Tautan-tautan Akses

Wajah Dibalik Suara: Anne Budianto - 2003-05-06


“One thing that never changes in this world is the change itself”, demikian ujar Anne, salah seorang penyiar di Voice of America (VOA), seksi Indonesia, membuka percakapan seputar hidup. Kesempatan ada dimana-mana dan tergantung bagaimana kita berani menangkap peluang yang ada, lanjutnya lagi. Menarik memang berbincang-bincang dengan pemilik nama lengkap Ariadne P.Budianto ini. Dan filsafat hidup yang dipaparkannya tersebut, telah dijalankannya dalam menempuh lebih dari seperempat abad usianya.

Tengok saja bagaimana Anne yang semula begitu teguh dengan cita-citanya untuk menjadi dokter, kemudian beralih menjadi jurnalis, atau kalau meminjam kata-kata Anne: grabbing the chance in the air. Hal ini terjadi sewaktu Anne mengikuti program pertukaran pelajar American Field Service (AFS) di South Lake, Texas. Kala itu dia bertemu dengan seorang mahasiswi Indonesia yang sedang memperdalam broadcast journalism. Jurnalistik dikatakan selalu bergerak maju, yang mau tidak mau, membuat orang yang terlibat didalamnya, ‘terpaksa’ ikut dalam kemajuan itu. Selalu aktif dan bergerak maju, inilah yang dicari penggemar jalan-jalan yang tengah menyelesaikan gelar master di bidang jurnalistik pada E.W.Scripps School of Journalism, Ohio University – Athens. Tidak heran, selepas SMA, Anne menampik program PMDK yang ditawarkan padanya, dan memilih kuliah di jurusan Komunikasi, Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik, Universitas Indonesia.

Sebelum melanjutkan kuliahnya di Amerika, Anne sempat bekerja sebagai reporter dan produser di radio Prambors, Jakarta. Dia mengaku sangat menikmati pengalamannya meliput berbagai peristiwa dan gejolak politik yang terjadi di Jakarta kala itu. “Waktu itu saya harus kucing-kucingan dengan para petugas untuk mengatasi semprotan gas air mata”, ujarnya sambil tertawa. “Tapi dari semuanya itu, yang paling seru adalah, bagaimana bisa memberikan laporan yang akurat dan tajam, namun tetap mampu tampil menarik”, tambah Anne lagi, yang di VOA terkenal dengan keahliannya sebagai make-up artist, terutama untuk keperluan acara TV. Meskipun kondisi lapangan di Amerika berbeda dengan di Jakarta, Anne tetap menemukan ‘gairah’ kerja dalam bidang jurnalistik. Diakui Anne, keterlibatannya dengan tim produksi Dunia Kita yang ditayangkan di Metro TV, memberikan tantangan baru. Selain hal baru, dia juga ditantang untuk bisa melakukan semua hal, mulai dari mengeluarkan ide cerita, menjadi produser acara, kalau perlu menjadi kru lapangan yang melakukan pengambilan gambar sekaligus mewawancara, dan menjadi editor.

Selain bicara mengenai hidup dan pekerjaan, mantan asisten dosen di FISIP-UI yang suaranya bisa anda nikmati melalui program Dunia Kita dan Aneka Info ini, juga piawai bicara soal kopi. Anne mampu membedakan berbagai jenis kopi, seperti Arabica dan Robusta, atau antara kopi Starbuck dan Maxwell, dari rasa dan keasamannya. Namun sewaktu ditanya berapa banyak kopi yang diminumnya setiap hari, penggemar berat kopi ini membatasinya hanya 2 cangkir saja sehari. Kali ini alasan medisnya yang keluar, karena kandungan caffein lebih cepat meningkatkan tekanan darah bagi pemilik golongan darah O seperti dirinya.

Diakhir perbincangan, Anne yang kerap menghabiskan waktu luangnya dengan menonton film ini, mengungkapkan lagi sebuah perubahan yang mungkin akan dilakukannya dalam hidup. “Saya ingin meneruskan profesi saya sebagai pengajar”. Membagi-bagi pengalaman dan pengetahuan yang dimilikinya, merupakan sebuah obsesi yang suatu hari kelak akan diraihnya kembali. But now, it’s still hanging in the air, right Anne?

XS
SM
MD
LG