Tautan-tautan Akses

Devianti Febriani Faridz: Jangan takut Bermimpi Setinggi Langit - 2003-10-28


Profil kita minggu ini adalah sosok yang tidak asing lagi di layar televisi Anda. Ia adalah Devianti Febriani Faridz atau Dev’, demikian rekan-rekan di VOA biasa menyapanya. Devi adalah orang yang berperan besar dalam acara “Dunia Kita”, acara yang rajin mengunjungi Anda Senin siang dan Minggu dini hari. Devi adalah Producer acara informatif yang dikemas dengan menarik itu.

Ditanya tentang bagaimana kesannya selama bekerja di VOA seksi Indonesia, spontan Devi menjawab,”Senang sebab saya bisa ambil bagian dalam produksi program produksi news magazine”, kata gadis yang bercita-cita menjadi anchor (pembawa acara) news magazine ini. Tidak hanya itu, ia pun menyukai suasana akrab yang ada di kantor, “Suasana di kantor membuat saya cukup menikmati pekerjaan saya”, tambahnya.

Kegiatan di luar kerja, Devi adalah penggemar aerobik. Ia juga senang melukis, maupun mengambar portrait, juga berkeliling di musium-musium seni rupa. Sepintas tentang jalur yang membawanya akrab dengan dunia televisi, Devi mengatakan ketika masih studi di Fakultas Seni Rupa dan Desain Universitas Trisakti, ia aktif di English Club.

Dari situ, pada tahun 1997 Devi diterima bekerja di TVRI sebagai penterjemah dan wartawan di English News Service untuk menterjemahkan berita-berita Internasional maupun berita lokal. Dan pada tahun 2001, karier Devi meningkat sebagai anchor (pembawa acara) berita English News Internasional TVRI jam 17.30 WIB hingga pukul 18.00 WIB.

Lalu apa yang membawa Devi ke dunia Broadcasting? Ini berawal dari hasil tes psikologi ketika ia lulus SMA. Ketika lulus dari SMA 6 Mahakam Jakarta, seperti murid lain, ia mengikuti tes IQ maupun tes psikologi. Tes ini dimaksudkan untuk memberikan jalan terang kepada murid SMA, bidang apa yang seharusnya mereka pilih di perguruan tinggi.

Hasil tes psikologi tersebut merekomendasikan, ia sebaiknya memilih bidang seni rupa atau komunikasi. Berdasarkan hasil tes tersebut, pada tahun 1993, Devi pun menjatuhkan pilihan pada Fakultas Seni Rupa dan Desain, jurusan Desain Komunikasi Visual, Universitas Trisakti, Jakarta.

Ketika lulus dari Trisakti, gadis berdarah Sunda ini sempat menekuni beberapa pekerjaan sambilan (freelance) termasuk diantaranya menjadi pengisi suara. Salah satunya adalah mengisi suara untuk Telkomsel. Jadi, bila menghubungi mailbox handphone Telkomsel, dan mendengar sapaan lembut berbunyi, “To hear your voice message, please press one”, nah itu suaranya Devi.

Selepas dari Trisakti, Devi juga sempat menjadi dosen selama satu semester di “London School of Communication”. Ia mengajar TV Broadcast dan Public Speaking (MC), sebelum ia berangkat ke Amerika Serikat untuk studi pada tahun 2001. Pada tahun tersebut, Devi mendapatkan beasiswa dari Fulbright untuk belajar ke University of Missouri-Columbia, jurusan Broadcast Journalism.

Salah satu pengalaman hidup yang berkesan mendalam bagi Devi, ketika ia mengikuti program pertukaran budaya selama 2 bulan mengelilingi Asia Tenggara pada tahun 2000. Bukan hanya karena dalam tour tersebut ia bertemu dengan sang pacar, tetapi ia banyak menimba pengalaman menarik selama perjalanan tersebut. Ketika itu, Devi bersama 28 delegasi dari Indonesia dalam Program Ship for Southeast Asian Youth Program bertemu kepala negara, terlibat diskusi mengenai isu politik, sosial, budaya dan mempertunjukkan tarian budaya Indonesia. Seleksi program ini dilakukan oleh Depdikbud, yang kemudian diteruskan ke pemerintahan Jepang. Tour dengan kapal Nippon Maru ini dimulai dari Singapore, menuju Myanmar, Malaysia, Indonesia, Thailand, Vietnam, Filipina, dan berakhir di Jepang.

Dalam program ini ia banyak mengenal kepribadian dan kebudayaan dari banyak delegasi yang datang dari berbagai negara di Asia Tenggara. “Dalam perjalanan ini kita tidak tidur di hotel, tetapi bersama keluarga angkat , dan setiap peserta dituntut untuk menyajikan tari-tarian dan lagu–lagu dari negaranya masing-masing”. Dalam kesempatan itu, Devi bersama teman-teman kontingen Indonesia menyajikan tarian dari Padang.

Devi memandang bahwa peran sang ibu terkait dengan kesuksesasnya sangat besar. Sang Ibu, Etty Salya Faridz berkeinginan agar sang puteri mencapai cita-citanya. Peristiwa penting yang membangkitkan kepercayaan diri Devi, ketika ia memutuskan untuk mengikuti kontes pidato Bahasa Inggris yang diadakan oleh sebuah lembaga kursus Bahasa Inggris. Saat itu, sang ibu bukan sekedar mendukungnya tetapi juga berpura-pura sebagai juri, sekaligus penonton dalam latihan, menjelang kontes pidato itu. Persiapan ini membuatnya merasa sedang berada dalam kontes dan meningkatkan rasa percaya diri. Walhasil, ia melihat saat-saat tersebut membuatnya yakin bahwa ia bisa melakukan banyak hal, asal ia berusaha. Karena itu, Devi sangat senang memotivasi orang, “Jangan takut untuk bermimpi setinggi langit” katanya. “Tetapi juga jangan lupa untuk bekerja sekeras mungkin, agar kita dapat menggapai mimpi-mimpi itu”.

Satu hal lagi yang ia syukuri adalah kesempatan melewatkan pendidikan dasar (SD) di New York, Amerika Serikat. Begitu pentingnya masa-masa tersebut, ia mengambarkan sebagai masa-masa yang banyak mempengaruhi kepribadiannya, terutama sisi kejujuran, percaya diri, maupun kemandirian. Dan Devi pun sempat terkaget-kaget ketika duduk di bangku SMP di Indonesia, ketika pertama kali melihat teman-temannya suka menyontek. “Lho, khoq”, pikirnya waktu itu.

Oleh: Siti Nurjanah

XS
SM
MD
LG