Tautan-tautan Akses

Air Limbah Kunci Keberlangsungan Kehidupan

  • Joe de Capua

Seorang warga New Delhi mengisap air dari selang sementara yang lainnya mengantri air akibat kekeringan di kota itu. (Foto: AP)

Seorang warga New Delhi mengisap air dari selang sementara yang lainnya mengantri air akibat kekeringan di kota itu. (Foto: AP)

Daur ulang air limbah dan buangan adalah sesuatu tak bisa lagi ditunda karena dunia sudah sangat kekurangan air.

Penduduk dunia tumbuh dengan cepat dan diperkirakan akan mencapai 9 miliar pada 2050. Sementara banyak usaha dilakukan untuk menjamin tersedianya cukup pangan, seorang ilmuwan mengingatkan bahwa ketersediaan air mungkin tidak akan mencukupi.

Profesor Stanley Grant dari departemen teknik lingkungan di University of California, Irvine, US, mengatakan bahwa miliaran orang saat ini tidak memiliki persediaan air yang cukup. Jumlah itu akan terus meningkat, ujarnya, kecuali ada sesuatu yang dilakukan segera.

“Ada kondisi kekeringan di AS dan banyak daerah di dunia. Seiring makin panasnya planet Bumi, kita perlu air segar lebih banyak, dan karena jumlah penduduk makin besar, penggunaan air segar tersebut juga lebih tinggi. Begitulah gambaran besarnya,” ujar Grant, peneliti studi baru berjudul “Membuang Kotoran dari Air Limbah untuk Ketahanan Air dan Keberlangsungan Ekosistem.”

Menurut Grant, fokus dari makalahnya adalah pergeseran paradigma yang telah dipegang selama bertahun-tahun, yakni mencoba mencari sumber air baru setiap saat. Pendekatan itu lemah karena lama-kelamaan sumber mata air akan habis dan kita tidak dapat mengambil air dari sungai yang kering, ujarnya.

“Kita harus memiliki pendekatan baru yang meningkatkan produksi air yang telah ada. Pada dasarnya itu berarti mendapatkan lebih nilai dari air,” katanya.

Air sangat penting bagi kehidupan, sehingga hal ini menimbulkan konflik di banyak wilayah. Banyak negara, misalnya, yang mengambil air dari Sungai Nil dan hal ini menimbulkan perseteruan mengenai berapa banyak air yang harus diambil masing-masing negara.

“Sungai Nil adalah contoh yang menarik dari sejumlah kasus lain, seperti Sungai Coloradi do AS dan Sungai Kuning di Tiongkok. Sungai-sungai besar ini telah dikuras sedemikian rupa sehingga mereka kering begitu sampai di wilayah delta,” kata Grant.

Ia mengingatkan bahwa ekosistem-ekosistem penting yang bergantung pada sungai akan hancur dan penduduk di daerah hilir tidak akan mendapat air yang cukup.
Ia menambahkan bahwa persediaan air segar yang terbatas membuat daur ulang air limbah dan kotoran menjadi hal yang penting.

“Kita bisa menggunakan air limbah yang telah diolah untuk aktivitas-aktivitas yang tidak begitu memerlukan air berkualitas tinggi, seperti irigasi taman, misalnya. Atau penggunaan metoda yang sangat canggih untuk mengolah air sehingga bisa lebih baik daripada air keran dan bahkan dapat diminum,” ujar Grant.

Hal-hal tersebut sudah dilakukan di beberapa tempat.

“Israel menjadi pemimpin dalam hal menggunakan air limbah daur ulang untuk pertanian. Di Singapura, pengolahan air limbah dilakukan untuk menyediakan air bagi industri. Di AS, kita memiliki fasilitas reklamasi air limbah. Misalnya saja di Orange County, di mana pengolahan air limbah telah menggunakan teknik yang sangat lanjut. Hasilnya akan dialirkan ke kolam air tanah yang kemudian diektraksi dan dikembalikan ke persediaan air keran,” kata Grant.

Warga Melbourne, Australia, juga telah mulai mengkonservasi dan mendaur ulang air akibat adanya kemarau berkepanjangan. Grant mengatakan bahwa negara-negara lain harus melakukan hal yang sama.

“Jika akibat perubahan iklim global terus berlangsung, kita akan menghadapi situasi-situasi tragis seperti kota-kota besar (megacities) yang kehabisan air dan harus ditinggalkan penduduknya. Hal itu hampir terjadi di Chennai, India, dua tahun yang lalu saat kota itu dilanda kemarau panjang dan air tidak keluar dari keran dan tidak ada air tanah yang bisa diambil. Para ahli tata kota sampai harus memikirkan rencana untuk mengevakuasi kota,” ujarnya.

Grant mengatakan bahwa kota-kota besar yang akan muncul beberapa tahun lagi di Afrika misalnya, akan menghadapi masalah serupa. Ia menuturkan bahwa teknologi yang diperlukan untuk mendaur ulang dan mengolah air buangan sudah ada. Sekarang masalahnya adalah meyakinkan negara-negara Barat bahwa air hasil olahan memiliki rasa yang enak.
XS
SM
MD
LG