Tautan-tautan Akses

Pidato Bush Belum Dapat Akhiri Pertentangan Demokrat dan Republikan


Menjelang pidato kenegaraannya, Presiden Bush menghadapi kritik dari para politisi Partai Demokrat, yang menentangnya dalam sejumlah isu domestik, terutama menyangkut penyadapan di dalam negeri. Namun pada saat yang sama, Bush mendapat momentum dari segi pencapaian ekonomi, dan bersikeras akan mendesak Kongres untuk menindaklanjuti berbagai proposal domestiknya.

Dalam pidato kenegarannya tahun lalu, Presiden Bush masih berada di atas angin, setelah memenangkan kembali pemilihan presiden untuk masa jabatan kedua, mengalahkan kandidat dari Partai Demokrat, John Kerry.

Bush bersumpah untuk menggunakan modal politik itu untuk mencapai agenda domestiknya di Kongres, yang saat ini dikuasai oleh Partai Republikan.

Namun, tujuan Bush yang paling ambisius sepanjang tahun 2005, yaitu mereformasi sistem dana pensiun Social Security (Tunjangan Sosial), tak banyak mengalami kemajuan, akibat tentangan hebat dari Partai Demokrat, dan bahkan dari dalam partainya sendiri, Partai Republikan.

Walaupun Gedung Putih memang berhasil meraih sejumlah terobosan dalam bidang energi dan isu lain, skandal tak aral datang menyerang.

Diantaranya lewat kasus pembocoran nama agen CIA, yang melibatkan mantan penasihat Gedung Putih Lewis “Scooter” Libby, dan penyelidikan penyuapan dan korupsi yang menyeret pelobi ternama Jack Abramoff berikut sejumlah nama penting di Kongres.

Dalam pidatonya, Presiden Bush diduga akan menyoroti keberhasilan Pemilu di Irak, serta kemajuan di Afghanistan. Namun perihal isu strategi AS di medan perang sendiri, atau dalam perang melawan terorisme, tetap memecah-belah politisi di Washington.

Dalam temu muka dengan wartawan awal minggu ini, Presiden Bush memberikan sejumlah tema besar pidatonya, yang mencakup layanan kesehatan, pengurangan pajak, energi, perang melawan terror dan keamanan dalam negeri.

Bush pun meminta kerjasama pihak Demokrat, “Ini memang tahun pemilihan kembali, namun saya percaya kita bisa bekerja sama untuk mencapai hasil yang baik. Dalam kata lain, kita bisa mengesampingkan perbedaan, dan menyelesaikan tugas-tugas yang masih tersisa. Itu yang akan saya minta dari Kongres.”

Pemimpin Mayoritas Partai Republikan di Senat, Bill Frist, menyerukan pesan yang sama. “Saya harap akan ada kerjasama antarpartai. Ini seharusnya tidak menjadi isu partisan. Kita perlu bekerja sama,” ujar Frist.

Namun sinyal kooperatif tampaknya tak akan datang dengan mudah.

Pemimpin Partai Demokrat di Senat, Harry Reid dengan tegas menyalahkan Presiden Bush atas apa yang disebutnya “kekacauan fiskal”.

Awal minggu ini, penasihat politik Presiden Bush, Karl Rove juga berbicara tentang tujuan Gedung Putih, serta perbedaan antara Partai Republikan dan Demokrat. “Intinya, kedua partai ini memiliki perbedaan pendapat yang fundamental baik tentang dunia, maupun tentang keamanan nasional. Partai Republikan memiliki pandangan pasca-11 September. Partai Demokrat memiliki pandangan pra-11 September. Itu bukan berarti mereka tidak patriotik, tidak sama sekali. Tapi itu berarti mereka salah,” kata Rove.

Politisi Demokrat saat ini menyerang kebijakan penyadapan domestik yang disetujui Presiden Bush, walaupun Gedung Putih berkeyakinan program itu sesuai dengan wewenang yang dilimpahkan Kongres, terutama menyangkut keamanan nasional.

Program kontroversial ini akan mulai dibahas di Senat awal Februari.

XS
SM
MD
LG