Tautan-tautan Akses

Pemilihan Presiden Amerika 2004 - 2004-11-10


Pemilihan Presiden Amerika telah berakhir dengan kemenangan tipis yang diraih oleh Presiden George W. Bush. Hasil penghitungan suara menunjukkan Bush mendapat 51 persen suara dan saingannya John Kerry, 48 persen.

John Kerry, terutama pada bulan terakhir kampanye, tampaknya akan punya peluang bagus untuk mengalahkan Presiden Bush. Kata Nancy Soderberg, bekas pejabat keamanan nasional Presiden Clinton: “Saya kira banyak pendukung Partai Demokrat yang terus memantau penghitungan suara sampai jauh malam setelah semua TPS ditutup. Tapi sangat sulit untuk mengalahkan seorang Presiden pada masa perang seperti sekarang ini.”

Apakah artinya semua ini bagi rakyat Amerika dan bagi kebijaksanaan luar negeri Amerika? Kata Soderberg, kebijaksanaan LN Amerika yang baru, kemungkinan besar akan ditujukan untuk menggalang kerjasama lebih baik dengan dunia luar, dan juga dengan pihak-pihak di dalam negeri sendiri.

Tapi John O’Sullivan dari majalah “National Interest” yang diterbitkan oleh lembaga riset politik Nixon Center di Washington, tidak yakin bahwa hubungan Amerika dengan Eropa akan bertambah baik.

Kata O’Sullivan, Presiden Bush tidak akan membiarkan Eropa dikuasai oleh Perancis dan Jerman, kedua negara yang menentang perang pimpinan Amerika di Irak. Katanya lagi, Amerika tidak akan membiarkan Persatuan Eropa semakin kompak sehingga ada kemungkinan Inggris dan Italia tidak akan mau mendukung Amerika kalau terjadi lagi krisis dimasa depan.

“Saya kira pemerintahan Presiden Bush akan melihat proses integrasi Eropa dengan sikap lebih skeptis dan kritis. Ini tidak berarti Amerika akan menentang usaha Eropa itu, tapi yang jelas Amerika tidak akan mendukungnya dengan gembira,” kata O’Sullivan.

Nancy Soderberg mengatakan masalahnya tidak hanya menyangkut kebijaksanaan Amerika terhadap Persatuan Eropa saja. “Sekarang ini sikap anti-kebijaksanaan Amerika diluar negeri sedang meningkat di Amerika sendiri. Sebagian besar negara Eropa takut pada Amerika. tujuh dari 10 negara Islam di seluruh dunia menganggap Amerika sebagai ancaman militer bagi mereka.”

Kata Nancy Soderberg lagi, kerjasama internasional dalam waktu empat tahun terakhir ini bukannya maju, tapi justru mengalami kemunduran. Contohnya, krisis senjata nuklir dengan Korea Utara telah berlangsung bertahun-tahun tanpa adanya penyelesaian.

Pemerintahan Presiden Bush yang akan datang ini diperkirakan akan lebih realists, dan diharapkan akan lebih fleksibel dalam menggalang kerjasama internasional dalam menghadapi perang melawan terror.

Kata Soderberg, pemerintahan Bush dalam dua tahun terakhir telah melihat bahwa sikap mau menang sendiri, yang didasarkan pada kekuatan militer saja, tidak berhasil mencapai tujuan dan tidak membuat rakyat Amerika lebih aman.

Pita rekaman video Osama bin Ladin yang disiarkan oleh al-Jazira satu minggu sebelum pemilihan Presiden di Amerika dianggap oleh Soderberg dan O’Sullivan justru membantu kampanye Presiden Bush dengan memusatkan perhatian pada masalah terror.

Kata Nancy Soderberg, bekas pejabat keamanan nasional Presiden Clinton, itulah sebabnya Wakil Presiden Dick Cheney berkampanye dengan mengatakan, kalau Amerika memilih John Kerry, maka akan terjadi lagi serangan seperti 11 September.

“Presiden Bush terus berkampanye tentang perang melawan terror. Dia seolah mengatakan, ‘Kalian perlu saya. Saya akan membuat kehidupan kalian aman’. Dan akhirnya, rakyat Amerika memilih tidak mengganti Presiden, karena mereka ketakutan.”

Jadi apakah dengan kemenangan tipis ini, Presiden Bush bisa dikatakan telah mendapat mandat penuh dari rakyat untuk terus mendorong perang melawan terror secara agresif?

Menurut O’Sullivan dari Nixon Center, jelas Presiden Bush telah mendapat mandat penuh untuk melancarkan perang melawan terror dengan kekuatan yang lebih hebat lagi, karena itulah yang dikehendaki rakyat Amerika.

Adaptasi oleh Isa Ismail

XS
SM
MD
LG