Tautan-tautan Akses

Ahli: Perasaan Tersisih Picu Anak Muda Bergabung dengan ISIS


Ozana Rodrigues, ibu Brian De Mulder, yang pergi untuk berjuang di Suriah setelah diindoktrinasi kelompok Sharia4Belgium, menunjukkan foto anaknya di Antwerp, Belgia (29/1). (Reuters/Yves Herman)

Ozana Rodrigues, ibu Brian De Mulder, yang pergi untuk berjuang di Suriah setelah diindoktrinasi kelompok Sharia4Belgium, menunjukkan foto anaknya di Antwerp, Belgia (29/1). (Reuters/Yves Herman)

Antropolog Scott Atran dari University of Michigan dan Pusat Riset Ilmiah Nasional di Paris, mengatakan bahwa negara-negara perlu fokus pada "energi dan idealisme yang melekat" pada anak-anak muda.

Sebagian besar anak muda Eropa yang pergi ke Irak dan Suriah untuk bertempur bersama militan-militan Negara Islam (ISIS) melakukannya karena mereka merasa tidak nyaman di tempat asal, menurut para akademisi kepada Dewan Keamanan PBB dalam pertemuan minggu lalu yang dipimpin putra mahkota Yordania berusia 20 tahun.

Putra mahkota Al Hussein Bin Abdullah II adalah orang termuda yang memimpin Dewan Keamanan beranggotakan 15 negara itu, menurut Sekretaris Jenderal PBB Ban Ki-moon. Dewan itu bertemu Kamis lalu untuk membahas peran anak muda dalam menangkal ekstremisme dengan kekerasan.

Peter Neumann, profesor di Pusat Studi Radikalisasi dan Kekerasan Politik Internasional di King’s College London, mengatakan lembaganya telah melacak 700 anak muda Eropa yang bertempur dengan ISIS di media sosial dan telah berbciara dengan hampir 100 orang dari mereka untuk mengetahui kisah mereka.

"Kita berurusan dengan kelompok yang sangat beragam," ujar Neumann pada Dewan Keamanan.

"Kesamaan dari banyak dari mereka, jika tidak hampir semuanya, adalah bahwa mereka tidak merasa punya kepemilikan dalam masyarakat mereka. Mereka sering merasa.. mereka bukan orang Eropa, tidak merasa memiliki, tidak akan pernah sukses seberapa keras usaha mereka."

Ia mengatakan ini telah membuka pikiran mereka terhadap sebuah ideologi yang mengatakan "kamu tidak bisa menjadi orang Eropa dan Muslim pada saat yang sama."

Antropolog Scott Atran dari University of Michigan dan Pusat Riset Ilmiah Nasional di Paris, mengatakan bahwa negara-negara perlu fokus pada "energi dan idealisme yang melekat" pada anak-anak muda.

"Tanpa menyadari keinginan-keinginan mereka, kita berisiko mendorong mereka pergi," ujar Atran.

Pangeran Abdullah meminta Dewan untuk "bermitra dengan anak-anak muda, alih-alih meninggalkan mereka sebagai target kekerasan dan kerusakan."

"Kita harus mengisi kekosongan ini agar tidak dieksploitasi oleh para musuh kemanusiaan dengan membangun potensi anak muda dan memberdayakan mereka untuk meraih ambisi mereka," ujarnya.

"Ini dapat dicapai dengan membuat anak-anak muda kebal dan mempersenjatai mereka dengan pendidikan yang berkualitas, kesempatan kerja yang baik dan kehidupan yang pantas."

Ia mengatakan bahwa Yordania akan menjadi tuan rumah konferensi internasional pertama mengenai "Peran Anak Muda dalam Menciptakan Perdamaian yang Berkelanjutan" bulan Agustus dalam kemitraan dengan PBB.

XS
SM
MD
LG