Tautan-tautan Akses

Afghanistan Tandatangani Perjanjian Perdamaian dengan Kelompok Pemberontak


Amin Karim, perwakilan dari Gulbuddin Hekmatyar (kanan) dan Attaurahman Saleem, kepala delegasi perjanjian perdamaian (kiri) bertukar dokumen seusai penandatanganan kesepakatan perdamaian di Kabul, Afghanistan, 22 September 2016. (AP Photo/Rahmat Gul)

Amin Karim, perwakilan dari Gulbuddin Hekmatyar (kanan) dan Attaurahman Saleem, kepala delegasi perjanjian perdamaian (kiri) bertukar dokumen seusai penandatanganan kesepakatan perdamaian di Kabul, Afghanistan, 22 September 2016. (AP Photo/Rahmat Gul)

Ini adalah perjanjian perdamaian pertama dalam 15 tahun perang yang dilancarkan Taliban setelah digulingkan oleh koalisi militer pimpinan AS pada akhir 2001.

Pemerintah persatuan Afghanistan telah menandatangani perjanjian perdamaian yang sudah lama tertunda dengan kelompok pemberontak terbesar kedua di negara itu.

Gencatan senjata terobosan dengan faksi Hizb-Islami (HIG) ini ditandatangani Kamis dengan harapan dapat meringankan tantangan keamanan yang dihadapi bangsa yang dikoyak perang itu dan mendorong kelompok-kelompok pemberontak lainnya untuk berpartisipasi dalam proses perdamaian.

Ini adalah perjanjian perdamaian pertama dalam 15 tahun perang yang dilancarkan Taliban setelah digulingkan oleh koalisi militer pimpinan AS pada akhir 2001.

Hizb-Islami dipimpin oleh Gulbuddin Hekmatyar, seorang komandan gerilya yang pasukannya berperang melawan Uni Soviet pada 1980-an. Setelah itu milisinya berjuang melawan Taliban untuk menguasai Afghanistan selama perang sipil brutal tahun 1990-an.

Penasihat Keamanan Nasional Afghanistan Hanif Atmar menandatangani kesepakatan dengan kepala perunding Hekmatyar, Karim Amin, dalam sebuah upacara yang disiarkan secara nasional.

Perjanjian tersebut akan memungkinkan panglima perang yang menjadi buronan dan dinyatakan sebagai "teroris global" itu untuk kembali ke politik nasional setelah bertahun-tahun dalam persembunyian, yang diduga di negara tetangga Pakistan.

Penandatanganan itu memicu protes dari para aktivis hak asasi manusia yang berbaris di ibu kota, membawa poster yang mengecam Hekmatyar sebagai "Tukang Jagal dari Kabul."

Selama upacara Kamis (22/9), Atmar berusaha meredakan kekhawatiran tersebut, dan meyakinkan para pengecam bahwa perjanjian tersebut tidak berisi ketentuan yang akan menghambat kemajuan Afghanistan dalam mempromosikan hak asasi manusia. [as/ab]

XS
SM
MD
LG