Tautan-tautan Akses

CONDOLEEZA RICE: BAKAL MENLU BARU AMERIKA - 2005-01-25


Pekan ini rakyat Amerika menyaksikan Senat Amerika menguji apakah Condoleeza Rice cocok menjadi Menteri Luar Negeri Amerika berikutnya. Hari Selasa dan Rabu, selama 13 jam para Senator mengajukan pertanyaan mengenai berbagai isu kepada Condoleeza Rice. Berkat sidang konfirmasi inilah, Condoleeza Rice yang semula berperan di belakang layar sebagai staf teras Gedung Putih berubah menjadi perempuan Amerika yang paling terkenal di seluruh dunia.

Komisi Hubungan Luar Negeri Senat hari Rabu mengukuhkan bahwa tokoh istimewa ini pantas mewakili wajah kebijakan luar negeri Amerika. Dalam waktu dekat, keseratus anggota Senat akan menyetujui pengangkatan Condoleeza Rice sebagai Menteri Luar Negeri.

Selama empat tahun, Condoleeza Rice menjadi penasihat terdekat Presiden Bush. Ia menjadi penasihat kebijakan luar negeri George W. Bush selama masa kampanye menjelang pemilihan presiden tahun 2000. Setelah terpilih, Presiden Bush mengangkat Condoleeza Rice menjadi Penasihat Keamanan Nasional.

Sekarang, Condoleeza Rice yang semula memegang peran di balik layar, berubah peran akan berbicara secara tegas dan terbuka mengenai kebijakan Amerika kepada dunia.

Ini adalah saat yang sangat penting dalam sejarah Amerika. Condoleeza Rice, seorang perempuan kulit hitam, menggantikan Colin Powell, orang kulit hitam pertama yang menjadi Menteri Luar Negeri Amerika. Condoleeza Rice adalah perempuan kedua yang menduduki jabatan ini. Yang pertama adalah Madeleine Albright, di bawah Presiden Bill Clinton.

Kebetulan sekali bahwa sidang pengukuhan Condoleeza Rice dilakukan dua hari setelah perayaan hari Martin Luther King Jr, tokoh hak asasi yang memperjuangkan kesetaraan ras di Amerika.

Condoleeza Rice berumur sembilan tahun ketika Martin Luther Jr. mengucapkan pidatonya yang paling terkenal, “Aku punya impian, bahwa pada suatu hari nanti, keempat orang anak saya akan hidup di negara, di mana seseorang tidak dinilai berdasar warna kulitnya, tetapi kepribadiannya.”

Sekarang Condoleeza Rice, yang umurnya sama dengan anak tertua Martin Luther King Jr, mencapai puncak kekuasaan politik, menduduki urutan keempat pengganti presiden. Sekarang ini, urutan pengganti seandainya Presiden tidak dapat menjalankan tugasnya adalah Wakil Presiden Dick Cheney, Ketua DPR John Dennis Hastert, Ketua Senat Pro Tempore (yang memimpin Senat selagi Ketua Senat, yaitu Wakil Presiden Dick Cheney, tidak di tempat) Ted Stevens, dan Menteri Luar Negeri. Bahkan orang-orang yang pandangan politiknya berbeda dengan Condoleeza Rice merasa kagum. Dr. Julienne Malveaux, seorang perempuan kulit hitam terkemuka, mengatakan: “Banyak di antara kami yang berperasaan campur aduk, antara bangga atas prestasinya, dan kecewa karena perannya dalam pemerintahan yang menghamburkan dana dan mengorbankan jiwa di Irak.”

Pandangan seperti itu juga tercemin dalam sidang dengar keterangan Senat pekan lalu. Banyak Senator memuji kemampuannya, tetapi terutama dalam isu Irak, beberapa Senator mengajukan pertanyaan-pertanyaan pedas dan keras mengenai perannya dalam mendorong dan mendukung Perang Irak.

Berbeda dengan Menteri Luar Negeri Colin Powell, Condoleeza Rice memiliki hubungan kerja dan persahabatan sejak lama dengan Presiden Bush. Ia berjanji akan memulihkan peran diplomasi dalam kebijakan luar negeri Amerika. Namun ia tetap akan berpegang teguh pada kebijakan Presiden.

Rakyat Amerika tampaknya sangat tertarik pada pribadi Condoleeza Rice. Tetapi mereka berbeda pendapat mengenai apakah ia akan menjadi Menteri Luar Negeri yang baik. Rakyat juga berbeda pendapat mengenai Perang Irak dan Presiden Bush, yang dalam jajak pendapat terbaru mendapat dukungan 49 persen.

Hanya waktu yang akan membuktikan apakah sikap Condoleeza Rice yang tegas dan terbuka akan dapat menghilangkan ketegangan-ketegangan yang timbul selama empat tahun terakhir, dan memperbaiki citra Amerika di mata dunia. (VOA/Leon Howell/Djoko Santoso)

XS
SM
MD
LG