Tautan-tautan Akses

Afghanistan Capai Perjanjian Damai dengan Kelompok Pemberontak


Perwakilan pemerintah Afghanistan, Attaurahman Saleem (kiri) dan Amin Karim, wakil dari kelompok Hizb-Islami (HIG), bertukar dokumen usai penandatanganan perjanjian damai di Kabul, Afghanistan, Kamis (22/9).

Perwakilan pemerintah Afghanistan, Attaurahman Saleem (kiri) dan Amin Karim, wakil dari kelompok Hizb-Islami (HIG), bertukar dokumen usai penandatanganan perjanjian damai di Kabul, Afghanistan, Kamis (22/9).

Pemerintah Afghanistan Kamis (22/9) menandatangani perjanjian perdamaian dengan kelompok pemberontak terbesar kedua di negara itu, Hizb-Islami (HIG), yang dipimpin Gulbuddin Hekmatyar.

Pemerintah persatuan Afghanistan, setelah berbulan-bulan mengadakan perundingan yang sulit, menandatangani rancangan perjanjian perdamaian yang telah lama tertunda-tunda dengan kelompok pemberontak terbesar kedua di negara itu, yang dipimpin oleh panglima perang buronan yang terkenal karena kejahatan perang dan pelanggaran HAM-nya.

Perjanjian yang ditandatangani hari Kamis (22/9) dengan faksi HIG itu muncul di tengah-tengah harapan bahwa ini akan mengurangi tantangan keamanan yang dihadapi negara yang dicabik-cabik perang tersebut, dan akan mendorong kelompok-kelompok pemberontak lain yang berjuang bersama Taliban untuk bergabung dalam proses perdamaian.

Ini adalah perjanjian perdamaian pertama dalam 15 tahun perang Afghanistan yang dimulai oleh Taliban, setelah kelompok itu disingkirkan oleh koalisi militer pimpinan Amerika pada tahun 2001.

Hizb-Islami dipimpin oleh Gulbuddin Hekmatyar, komandan gerilya yang telah lama berjuang melawan Uni Soviet pada tahun 1980-an dan kemudian milisinya bertempur melawan Taliban untuk menguasai Afghanistan dalam perang saudara yang brutal pada tahun 1990-an.

Penasihat Keamanan Nasional Afghanistan Hanif Atmar menandatangani perjanjian itu dengan ketua tim perunding Hekmatyar, Karim Amin, dalam upacara yang disiarkan secara nasional.

Hal ini akan memungkinkan panglima perang yang menjadi buronan itu, dan ditetapkan sebagai teroris global, kembali ke kancah politik nasional setelah bertahun-tahun bersembunyi, diduga di negara tetangga, Pakistan. [uh/ab]

XS
SM
MD
LG