Tautan-tautan Akses

ADB: Melambungnya Harga Pangan Dorong 60 Juta Warga Jatuh Ke Jurang Kemiskinan Ekstrim

  • Brian Padden

Kenaikan harga di Tiongkok meningkat sebesar 4,5 persen selama setahun ini, dipicu kenaikan harga pangan sebesar 11 persen.

Kenaikan harga di Tiongkok meningkat sebesar 4,5 persen selama setahun ini, dipicu kenaikan harga pangan sebesar 11 persen.

Studi Bank Pembangunan Asia menggarisbawahi akibat naiknya harga pangan yang akan mendorong 60 juta warga ke bawah garis kemiskinan.

Studi yang dilakukan Bank Pembangunan Asia (ADB) menyatakan harga bahan pangan dalam negeri di banyak perekonomian regional naik rata-rata sebesar 10 persen pada awal 2011.

Xianbin Yao adalah Dirjen Departemen Regional dan Pembangunan yang Berkesinambungan ADB. Ia mengatakan kenaikan tajam ini akan membuat 64 juta orang lagi jatuh ke jurang kemiskinan yang ekstrim. Ia mengatakan, “Asia, meskipun pertumbuhan ekonominya pesat, tetapi masih tempat tinggal orang termiskin terbanyak di dunia. Sekitar 900 juta orang hidup dalam kemiskinan mutlak, dua pertiga jumlah pendapatan mereka untuk pangan. Jadi, dengan kenaikan harga bahan pangan sebesar 10 persen, pendapatan nyata mereka terkikis.”

Sebagian inflasi harga pangan memang sudah diperkirakan, tetapi laporan ADB ini menyebutkan kenaikan harga pangan di Asia secara cepat dan terus menerus berbarengan dengan harga minyak yang naik tajam bisa melemahkan ekonomi Asia.

Jika kenaikan harga pangan dan minyak global yang terjadi diawal tahun 2011 berlangsung terus menerus, kata laporan ini, pertumbuhan ekonomi di Asia akan berkurang sebanyak 1,5 persen.

Laporan ADB menyebutkan berbagai kondisi yang menyebabkan kenaikan harga pangan tahun 2008 muncul lagi. Ini termasuk meningkatnya permintaan dari negara-negara maju, semakin berkurangnya lahan pertanian dan panen yang tak bertambah atau berkurang. Tahun ini juga, melemahnya dolar dan menurunnya produksi akibat cuaca buruk juga bisa mendorong kenaikan harga yang lebih tinggi.

Guna menghindari memburuknya krisis itu, Yao mengatakan negara Asia yang memiliki surplus cadangan beras atau biji-bijian lain hendaknya jangan memberlakukan larangan ekspor pangan. “Bank Pembangunan Asia telah bekerjasama dengan kelompok negara-negara ini untuk menciptakan sistem semacam itu untuk ikut mengatasi keadaan darurat di masa mendatang-apabila satu negara harus mengimpor pangan dan negara lain bisa menyediakan, jadi lebih ke pendekatan yang kooperatif bukan pendekatan yang berkompetisi," ujar Yao.

Yao mengatakan dalam jangka panjang, perekonomian Asia harus berinvestasi lebih banyak pada sektor pertanian untuk meningkatkan produksi pangan dan memperbanyak fasilitas penyimpanan.

XS
SM
MD
LG