Tautan-tautan Akses

PEMILIHAN PRESIDEN INDONESIA DI MATA AMERIKA <br> Leon Howell - 2004-09-14


Pemilihan presiden putaran kedua di Indonesia tanggal 20 September mendatang memiliki dua keistimewaan. Pertama, inilah untuk pertama kali rakyat Indonesia memilih langsung presiden. Kedua, sekitar 125 juta orang pemilih akan membeirkan suara dalam satu hari. Ini adalah angka tertinggi dalam sejarah. Sebagai perbandingan, pemilihan presiden Amerika tahun 2000 diikuti 106 juta orang pemilih. Di India, jumlah pemilih lebih besar, tetapi pemilu berlangsung selama beberapa hari.

Pemilihan presiden Indonesia adalah satu dari serangkaian pemilihan dalam transisi demokrasi yang terus berlangsung tahun ini di Asia, meskipun dengan laju yang tidak merata. Pemilihan presiden telah berlangsung di Taiwan dan Filipina, pemilihan Perdana Menteri di Malaysia dan India, dan pemilihan gubernur di Thailand. Tanggal 12 September, Hong Kong memilih langsung 50 persen anggota parlemen, Australia memilih Perdana Menteri bulan depan, sementara pemilihan anggota parlemen akan dilangsungkan di Taiwan bulan Desember.

Biasanya, Indonesia tidak banyak mendapat perhatian media Amerika kecuali untuk terorisme, korupsi, dan pelanggaran hak asasi. Tetapi bulan ini Lex Riefell menulis sebuah artikel panjang dan positif mengenai Indonesia dalam sebuah jurnal politik bergengsi di Amerika, Foreign Affairs. Lex Rieffel, seorang ekonom yang selama 40 tahun telah berulang kali berkunjung ke Indonesia, mengulas transisi politik yang luar biasa di Indonesia. Dalam artikel itu, ia menulis bahwa sistem demokrasi Indonesia telah dirombak secara diam diam tetapi cemerlang, dan landasan bagi sistem pemerintahan yang lebih baik telah diletakkan.

Rieffel yang selama 18 tahun bekerja dalam bidang urusan internasional untuk Departemen Keuangan Amerika, juga berpendapat bahwa perbaikan dalam bidang ekonomi telah terjadi di Indonesia selama tiga tahun terakhir ini, berkat ‘tim impian’ yang diangkat Presiden Megawati Sukarnoputri. Laju inflasi turun, hutang luar negeri berkurang, nilai tukar rupiah menguat, dan tahun ini Indonesia lepas dari pembatasan pembatasan hutang Dana Moneter Internasional.

Sebenarnya Indonesia telah menyelenggarakan pemilu sejak 49 tahun yang lalu. Tetapi pemilu bulan Juni yang menghasilkan dua pasangan calon presiden dan wakil presiden untuk maju ke pemilihan presiden putaran kedua, adalah pemilihan presiden Indonesia pertama yang langsung dan yang diharapkan tidak akan dimanipulasi. Para penguasa otokrasi sebelumnya mengatur proses pemilu untuk memastikan bahwa mereka tetap berkuasa. Pemilihan presiden putaran kedua di Indonesia bulan ini akan menjadi klimaks periode reformasi selama lima tahun yang luar biasa. Periode ini diawali tahun 1998 ketika Presiden Suharto yang memerintah dengan tangan besi, tersingkir dari jabatan setelah berkuasa selama tiga dasawarsa. Amandemen konstitusi mengubah proses politik, termasuk ditetapkannya pemilihan presiden langsung tahun ini.

Bulan April yang lalu, parlemen baru terpilih. Kalahnya PDI-P yang dipimpin Presiden Megawati Sukarnoputri menunjukkan terbukanya pemilu. Presiden Megawati berhasil muncul pada urutan kedua dalam pemilihan presiden bulan Juli. Sekarang, Presiden Megawati akan berhadapan dengan calon presiden yang memperoleh suara terbanyak dalam pemilihan bulan Juli, Jenderal Purnawirawan Susilo Bambang Yudhoyono, yang dikenal dengan sebutan SBY.

Banyak isu yang menjadi faktor. Lex Rieffel berpendapat, pemilu bulan April dan Juli mengukuhkan kekuatan Islam moderat di Indonesia, negara dengan populasi Muslim terbesar di dunia. Tokoh Muslim moderat memimpin kelima partai Islam yang ikut dalam kedua pemilu pertama tahun ini. Partai SBY yang berhaluan sekular memperoleh sepertiga suara dalam pemilu bulan Juli. Farish A. Noor, seorang pengamat politik Malaysia mengatakan: “Indonesia pantas menjadi teladan progresivisme Islam.”

Kekuatan tentara, yang dulu dominan dan masih diandalkan untuk menangani gerakan separatis dan teroris, sangat berkurang. Menurut Lex Rieffel, tentara tidak lagi mendominasi bidang politik dan ekonomi, dan tidak lagi menguasai perusahaan perusahaan negara. Lex Rieffel berpendapat, ribuan perusahaan kecil dan menengah mengisi kekosongan yang ada. Taruhannya sangat besar. Pengeboman di Kedutaan Besar Australia di Jakarta Kamis lalu, serangan teroris yang kedua dalam tiga tahun, 11 hari sebelum pemilihan presiden putaran kedua, membangkitkan kembali momok terorisme. Kedua calon presiden mengutuk keras pengeboman itu.

Andrew Ellis, pengamat di Institut Demokrasi Stockholm berpendapat “dunia akan mengamati dan mencatat keberhasilan Indonesia tahun ini.” Rentetan keberhasilan Indonesia untuk tahun 2004 akan mencakup – tetapi tidak terbatas pada – suksesnya pemilu, peralihan kekuasaan yang tertib, pertumbuhan ekonomi yang kuat, dan peningkatan tertib hukum, serta berkurangnya intoleransi antar agama dan korupsi.

Adaptasi oleh Djoko Santoso

XS
SM
MD
LG