Tautan-tautan Akses

HEBOH FLU MELANDA AMERIKA <br> Oleh: Leon Howell - 2004-10-26


Pekan lalu, 23 ekor anak harimau mati karena flu unggas di sebuah kebun binatang, 82 kilometer di timur Bangkok, Thailand. Peristiwa itu menimbulkan kecemasan di Thailand, Asia, dan hampir seluruh dunia. Virus A/H5V1 yang menjangkiti harimau itu mungkin akan dapat berubah menjadi jenis virus yang dapat menjangkiti manusia dengan dampak yang mengerikan.

Pada tahun 1918, pandemi influenza Spanyol yang menewaskan sekitar 20 juta orang di seluruh dunia, berasal dari flu unggas. Menurut para pejabat kesehatan, sudah 31 orang meninggal dunia karena flu unggas di Asia tahun 2004.

Kecemasan mengenai wabah flu merebak di Amerika pekan ini, meskipun musim flu belum mulai. Ini adapat dipahami, karena setiap tahun 36 ribu orang di Amerika meninggal dan 220 ribu lainnya harus dirawat di rumah sakit karena flu.

Setiap tahun, sekitar 90 juta orang warga Amerika yang rentan terserang flu, bayi umur 6 sampai 23 bulan, perempuan hamil, orang yang umurnya di atas 65 tahun, dan orang yang menderita sakit kronis, disuntik vaksin flu. Vaksin ini mencegah kematian. Kalaupun orang yang sudah divaksin terjangkit flu, akibatnya tidak begitu parah.

Tahun ini, system itu berantakan. Sekitar 46 sampai 48 dosis vaksin flu yang diproduksi di Inggris untuk sebuah perusahaan Amerika, awal bulan ini dinyatakan tidak dapat digunakan. Itu berarti, Amerika kehilangan separuh persediaan vaksin flu. Meskipun 3 juta dosis vaksin flu dapat didatangkan dari Kanada, kekurangan ini tidak mudah untuk ditutup, karena untuk membuat vaksin flu perlu waktu lama.

Kericuhan terjadi setelah muncul berita mengenai kekurangan vaksin flu ini. Pukul empat pagi, orang orang tua mulai antri untuk mendapat vaksin flu. Banyak yang terpaksa pulang dengan tangan hampa karena persediaan vaksin habis. Ada orang yang menunggu semalaman di dalam mobil sebelum klinik buka, agar bayi mereka mendapat vaksin. Ada juga yang pergi ke Kanada atau Meksiko untuk mendapatkan vaksin flu.

Pemerintah berusaha untuk mengatur agar cadangan vaksin flu yang berada di tangan swasta disalurkan kepada orang orang yang paling memerlukan. Tetapi kebijakan ini tidak selalu berhasil.

Harian New York Times dalam tajuknya mengatakan: Tidak dapat dipercaya, dan tidak dapat diterima bahwa negara dengan sistem kesehatan paling maju di dunia, tiba-tiba kehilangan separuh vaksin flu yang diperlukan, karena masalah di satu pabrik saja.

Wabah flu tidak selalu timbul pada waktu ada kemungkinan untuk itu. Wabah SARS yang begitu ditakuti, membuat ratusan orang meninggal dunia, tetapi tidak berkembang menjadi bencana global.

Ada berbagai penyebab terjadinya kelangkaan vaksin flu di Amerika. Antara lain, perusahaan-perusahaan farmasi tidak mau membuat vaksin, yang tidak dapat disimpan kalau tidak digunakan. Kandungan vaksin flu berubah setiap tahun. Pernah terjadi, perusahaan-perusahaan farmasi terpaksa membuang jutaan dosis vaksin flu yang tidak digunakan, tanpa menerima ganti rugi.

Ini merupakan pukulan terhadap struktur kesehatan umum Amerika. Jelas bahwa pemerintah perlu membuat sendiri persediaan vaksin flu secukupnya, atau membayar ganti rugi kepada produser, kalau persediaan vaksin tidak digunakan.

Dalam pada itu, kericuhan pengadaan vaksin flu menjadi topik hangat dalam kampanye pemilihan presiden Amerika. Khususnya di negara bagian Pennsylvania dan Florida, di mana persaingan antara Presiden Bush dan Senator John Kerry sangat ketat. Kedua negara bagian itu memiliki populasi manula sangat tinggi, dan suara mereka mungkin dipengaruhi isu ada tidaknya vaksin flu.

Senator Kerry menuduh Presiden Bush salah-urus dalam menangani sistem layanan kesehatan. Presiden Bush membalas dengan mengatakan Senator Kerry salah, karena menolak rancangan undang-undang yang mungkin dapat mencegah krisis ini.

Di Asia, bulan depan Thailand akan menjadi tuan rumah sebuah konferensi regional untuk membahas cara cara membasmi flu unggas. Organisasi Kesehatan Sedunia mengatakan, tanpa peningkatan usaha penanggulangan dalam tingkat nasional dan internasional, mungkin akan perlu bertahun-tahun untuk membasmi virus flu unggas.

Kita tidak tahu apa yang akan terjadi tahun ini, tetapi kenyataan bahwa flu dapat menjadi pandemi, sekarang atau pada tahun-tahun mendatang, seharusnya membuat masyarakat internasional memusatkan perhatian untuk menanganinya. (Adaptasi: Djoko Santoso)

XS
SM
MD
LG