Tautan-tautan Akses

Norman Goodman, PhD


Kepribadiannya yang bersahabat membuat para stafnya tidak saja menempatkan Norman Goodman sebagai pimpinan semata, tetapi juga sebagai seorang teman dan pendengar yang baik. Tidak heran bila pria asal Wisconsin yang sering disapa Norm atau Pak Norman ini, telah membawa angin perubahan sejak ia menjabat sebagai Kepala Divisi Indonesia di VOA Oktober tahun 2000 lalu.

Perubahan apa saja yang telah ia lakukan? Norm menjelaskan, "Kami melakukan beberapa perubahan yaitu dalam hal programming, jumlah penyiar, perubahan jingle, peluncuran program VOA DC untuk kaum muda, dan banyak lagi sehingga kami harapkan VOA akan lebih mendekati kebutuhan para pendengar kami di Indonesia," katanya menambahkan. "Kami juga mengenalkan program televisi seperti Halo VOA di Indosiar, dan Dunia Kita di Metro TV."

"Bagi kami pendengar dan pemirsa sangatlah penting sekali. Karena itu kami terus berusaha untuk menyampaikan informasi yang terkini dan berguna, termasuk menyediakan informasi yang bisa didokumentasikan semacam web site, www.VOAindonesia.com, dan juga email newsletter, VOA Email Direct."

Dalam tugas ini tantangan Norm tidak hanya dalam hal manajerial tetapi juga termasuk tuntutan untuk mengikuti perkembangan teknologi komputer maupun perangkat siaran.

Dalam kepemimpinannya, Norm cukup fleksibel dalam menjalin hubungan dengan stafnya yang terdiri dari beragam generasi dan suku. Posisinya sebagai pimpinan tidak membuatnya kesulitan dalam menjalin hubungan yang akrab sekaligus profesional. Ini bukan karena kebetulan tentunya, "Saya pernah tinggal di Asia Tenggara hampir tujuh belas tahun, yang sepuluh tahun di Indonesia," katanya. Bahkan putri semata wayangnya, Alexandra pada lima tahun pertama, bahasa pertama yang dikenalnya pun bahasa Indonesia.

Lalu apa yang ia lakukan selama di Indonesia? Norm menjelaskan,"Saya bekerja di Institute International of Education (IIE) yang bertanggung jawab menangani test TOEFL di Indonesia, juga menangani beasiswa dan program training. Untuk menjalankan program-programnya IIE seringkali bekerja sama dengan pemerintah Amerika (USAID), juga pemerintah Indonesia maupun swasta seperti Ford Foundation". Salah satu proyek penting yang Norm tangani adalah merancang proposal kerjasama senilai 93 juta dollar antara World Bank dengan BPPT pada tahun 1984 dalam proyek bea siswa keluar negeri untuk belajar teknologi.

Terkait dengan posisinya sebagai pimpinan, Norm menempatkan dirinya lebih banyak sebagai seorang fasilitator. Ia mengatakan,"Posisi saya sesungguhnya lebih banyak sebagai fasilitator terhadap orang-orang yang bekerja dengan saya, sementara saya juga harus mempertanggungjawabkannya kepada sistem yang lebih besar lagi".

Abdul Nur Adnan salah seorang editor yang lebih dari tiga puluh tahun bekerja di VOA mengatakan bahwa Norm memang menghadapi banyak tantangan berkaitan dengan kemajuan teknologi siaran dan kebutuhan Amerika yang semakin meningkat untuk menjangkau pendengar dan pemirsa sebanyak mungkin dari negara yang berpenduduk muslim terbesar di dunia itu. "Tetapi saya yakin ia akan berhasil" katanya dengan mantap.

Pengetahuannya mengenai Asia Tenggara terutama negara-negara yang memiliki penduduk mayoritas Islam dimulai sejak ia masih mahasiswa. Pada tahun 1972 ia menjadi relawan Peace Corp selama dua tahun di Raub Pahang Malaysia, lalu melakukan penelitian untuk disertasinya tahun 1978 yang juga di Malaysia. Dengan disertasinya itu, ia berhasil meraih gelar Ph.D dalam bidang Pendidikan Pengembangan Internasional dari Universitas Stanford. Ia juga pernah bertugas selama tiga tahun di Thailand dan tiga tahun di Mesir sebagai pimpinan program Development Training II (DT2) bersama USAID. DT2 adalah program training dari USAID yang terbesar di dunia melibatkan lebih dari 20,000 peserta dari Mesir selama enam tahun.

Ditanya mengenai apa yang ia lakukan diwaktu senggangnya, Norm mengatakan bahwa ia suka sekali bermain ski pada musim dingin dan melakukan kamping maupun mengayuh kanoe yang ia lakukan bersama keluarganya di musim panas. Pertama kali ia mempelajari scuba diving di Indonesia, dan di Mesir bersama keluarganya, ia melakukan perjalanan petualangan di padang pasir, "Pengalaman tersebut benar-benar baru bagi kami, kami belajar mengenai dunia lebih luas lagi," katanya.

Ketika ditanya bagaimana ia melihat stafnya, tanpa ragu-ragu ia mengatakan,"Saya bangga pada mereka, mereka benar-benar berusaha keras untuk bisa memenuhi tuntutan perubahan bentuk dan materi siaran untuk kepentingan pendengar dan pemirsa kami di Indonesia."

Oleh: Siti Nurjanah

XS
SM
MD
LG