Tautan-tautan Akses

Rasa Anti Amerika Tetap Tinggi


Banyak warga Amerika berpendapat bahwa orang di seluruh dunia menyukai Amerika. Ketika ada bukti bahwa tidak demikian halnya, mereka cenderung berpendapat bahwa itu sifatnya sementara, atau terbatas di kalangan kecil saja. Memang, simpati orang di seluruh dunia kepada Amerika memuncak sejak serangan teroris 11 September 2001.Tetapi dua angket di seluruh dunia menunjukkan bahwa status Amerika di mata dunia benar-benar merosot.

Dalam angket pertama, yang melibatkan 24 ribu responden di 23 negara, 22 negara menganggap Eropa memiliki pengaruh positif terhadap dunia; 14 negara menganggap Cina berpengaruh positif terhadap dunia. Rusia dan Amerika menduduki urutan paling bawah, dengan hanya enam negara yang menganggap keduanya berpengaruh positif terhadap dunia. Filipina dan Korea Selatan mendukung usaha-usaha Amerika. India memberikan nilai tertinggi kepada Amerika.

Angket kedua menyangkut 17 ribu responden di 16 negara. Angket ini mendapati, nilai Amerika naik sedikit pada tahun 2004, tetapi Amerika tetap tidak disukai di negara-negara yang diangket.

Indonesia mencerminkan tren ini. Pada tahun 2000, 75 persen responden di Indonesia menyukai Amerika. Setelah perang Irak mulai pada tahun 2003, hanya 15 persen responden memiliki pendapat positif mengenai Amerika. Angka ini naik menjadi 38 persen setelah Amerika melakukan usaha bantuan tsunami di Aceh.

Orang Amerika yang bepergian ke luar negeri, atau tinggal di luar negeri, mengalami sendiri kenyataan ini. Para mahasiswa Amerika di luar negeri sering terkejut menemui perasaan negatif terhadap Amerika.

Warga Amerika yang bepergian ke luar negeri sering mengatakan bahwa kecaman orang umumnya ditujukan terhadap pemerintah, bukan warga Amerika. Namun, hasil angket juga tidak menunjukkan perasaan positif terhadap warga Amerika.

Sebagian warga Amerika menganggap enteng sikap negatif itu. Seorang kolumnis menulis ‘hasil angket baru yang menunjukkan rasa anti Amerika itu tidak ada artinya’. Seorang wartawan yang pernah bekerja di luar negeri mengatakan: “Mereka mengecam Amerika, tetapi mereka ingin datang untuk belajar dan tinggal di Amerika.”

Memang, banyak imigran yang datang ke Amerika. Tetapi sekarang masalahnya tidak sesederhana seperti yang dikatakan wartawan tadi. Salah satu angket itu menanyakan, ke negara mana responden menganjurkan kaum muda pergi untuk mencari hidup yang baik. Australia, Inggris, Kanada dan Jerman, mengungguli Amerika. Orang dari Cina memilih Kanada. Anehnya, orang Indonesia memilih Jepang.

Sebuah jaringan televisi beberapa hari yang lalu mengemukakan, dukungan untuk Amerika berkurang sejak invasi ke Irak, terutama setelah terungkapnya kasus penyiksaan di penjara Abu Ghraib dan penodaan kitab suci al-Quran di Guantanamo.

, seorang penasihat pertahanan yang menganjurkan dilancarkannya invasi terhadap Irak mengatakan, ketidakpopuleran jangka pendek mungkin tidak banyak berarti bagi kepentingan jangka panjang Amerika. Kalau dua tahun dari sekarang Irak memiliki demokrasi yang berfungsi, katanya, orang akan mengatakan bahwa Amerika telah melakukan tindakan yang benar.

Richard Haas, Presiden Dewan Hubungan Asing berpendapat lain. Ia ingin mengakhiri kebijakan luar negeri Amerika yang unilateral, yang menurut hasil angket merupakan sumber rasa anti-Amerika. Haas menyerukan kerjasama dengan berbagai negara untuk menggalang tujuan dan pendekatan bersama dalam isu seperti kemiskinan, naiknya suhu bumi dan penyebarluasan nuklir.

Pendapat Richard Pearle senada dengan Presiden Bush yang berulangkali menyerukan agar rakyat Amerika ‘tetap berpendirian teguh.’ Richard Haas berpendapat, Amerika harus melakukan perubahan.Hasil kedua angket itu menunjukkan bahwa rakyat di seluruh dunia ingin agar Amerika mengubah kebijakan. Hanya waktu yang akan membuktikan apakah itu yang terjadi. (voa/howell/djoko)

XS
SM
MD
LG