Tautan-tautan Akses

Abu Sayyaf Sengaja Sasar Warga Indonesia

  • Fathiyah Wardah

Menteri Luar Negeri Retno Marsudi memberikan jumpa pers tentang penyanderaan tiga WNI oleh kelompok pemberontak Abu Sayyaf, di kantornya di Jakarta hari Senin, 11/7. (VOA/Fathiyah Wardah)

Menteri Luar Negeri Retno Marsudi memberikan jumpa pers tentang penyanderaan tiga WNI oleh kelompok pemberontak Abu Sayyaf, di kantornya di Jakarta hari Senin, 11/7. (VOA/Fathiyah Wardah)

Kelompok bersenjata Abu Sayyaf kembali menyandera tiga warga negara Indonesia. Panglima TNI Jenderal Gatot Nurmantyo menilai Abu Sayyaf memang sengaja menyasar warga negara Indonesia untuk dijadikan sandera.

Milisi Abu Sayyaf, yang beroperasi di Filipina Selatan, kembali menyandera tiga warga negara Indonesia. Insiden terbaru yang terjadi Sabtu lalu (9/7) merupakan insiden penyanderaan keempat dalam empat bulan terakhir. Kelompok bersenjata Isnilon Totoni Hapilon itu pertama kali menyandera warga Indonesia April lalu. Sepuluh warga Indonesia yang bekerja di dua kapal nelayan tak berkutik ketika disergap di perairan. Selang satu bulan, empat awak kapal kembali diculik dan disandera. Disusul penyanderaan tujuh lainnya Mei lalu.

Usai rapat koordinasi di kantor Kementerian Koordinator Bidang Politik, Hukum, dan Keamanan di Jakarta Senin siang (11/7), Panglima Tentara Nasional Indonesia Jenderal Gatot Nurmantyo menilai Abu Sayyaf sengaja menyasar warga negara Indonesia untuk dijadikan sandera.

"Mungkin kita terlalu persuasif, bisa jadi seperti itu. Mungkin alasan ekonomi atau alasan politik lainnya, harus kita analisa dengan benar. Tapi yang jelas ini tanggung jawab Malaysia karena kapalnya berbendera Malaysia, beroperasi di wilayah Malaysia, dan tenaga kerja kita dengan membawa paspor legal di sana," kata Gatot.

Ditambahkannya, Indonesia sudah memenuhi pemerintah Filipina dan Malaysia untuk meningkatkan keamanan di kawasan perairan yang berbatasan dengan ketiga negara itu, tetapi aksi penculikan dan penyanderaan masih terjadi.

Dalam kesempatan berbeda Menteri Luar Negeri Retno Marsudi menjelaskan proses penculikan dan penyanderaan hari Sabtu (9/7) itu. Menurut Retno, perompakan atas kapal pukat penangkap ikan LLD113/5/F berbendera Malaysia di perairan sekitar Felda Sahabat, Lahad Datu, Malaysia itu terjadi sekitar jam 23.30 malam. Pemilik kapal baru melaporkan kejadian itu kepada Kepolisian Lahad Datu pada hari Minggu (10/7). Menurut informasi yang diterima, kapal ikan itu disergap oleh satu perahu cepat berpenumpang lima lelaki bersenjata api. Kepolisian Lahad Datu, ujar Retno, telah membenarkan penculikan tersebut dan sekaligus mengukuhkan bahwa ketiga warga negara Indonesia itu memang memiliki ijin kerja resmi di Malaysia. Pihak penculik dikabarkan sudah menghubungi pemilik kapal melalui sandera hari Minggu.

Terkait nasib tujuh warga negara Indonesia yang juga disekap gerombolan Abu Sayyaf sejak Mei lalu, Retno mengatakan pemerintah telah berkomunikasi dengan mereka melalui telepon.

"Dari tujuh ABK kapal ikan itu, tiga diculik dan empat dibebaskan. ABK diculik seluruhnya warga negara Indonesia. Penculik membawa sandera ke arah perairan Tawi-tawi, Filipina Selatan," kata Retno.

Menteri Luar Negeri Indonesia Retno Marsudi telah melakukan pertemuan dengan Menteri Luar Negeri Filipina Perfecto Rivas Yasay dua pekan lalu di ibukota Manila. Selain membahas berbagai isu, termasuk soal penyanderaan, Retno juga menyampaikan surat Presiden Joko Widodo kepada presiden terpilih yang baru Rodrigo Duterte. Dalam surat itu presiden secara khusus meminta perhatian pemerintah Filipina terhadap penyanderaan warga negara Indonesia yang makin kerap terjadi. Permintaan itu disampaikan kembali ketika Presiden Joko Widodo berbicara secara langsung melalui telfon dengan Presiden Duterte Kamis lalu (7/7).

"Kejadian-kejadian seperti ini merupakan hal tidak dapat ditolerir dan kita minta agar pemerintah Filipina dan Malaysia berupaya keras menjaga wilayah darat dan perairan mereka. Khusus kepada pemerintah Filipina, kita akan meminta upaya keras pemerintah Filipina agar segera dapat membebaskan sandera kita," kata Retno.

Abu Sayyaf adalah sempalan kelompok gerilyawan Front Pembebasan Islam Moro MILF. Kelompok ini dibentuk oleh Abdurrazak Abu Bakar Janjalani sebagai reaksi ketidakpuasan warga di Filipina Selatan. Pada 23 Juli 2014, pemimpin Abu Sayyaf Isnilon Totoni Hapilon berbaiat kepada pemimpin ISIS (Negara Islam Irak dan Suriah) Abu Bakar al-Baghdadi. Dua bulan kemudian, milisi ini mulai menculik warga asing demi menuntut uang tebusan. [fw/em]

Tunjukkan komentar

XS
SM
MD
LG