Tautan-tautan Akses

Cina Berlakukan Jam Malam Menyusul Kerusuhan di Lhasa, Tibet


Saksi mata dan penduduk di ibukota Tibet, Lhasa, mengatakan pihak berwenang Cina telah memberlakukan jam malam dan sedang berjuang memadamkan kobaran api yang menerangi langit malam menyusul aksi protes hari Jumat.

Laporan yang belum dikukuhkan mengatakan beberapa orang tewas dalam bentrokan hari Jumat antara polisi dan demonstran Tibet dalam unjuk rasa yang diawali dengan tertib dan berakhir dengan kekerasan. Para saksi mata melaporkan mendengar suara tembakan di jalan-jalan kota Lhasa. Para perusuh melemparkan batu ke arah polisi dan membakar toko-toko, kendaran dan bendera Cina. Beberapa laporan menyebutkan, serangan diarahkan ke toko-toko milik suku Han Cina dan muslim Cina.

Aksi protes yang dimulai para biksu Buddha itu merupakan demonstrasi paling serius dan panjang dalam menentang penguasaan Cina sejak tahun 1989. Presiden Cina Hu Jintao yang waktu itu menjabat sebagai ketua Partai Komunis Tibet dan memberlakukan undang-undang darurat petrang untuk menghentikan aksi protes.

Sebuah kelompok HAM yang berkedudukan di India mengatakan, protes itu telah menjalar ke komunitas Tibet di provinsi-provinsi Qinghai, Gansu dan Sichuan. Sajksi mata melaporkan polisi Cina melepaskan tembakan untuk membubarkan protes di provinsi Gansu yang dipimpin para biksu Budhha.

Sementara itu, pemimpin spiritual Tibet di pengasingan, Dalai Lama, dan para pemimpin di seantero dunia menyerukan agar Cina mengekang diri setelah aksi protes di ibukota Tibet itu berubah rusuh.

Dalai Lama mengatakan hari ini, demonstrasi di Lhasa itu mewakili kebencian Lhasa yang sudah berlangsung lama terhadap penguasaan Cina. Katanya Beijing sebaiknya menyelesaikan masalah melalui dialog, bukan kekerasan.

Amerika Serikat, Inggris dan negara-negara Eropa lainnya juga menyatakan keprihatinan setelah laporan mengenai tembakan senjata api diperoleh dari Lhasa hari ini.

Seorang jurubicara Sekjen PBB mengatakan Ban Ki-moon juga mengikuti situasi di Lhasa, dan telah mendesak agar semua pihak yang terlibat dalam protes itu menghindari konfrontasi dan kekerasan.

Kepala dewan hak asasi manusia PBB Louise Arbour menyerukan agar Beijing mengizinkan rakyat Tibet menggunakan hak mereka untuk mengemukakan pendapat dan berhimpun. Dia juga mendesak agar Cina menghindari kekerasan berlebihan dalam menegakkan ketertiban.


XS
SM
MD
LG