Tautan-tautan Akses

Pemerintah Afrika Tengah Desak Milisi Berhenti Ancam Warga Muslim


Warga Muslim di Bangui, Republik Afrika Tengah dikecam ketakutan oleh ancaman milisi (foto: dok).

Warga Muslim di Bangui, Republik Afrika Tengah dikecam ketakutan oleh ancaman milisi (foto: dok).

Kota Boda adalah salah satu kota terakhir di Republik Afrika Tengah bagian barat yang masih dihuni oleh sejumlah besar Muslim.

Pasukan pemelihara perdamaian dan organisasi-organisasi bantuan berusaha meredakan ketegangan antara golongan Kristen dan Muslim di sebuah daerah pertambangan berlian di Republik Afrika Tengah. Kota Boda adalah salah satu kota terakhir di Republik Afrika Tengah bagian barat yang masih dihuni oleh sejumlah besar Muslim.

Pemerintah Republik Afrika Tengah mengatakan kepada para anggota milisi di sana agar berhenti mengancam warga Muslim, tetapi para anggota milisi mengatakan warga Muslim harus meninggalkan tempat itu.

Dalam tiga bulan belakangan ini lebih dari 100.000 Muslim telah melarikan diri ke Republik Afrika Tengah bagian barat, tetapi puluhan ribu lagi terperangkap di daerah-daerah kumuh dan terancam oleh anti-Balaka, kelopok-kelompok yang umumnya Kristen dan membuat kaum Muslim terpaksa melarikan diri.

Kawasan kumuh terbesar di luar Ibukota, Bangui, terletak di kota Boda, pusat pertambangan berlian di mana terdapat kira-kira 12.000 sampai 14.000 orang Muslim.

Kira-kira dua pekan lalu, pemerintah Republik Afrika Tengah mengirim delegasi ke Boda, dipimpin oleh Joachin Kokate, koordinator anti-Balaka dan juga penasihat pemerintah. Kokate kembali dan melaporkan anti-Balaka telah sepakat tidak akan menyerang warga Muslim di Boda.

VOA memutuskan untuk melakukan penyelidikan dan tiba di Boda tanggal 19 Maret. Jalan menuju kota itu penuh dengan gedung-gedung tanpa atap yang telah hangus terbakar. Supir dan pemandu petugas VOA, seorang Kristen gelisah ketika memasuki daerah Muslim.

Dia bertanya pada seorang Kristen di tepi jalan apakah orang-orang Muslim, yang berada di ujung jalan, bersenjata.

Mobil kami terus jalan dan tiba di pos pemeriksaan Muslim. Kata pemandu kami, “Halo, apa khabar? Kami sangka Anda akan membunuh kami, tetapi untunglah tidak.”

Seorang pemuda Muslim menjawab, “Kami tidak membunuh atau menyakiti siapapun.”

Tetapi, itu tidak berarti masyarakat di sana berdamai. Meskipun 80 petugas penjaga perdamaian Perancis berada di sana, dan helikopter-helikopter mereka berputar-putar di atas,, semua Muslim di Boda yang diajak bicara oleh VOA mengatakan, mereka ingin meninggalkan tempat itu.

Beberapa orang mengatakan Perancis telah memperbaiki keamanan, tetapi masih ada ancaman, bahwa granat-granat dilempar ke daerah mereka beberapa hari lalu, dan beberapa mayat warga Muslim mengapung di sungai pada akhir pekan.

Pedagang berlian Mahmat Adoum, yang mengatakan dia lahir di sana dan tidak pernah keluar negaranya, menyimpulkan suasana pada umumnya. Ia mengatakan, semua orang ingin pergi dari tempat itu karena tidak aman, warga Kristen menghendaki mereka pergi dan tidak mungkin bagi warga Muslim bergerak lebih dari 200 meter dari kawasan tempat tinggal mereka.

Dan, kalau warga Muslim meninggalkan Boda dan bisnis berlian mereka, dia memperkirakan, riwayat mereka akan tamat di bagian barat negara itu.
(Nick Long/VOA)
XS
SM
MD
LG