Tautan-tautan Akses

Profil staf VOA: Erda Handayani - 2004-08-23


Ramah dan kalem, adalah kesan pertama yang saya dapat ketika berkenalan dengan Erda Handayani, wanita berjilbab asal Kalimantan Selatan. Dia baru bergabung dengan VOA, seksi bahasa Indonesia bulan july 2004, untuk melaksanakan OPT (Optional Practical Training).

Dalam masa OPT-nya selama satu tahun, Erda ingin menimba ilmu sebanyak-banyaknya. Menurutnya VOA adalah tempat kerja yang tepat, karena selain belajar ilmu tentang radio, dia juga ingin lebih mengasah kemampuan berbahasa Indonesianya, sebelum kembali mengabdi sebagai guru Bahasa Inggris di kampung halamannya.

Sebagai satu satunya perempuan berjilbab di Indonesian Service, Erda mempunyai pengalaman unik. Sebelum berangkat ke Amerika ia sempat khawatir tentang tanggapan orang Amerika dengan penampilannya apalagi setelah peristiwa September 11. Sesampainya di Amerika, ternyata dia malah merasa sangat nyaman.

Di mana-mana orang menyapanya dengan ramah. Sering di tengah keramaian kota Washington ada seseorang yang berteriak Masya Allah, sembari mengucapkan salam Assalammualaikum. Juga dia sering mendapatkan tawaran ramah di Metro Subway yang penuh untuk mendapat tempat duduk. Memang tidak dipungkiri juga, kadang ada tatapan aneh atau ketakutan dari beberapa orang, atau kadang muncul pertanyaan aneh terutama di musim panas seperti ini, pertanyaannya selalu “Don’t you feel hot?”

Tidak hanya kerudungnya yang mengundang keheranan, Kota asalnya, Kalimantan Selatan pun sempat mengundang keheranan dari teman temannya, karena kebanyakan anak rantau di Amerika berasal dari Jawa atau Sumatra.

Perjalanan ke Amerika bagi Erda bagaikan sebuah mimpi. Tahukan berapa besar gaji guru? sangat tidak mungkin bagi seorang guru SMP negeri di Kalimantan. Tetapi nasib berkata lain, pintu Amerika terbuka bagi Erda ketika sang suami mendapat beasiswa Fullbright tahun 2001.

Suaminya, Rudi Sukandar, berangkat terlebih dahulu, menempuh pendidikan Masternya di jurusan Linguistics di Ohio University selama satu tahun. Nasib baik rupanya membututi kehidupan Erda. Doanya untuk mendampingi sang belahan hati terkabulkan. Department of Linguistics dan Department of Southeast Asia, Ohio University memerlukan seorang teaching assistant untuk mengajar Bahasa Indonesia. Seperti gayung bersambut, berangkatlah sang guru bahasa Inggris SMP ini ke Amerika. Menimba ilmu di jurusan Linguistics, sembari membagi ilmunya mengajar Bahasa Indonesia untuk International students.

Tugas mulianya mengajar bahasa Indonesia, membuat Erda terharu dan bangga. Terutama ketika mendengar mantan anak-anak muridnya lancar berbahasa Indonesia dan saling mengirim email menggunakan bahasa Indonesia.

Untuk mengisi waktu senggangnya, di Washington DC, apalagi jika sang suami jauh di Ohio untuk menyelesaikan program doktoralnya, Erda suka membaca novel, terutama novel yang bernuansa ketegangan, perpaduan antara perebutan cinta atau harta yang melibatkan detektif, polisi atau pengadilan. Dia melahap novel dari berbagai penulis, mulai dari drama klasik karya Agatha Christy, roman detektif karya Mary H. Clark atau novel-novel pop karya John Grisham atau P.D. James.

Erda juga suka menulis puisi atau membacakannya di depan publik. Selama dua tahun di Universitas Ohio, dia selalu terlibat dalam acara ‘Poetry Night’ dan selalu membaca puisi berpasangan dengan sang suami.

Mengenai pengalaman radionya, Erda bilang hanya setitik dengan pernah mengasuh acara Time for English di salah satu radio swasta di kota Banjarmasin, dengan praktek kerja di VOA dia berharap ilmunya yang setitik itu akan menjadi bukit, sesuai dengan prinsip hidupnya yang ingin selalu membuat orang lain senang dan tidak ada kata berhenti untuk belajar. Anda bisa mendengar suara lembut Erda di acara Aneka Info dan Amerika Kini.

Ditulis oleh Yuni Wilcox

XS
SM
MD
LG