Tautan-tautan Akses

Agama dan Tradisi Hambat Penanggulangan HIV-AIDS di Papua

  • Nurhadi Sucahyo

Pendeta Sefnat JD Lobwaer dalam sebuah kegiatan terkait HIV-AIDS di Papua.

Pendeta Sefnat JD Lobwaer dalam sebuah kegiatan terkait HIV-AIDS di Papua.

Sejumlah Orang Dengan HIV-AIDS (ODHA) di Papua memutuskan untuk berhenti menggunakan anti retroviral (ARV), obat yang menopang kesehatan fisik mereka. Padahal keputusan ini bisa berakibat fatal. Setidaknya ada dua alasan yang melatarbelakangi keputusan mereka, yaitu faktor agama dan pengobatan tradisional.

Sebagai pemimpin agama di Papua, Pendeta Sefnat JD Lobwaer yakin betul dengan kekuatan doa. Begitu pula dia meyakini bahwa mukjizat itu memang ada. Namun, sebagai aktivis dalam kegiatan terkait HIV-AIDS, dia juga memahami bahwa doa saja tidak bisa menjadikan seorang ODHA sembuh.

Karena itu, Ketua Departemen Gereja Sidang-Sidang Jemaat Allah (GSJA) ini mengaku sangat prihatin oleh keputusan sejumlah ODHA di Papua, yang tidak lagi mengkonsumsi ARV. Keprihatinan itu semakin mendalam, karena ternyata hal itu didorong oleh sejumlah kecil pendeta yang menyatakan, bahwa HIV-AIDS bisa disembuhkan dengan mukjizat doa.

Sefnat JD Lobwaer yang biasa dipanggil Pendeta Steve mengatakan, setidaknya sudah 3 orang yang secara pribadi dekat dengan dirinya meninggal karena hal itu. Salah satunya meninggal tiga minggu yang lalu, seorang gadis yang terdeteksi dengan HIV pada 2004. Setahun kemudian, gadis ini mulai mengkonsumsi ARV dan hidup sehat bahkan sempat kuliah. Namun beberapa waktu lalu dia memutuskan berhenti mengkonsumsi ARV, hingga kemudian meninggal dunia.

“Secara psikis, teman-teman yang terinfeksi ini kan memiliki pengharapan akan kesembuhan. Tetapi secara medis, sampai saat ini kan belum ditemukan vaksin yang bisa membunuh virus HIV. Saat ada tawaran kesembuhan, maka dengan mudah teman-teman ini menerima tawaran itu. Apalagi dikaitkan dengan sisi religious. Biasanya tokoh-tokoh agama yang mengungkapkan bahwa mereka mendapatkan kewahyuan,terus dengan dalil-dalil religi, mereka mendukung ODHA ini untuk berdoa, dan setelah waktu yang mereka tetapkan untuk berdoa itu selesai mereka dinyatakan sudah sembuh, sayangnya kesembuhan ini tidak dikonfirmasikan secara medis. Sehingga teman-teman ini percaya dan beberapa waktu kemudian menjadi drop,” ujarnya.

Pendeta Steve mengaku tidak memiliki data jumlah ODHA yang meninggal karena tidak mau mengkonsumsi ARV lagi dan beralih ke penyembuhan doa. Tetapi menurutnya, fenomena ini sudah terjadi dalam beberapa tahun terakhir di berbagai daerah di Papua. Pernah ada satu kegiatan untuk membicarakan hal ini di Jayapura beberapa waktu lalu dengan mengumpulkan para pendeta, tetapi hanya sekali diselenggarakan karena ketiadaan dana.

Dia mendorong ditumbuhkannya kesadaran dan pemahaman lebih besar di kalangan pendeta terhadap isu-isu terkait HIV-AIDS. Pemimpin agama adalah pihak yang punya peran besar dalam masyarakat Papua. Pemerintah daerah, Komisi Penanggulangan AIDS. Daerah dan seluruh pihak terkait harus bekerja sama lebih erat dengan pemimpin agama dalam isu ini. Jika tidak dilakukan, bukan tidak mungkin korban akan terus muncul karena kekeliruan memahami peran agama dan pemimpin agama bagi ODHA.

“Saya pernah menulis tentang kesembuhan Illahi dengan doa, apakah itu sebuah kebenaran? Tetapi itu juga dibantah oleh teman-teman pendeta yang menganggap bahwa tulisan saya itu menantang keberadaan mukjizat. Padahal tulisan saya sebenarnya ingin menyampaikan ke teman-teman pendeta bahwa mukjizat terkait kesehatan itu perlu konfirmasi medis,” tambahnya.

Pada kasus berbeda di Merauke, ada banyak pula ODHA yang berhenti mengkonsumsi ARV karena percaya pada pengobatan alternatif, terutama dengan bahan tanaman tradisional. Ada sejumlah penyedia pengobatan alternatif yang beroperasi menyasar kalangan ini. Tidak ada bukti ilmiah bahwa obat yang mereka tawarkan memberi dampak positif bagi ODHA. Namun kondisi psikologis yang penuh tekanan, menyebabkan ODHA cenderung percaya kepada janji palsu semacam itu.

Dalam penelusuran VOA, obat-obat semacam ini banyak diiklankan secara terselubung melalui internet. Obat-obat ini dikatakan dibuat menggunakan tanaman asli Papua dan dijamin bisa menyembuhkan ODHA. Ada sejumlah kisah pengakuan ODHA yang menyertai iklan tersebut, tetapi tidak dapat ditelusuri kebenarannya.

Sekretaris Komisi Penanggulangan Aids Merauke, Tuban Sriyono kepada VOA mengatakan, keputusan ODHA semacam itu sebenarnya sangat berbahaya. Berhenti mengkonsumsi ARV dapat menimbulkan resistensi obat.

“Mereka berhenti mengkonsumsi ARV tetapi beberapa waktu kemudian mereka balik lagi ke pusat layanan. Sebenarnya menurut saya, pengobatan alternatif itu sekedar memberi sugesti saja, karena tidak memberikan pengaruh positif dan akhirnya harus kembali ke pengobata dengan ARV dari awal lagi. Kalau dilakukan terus menerus, ini kan bisa menimbulkan resistensi terhadap obat,” katanya

Merauke sebenarnya dinilai cukup mampu dalam menerapkan program-program penanggulangan HIV-AIDS di Papua. Tuban Sriyono mengakui, pemerintah daerah setempat memberikan dukungan penuh dalam program-program terkait ODHA. Dulu, kabupaten ini menempati urutan teratas jumlah penderita dan kini turun hingga posisi kelima. Secara kumulatif ada lebih dari 1900 kasus di Merauke, dimana ibu rumah tangga mendominasi dengan 17,8 persen. Sejak Januari-Mei 2016, tercatat 20 ODHA meninggal dunia di Merauke. Kasus beralihnya pengobatan para ODHA dari ARV ke cara tradisional ini layak diperhatikan untuk mencegah meningkatnya kembali jumlah ODHA di Merauke.

“Balai POM sangat kita harapkan kerjasamanya untuk proaktif dalam masalah ini, karena sudah meresahkan masyarakat. Kita sudah pernah mengumpulkan instansi terkait dan memanggil pihak-pihak yang menawarkan pengobatan alternatif itu untuk memberikan penjelasan terkait obat-obat yang mereka dagangkan, tetapi ternyata mereka tidak berani untuk hadir,” ujar Tuban.

Data Kementerian Kesehatan menyebutkan, penyebaran HIV mencapai 2,3 persen dari populasi Papua, jauh di atas angka rata-rata nasional yang 0,45 persen. Di seluruh dunia, penyebaran ini telah menunjukkan tren penurunan sekitar 35 persen, tetapi angka di Papua cenderung stabil. Jumlah ODHA di Papua saat ini tercatat sekitar 26.000 lebih, di mana 16 ribu orang dengan HIV dan 10 ribu dengan Aids. Tetapi para aktivis meyakini jumlah sebenarnya melebihi angka tersebut.

Telah banyak laporan dibuat berisi kekhawatiran,bahwa suku-suku kecil di Papua akan musnah dalam 5-10 tahun ke depan, jika tidak ada pencegahan HIV-Aids secara lebih baik. Namun belum terlihat ada upaya serius, baik dari pemerintah daerah maupun pusat untuk menganggulangi penyebaran HIV-AIDS di Papua. [ns/ab]

XS
SM
MD
LG