-teman dan guru,” ungkap Clavijo.

Dan itulah tujuan dari para pendidik di Akademi Excel.
XS
SM
MD
LG