Tautan-tautan Akses

Minat Menjadi Tentara Turun


Selama 30 tahun terakhir ini, Angkatan Darat Amerika tidak pernah menemui kesulitan merekrut prajurit baru. Seusai Perang Dunia, militer Amerika menggunakan bonus, pelatihan dan beasiswa untuk merekrut anak-anak muda yang memenuhi syarat. Sebelumnya, pemerintah memberlakukan wajib militer. Perubahan kebijakan ini sangat sukses. Banyak pelamar yang sangat memenuhi syarat, dan militer Amerika sangat gembira. Yang paling menggembirakan adalah semangat para prajurit: mereka memang benar-benar ingin menjadi tentara.

Tetapi kalau perang tidak segera menghasilkan kemenangan, peminat baru untuk menjadi tentara berkurang. Itulah yang terjadi sekarang ini di Irak. Dukungan publik sulit dipertahankan kalau kemenangan tidak segera dicapai. Karena khawatir mengenai anjloknya minat untuk menjadi tentara, pekan lalu Presiden Bush mengucapkan pidato nasional untuk menggalang dukungan. Hanya waktu yang akan membuktikan apakah usaha ini sukses. Sementara itu, militer Amerika cemas. Target perekrutan tentara baru untuk bulan Februari, Maret dan April tidak tercapai. Target untuk bulan Mei diturunkan dari 8050 menjadi 6700. Inipun tidak tercapai, dan hanya 75 persen dari target baru itu yang terpenuhi. Cabang kemiliteran lain seperti marinir, juga menemui kesulitan dalam memenuhi target perekrutan.

Dalam beberapa bulan terakhir, Angkatan Darat Amerika mempekerjakan 1200 perekrut baru, meningkatkan anggaran iklan, dan menaikkan bonus uang kontan. Tekanan ini juga membuat sebagian perekrut melanggar aturan. Seorang perekrut ditahan karena mengajarkan kepada calon pelamar, bagaimana menyembunyikan laporan mengenai penggunaan narkoba, ada juga perekrut yang ditahan karena memberitahu calon pelamar cara membeli ijazah palsu. Karena itu, semua perekrut Angkatan Darat Amerika harus menjalani pelatihan sehari mengenai etika perekrutan.

Dengan kata lain: perekrutan prajurit baru telah menjadi masalah serius. Dulu, insentif ekonomi sudah cukup. Sekarang, ini masih juga dapat digunakan, terutama di kalangan warga yang kurang mampu.

Seorang perekrut Angkatan Darat disambut hangat ketika mengunjungi sebuah SMA warga Hispanik di wilayah miskin belum lama ini. Seorang siswa berumur 18 tahun menandatangani formulir untuk menjadi tentara bulan Juli. Siswa ini mengurus diri sendiri sejak kecil, dan bekerja penuh waktu sambil sekolah. Dengan masuk tentara, ia menerima bonus 14 ribu dolar, mendapat pelatihan, tempat tidur, makanan, dan gaji. Hidupnya tidak akan pernah kekurangan kalau memilih untuk menjadi tentara seterusnya. Tetapi ketika perekrut itu mengunjungi SMA di dekatnya, di wilayah yang penduduknya berpenghasilan lebih tinggi, tidak ada yang tertarik menjadi tentara. Kajian Angkatan Darat menegaskan: ‘Minat menjadi tentara paling tinggi di mana penghasilan dan pendaftaran ke perguruan tinggi paling rendah.’ Sebagian besar kaum muda Amerika lebih tertarik untuk menempuh karier lain yang tidak terlalu membahayakan jiwa.

Beberapa negara Asia mengalami masalah serupa. Seorang Jenderal Cina menulis dalam majalah pertahanan Beijing, mengeluh bahwa Angkatan Darat Cina menemui masalah karena kaum muda Cina memiliki banyak pilihan bidang kerja lain, lebih banyak yang masuk perguruan tinggi. Pengecekan latar belakang semakin sulit karena orang sering berpindah-pindah, dan karena tidak ada sanksi bagi orang yang menolak menjadi tentara. Dilemmanya sangat besar di Amerika. Tidak ada yang ingin agar kebijakan wajib militer diberlakukan lagi, tetapi bagaimana Angkatan Darat Amerika memperoleh prajurit baru? (voa/howell/djoko)

XS
SM
MD
LG