Tautan-tautan Akses

Demokrat Nancy Pelosi Bisa Jadi Adalah Wanita Pertama yang Memimpin DPR AS


Bila Partai Demokrat berhasil memegang kendali atas DPR AS dalam pemilu kongres 7 November, maka mungkin saja seorang pembuat UU dari partai tersebut di California menjadi juru bicara wanita pertama di dalam DPR.

8 November 2002, setelah pemilu kongres pertama dalam masa kepresidenan Bush, setahun lebih sedikit setelah serangan teroris pada September 2001, dan hanya beberapa bulan sebelum invasi AS ke Irak.

Partai Demokrat telah kalah jauh dari Republikan yang tetap bertahan di Majelis dan Senat. Nancy Pelosi kelihatannya akan menjadi Pemimpin Minoritas.

Tantangan bagi Demokrat, ujarnya kepada reporter, adalah untuk bersatu dan bisa membangun koalisi sambil tetap menarik garis batas yang jelas dengan kebijakan-kebijakan Presiden Bush dan Partai Republikan.

"Sejauh yang diprihatinkan oleh Partai Republikan, juga pemerintahannya, Demokrat harus memiliki dasar-dasar permufakatan untuk kebaikan rakyat Amerika. Tapi kita tidak mempunyai dasar-dasar permufakatan, kita hanya harus mempertahankan pijakan kita,” katanya.

Setelah kekalahan di tahun 2002 itu, partai Demokrat terus berusaha melakukan perbaikan-perbaikan. Dalam pandangan Pelosi, kekalahan tersebut bisa dihubungkan dengan gagalnya mereka mendefinisikan pesan-pesan penting mereka.

"Bila publik tidak merasa bahwa mereka sudah menerima pesan, maka seharusnya kita pun mendapat pesan dari situ. Bukan artinya kita tidak mencoba untuk menyampaikan pesan atau kita tidak punya pesan, tetapi kalau mereka tidak beranggapan bahwa mereka menerima pesan, maka di masa mendatang kekhususan-kekhususan serta perbedaan-perbedaan antara kita dan Demokrat harus lebih jelas,” katanya.

Pada tahun 2004, lagi-lagi Demokrat harus menanggung kekalahan dalam pemilu kongres di mana sekali lagi Republikan memegang kendali atas Majelis dan Senat, dan Presiden Bush mengalahkan John Kerry, kandidat presiden dari Partai Demokrat.

Pada saat itu, perang di Irak telah menjadi keprihatinan bagi rakyat Amerika, dan tetap demikian sampai saat ini di mana Demokrat di bawah kepemimpinan Pelosi menyongsong masa depan yang lebih cerah sementara Republikan berusaha bertahan hidup dalam pertandingan kongres ini.

Pada usia 66, Pelosi, yang mencicipi dunia politik sejak masa kanak-kanak di kota Baltimore, Maryland tempat ayahnya menjadi walikota, dipersiapkan untuk menjadi Juru Bicara Majelis wanita yang pertama bila Demokrat menang pada 7 November nanti.

Latar belakang politik liberalnya menjadi santapan bagi kandidat-kandidat dari Republikan, dan bagi Presiden Bush dan yang lain-lainnya.

Dalam penampilannya sebagai kandidat kongres Republikan, baru-baru ini presiden mengatakan sesuatu tentang Pelosi.

"Yang akan menjadi Juru Bicara majelis, yang juga menjadi orang ketiga dalam jajaran calon presiden, adalah seorang wanita anggota kongres yang menolak pembaruan UU Patriot Act, yang tidak setuju dengan pembentukan Department of Homeland Security, yang tidak menginginkan penyingkiran atas Saddam Hussein dari tampuk kekuasaannya dan dilanjutkannya program pengawasan teroris, dan tidak setuju dengan program penyelidikan teroris CIA. Yang akan menjadi Juru Bicara adalah wanita anggota kongres yang menyebut pembebasan atas 25 juta warga Irak sebagai kesalahan yang luar biasa. Yang akan menjadi Juru Bicara adalah seorang wanita anggota kongres yang pernah berkata bahwa menangkap Osama Bin Laden tidak akan membuat Amerika lebih aman,” katanya.

Dalam rally kampanye kongres, presiden beserta penasihat politik Karl Rove dan wakil presiden Dick Cheney mengulang-ulang pernyataan tersebut hamper kata demi kata setiap hari.

Pelosi tampaknya malah mendapat energi dari serangan-serangan tersebut yang ternyata makin meningkatkan kekuatannya sebagai politisi dari keluarga Amerika keturunan Italia sekaligus sebagai seorang wanita, ibu, dan nenek dalam medan pertempuran politik.

"Dalam dunia politik, adalah penting bagi seorang wanita untuk memperoleh kemenangannya sebagai hasil kerja keras sehingga tidak ada yang menganggap bahwa kemenangan tersebut hanya pemberian,”ujarnya.

Walaupun beberapa anggota Partai Demokrat membantunya dengan menajamkan posisinya, beberapa mengkhawatirkan bahwa gaya komunikasi Pelosi yang seringkali kaku dan kurang menyenangkan dapat mengganjal pesan-pesan yang ingin disampaikannya.

Dengan semakin dekatnya pemilu, ada juga keprihatinan akan serangan-serangan Republikan yang menampilkan kelemahan Pelosi atas masalah-masalah keamanan nasional dan terorisme, termasuk dari kalangan Demokrat sendiri yang menginginkan pajak yang lebih tinggi.

Pelosi berusaha menekankan bahwa potensinya untuk menjadi Juru Bicara Majelis tidak akan membuat Demokrat melakukan aksi balas dendam walaupun ia akan memegang peran penting dalam memutuskan pembuat UU yang mana yang akan menjadi ketua komite.

Mengenai ajakan dari radikal-radikal partai untuk melakukan impeachment terhadap Presiden Bush sehubungan dengan perang Irak, ia dengan jelas mengatakan bahwa hal itu tidak akan menjadi agendanya karena itu bisa menjadi bahan bagi Republikan untuk mengatakan bahwa Demokrat ingin membalas dendam politik.

Bila mereka berhasil memperoleh 15 kursi yang dibutuhkan untuk memegang kendali majelis, maka Pelosi akan menjadi juru bicara majelis terpilih dari Partai Demokrat. Steny Hoyer, seorang Demokrat dari Maryland yang saat ini menjabat sebagai tokoh penggerak politik di majelis, akan dicalonkan menjadi pemimpin mayoritas.

Bila mereka menang, Demokrat berjanji untuk menggunakan 100 hari pertama untuk mendorong legislasi menjalankan seluruh rekomendasi dari Komisi 11 September dan meningkatkan upah minimum, masalah-masalah yang menurut mereka gagal dilaksanakan oleh Republikan.

Sementara itu, Republikan terus-menerus menyerang Pelosi sehubungan dengan posisinya dalam masalah perang Irak, keamanan nasional, dan perekonomian, sambil berharap agar jajak pendapat opini yang membela Pelosi dan Demokrat dapat berkurang.

XS
SM
MD
LG