Tautan-tautan Akses

Harga Rumah Terus Membumbung


Rumah sedang menjadi obsesi di Amerika. Hampir semua orang berbicara mengenai rumah. Berita utama televisi dan suratkabar selalu membahasnya setiap hari. Kepala badan-badan pemerintahan membahasnya di depan Kongres dan dalam forum-forum ekonomi.

Mengapa perhatian begitu besar tertumpah pada rumah? Karena dalam lima tahun terakhir ini harga rumah di Amerika melangit. Kenaikan harga rumah terjadi paling hebat pada tahun 2004, ketika harga rumah naik 15 persen dari tahun sebelumnya. Harga rata-rata rumah melewati 200 ribu dolar bulan April yang lalu, untuk pertamakalinya dalam sejarah. Tetapi selama lima tahun yang lalu, di wilayah-wilayah tertentu di sepanjang pantai Barat dan Timur Amerika, harga rumah berlipat dua. Rata-rata harga rumah di San Fransisco adalah 590 ribu dolar, sedang di New York 450 ribu dolar.

Di Amerika orang menggunakan penghasilan mereka untuk rumah, jauh lebih besar daripada di Asia. Sebagian besar warga Amerika menggunakan 25 sampai 50 persen penghasilan mereka untuk rumah. Di beberapa negara Asia, termasuk Cina, rata-rata orang hanya menggunakan kurang dari 5 persen penghasilan mereka untuk rumah.

Sebagian ini adalah karena orang Amerika menganggap rumah sebagai identitas. Ada perbedaan mendasar antara kata rumah dan tempat tinggal. Rumah adalah bangunan di mana orang tidur, makan dan menyimpan barang-barang miliknya. Tempat tinggal adalah rumah, di mana keluarga tinggal dan merajut kenangan.

Tetapi membayar mahal untuk rumah tidak hanya terjadi di Amerika saja. Di seluruh dunia, termasuk banyak wilayah Asia, harga rumah membubung. Sebagian ini adalah karena globalisasi. Orang yang berduit membeli rumah sebagai investasi di mana saja.

Semua orang ingin ikut mengeruk keuntungan dari demam rumah. Kisah-kisah sukses menimbulkan demam ‘kaya mendadak.’ Seorang pemuda di kota Washington DC membeli sebuah kondo seharga 285 ribu dolar. Satu setengah tahun kemudian, kondo itu dijualnya seharga 428 ribu dolar.

Ledakan real estate ini tidak merata. Harga rumah berlipat dua di Miami, Florida; San Diego, Kalifornia; dan Washington DC. Tetapi harga rumah hanya naik kurang dari 25 persen di Albuquerque, New Mexico; Birmingham, Alabama; New Orleans, Louisiana; Salt Lake City, Utah, dan Tulsa, Oklahoma.

Inilah contoh besarnya kesenjangan laju naiknya harga rumah. Tahun 1980 dua rumah di Syracuse, New York, harganya sama dengan satu rumah di San Diego, Kalifornia. Sekarang, sebuah rumah di San Diego harganya sama dengan enam rumah di Syracuse.

Dapatkah fenomena ini akan terus berlanjut? Kalau harga rumah turun sedikit saja, banyak orang yang akan menemui kesulitan keuangan. Kalau harganya turun terlalu besar, dampaknya akan terasa di seluruh dunia.

Yang jelas, harga rumah tidak akan terus naik tanpa henti. Kalau kita beruntung, harganya hanya akan menjadi datar sehingga tidak akan terjadi kekacauan keuangan di seluruh dunia, dan impian warga Amerika untuk memiliki rumah terus berlanjut. (voa/howell/djoko)

XS
SM
MD
LG