Tautan-tautan Akses

Afghanistan Didesak untuk Berunding Lagi dengan Taliban

  • Ayaz Gul

Pemimpin Taliban Afghanistan yang baru, Mullah Akhtar Mohammad Mansour (foto: dok).

Pemimpin Taliban Afghanistan yang baru, Mullah Akhtar Mohammad Mansour (foto: dok).

Pakistan dan pendukung pemerintah Afghanistan yang dipimpin Amerika menekankan perlunya Afghanistan dan Taliban memulai kembali perundingan perdamaian.

Kekhawatiran semakin besar bahwa sebuah jeda berkepanjangan akan dimanfaatkan oleh kelompok seperti ISIS, dan juga pihak-pihak lain yang bermaksud mengail di air keruh, untuk menghasut dan memicu pertentangan di Afghanistan, serta membalikkan hubungan yang baru-baru ini membaik antara Kabul dan Islamabad.

Pembeberan akhir bulan lalu tentang kematian pemimpin Taliban Mulah Omar telah mengganggu pembicaraan perdamaian yang baru berlangsung beberapa minggu dan ditengahi oleh Pakistan. Ini merupakan kontak langsung yang pertama antara pemerintah Afghanistan dan Taliban selama kurun waktu 14 tahun. Kejadian ini juga dihadiri oleh pejabat Amerika dan Tiongkok yang berperan sebagai pengamat.

Di bawah kepemimpinan pengganti Omar, Mulah Akhtar Mansour, Taliban telah melakukan serangan mematikan di Afghanistan, sehingga meningkatkan tekanan pada Presiden Ashraf Ghani untuk tidak melanjutkan perundingan dan mempertimbangkan kembali pendekatannya ke Pakistan.

Banyak warga Afghanistan menuduh Islamabad sebagai dalang dari pertumpahan darah baru-baru ini, khususnya di Kabul. Ketegangan ini telah mengarah pada bentrokan maut di perbatasan dalam beberapa hari terakhir ini, sementara ikhtiar untuk memperluas hubungan ekonomi mengalami kemunduran.

Utusan Khusus Uni Eropa untuk Afghanistan Franz-Michael Mellibin, menekankan pentingnya pemimpin-pemimpin Pakistan dan Afghanistan untuk secara cepat memperkecil perbedaan diantara mereka.

“Kejadian baru-baru ini mengarah pada sebuah titik balik dalam hubungan bilateral dan masa depan perundingan perdamaian. Jadi, semua yang mendambakan perdamaian harus mengusahakan pertemuan dan bekerja sama dalam rangka menciptakan kondisi yang memungkinkan dimulainya pembicaraan perdamaian dan memungkinkan proses ini melangkah maju... Juga akan ada kekuatan lain di sana yang akan mencoba proses ini gagal melangkah maju,” kata Mellibin.

Meskipun ada tekanan domestik yang kuat, Mellibin mengatakan, perdamaian dan rekonsiliasi dengan Taliban tetap harus menjadi prioritas utama Presiden Ghani, dan dia tampaknya berkomitmen kuat untuk membina sebuah jalan menuju hubungan lebih baik dengan Pakistan.

“Berita baiknya adalah, perundingan dan pemikiran yang sedang berlangsung di Kabul kini adalah mengusahakan revitalisasi usaha pendekatan Ghani ke Pakistan dan gagasan-gagasannya untuk menciptakan sebuah proses rekonsiliasi dan perdamaian dengan Taliban,” tambahnya.

Penguasa Afghanistan menuduh komandan dan anggota-anggota Taliban melakukan pertemuan di Pakistan dan mengirim pesan permusuhan kepada Afghanistan. Seorang jurubicara kepresidenan di Kabul, Sayed Zafar Hashimi, menuntut Pakistan agar menghentikan kegiatan seperti itu.

“Sikap kami sudah jelas sehubungan hal ini,” kata jurubicara kepresidenan Afghanistan, “Kami ingin Pakistan mengambil tindakan terhadap semua kelompok itu yang beroperasi dari wilayahnya dan hendak mencelakakan rakyat Afghanistan.”

Tunjukkan komentar

XS
SM
MD
LG