Tautan-tautan Akses

Penelitian Virus Flu Burung di Amerika


Virus Avian, yang menyebabkan flu burung, memusnahkan sejumlah besar ayam di Asia Tenggara. Meski sejauh ini hanya sejumlah kecil orang yang terkena penyakit tersebut, ada kecemasan virus itu akan menyebar di kalangan manusia. Di Universitas Maryland, yang berada dekat Washington DC, sebuah proyek baru sedang dilangsungkan untuk mempelajari virus avian ini.

Ilmuwan Universitas Maryland Daniel Perez berpacu melawan waktu. Ia mengetuai program yang ditujukan untuk menghentikan penyebaran virus Avian di kalangan ayam dan unggas-unggas lain sebelum virus itu menjadi ancaman besar bagi manusia. Katanya: “Ini hanya persoalan waktu. Jadi jika kita tidak melakukan sesuatu untuk membasmi virus ini, bahaya akan selalu ada.”

Para ilmuwan di universitas Maryland berharap bisa mempelajari bagaimana organisma sangat kecil ini bisa menggandakan diri sehingga bisa menghentikan penyebarannya. Burung-burung yang hidup di air atau burung-burung yang suka bermigrasi bisa mentolerir virus ini, dengan cara membuang kotoran mereka ke kolam, danau dan sungai. Tapi virus itu menjadi maut ketika menginfeksi unggas yang hidup di darat, khususnya ayam. Perez mengatakan, banyak ayam yang sakit di negara-negara seperti Cina, Thailand, Indonesia, Kamboja, Vietnam dan Korea Selatan telah dimusnahkan untuk menghentikan penyebaran penyakit itu. Mengenai pembantaian besar-besaran ayam yang sakit itu, Perez mengatakan: “Saat ini, itulah satu-satunya cara yang efektif mengontrol penyebaran virus influenza Avian.”

Ia mengatakan, virus Avian cenderung bermutasi dan mungkin menjadi lebih mudah menular ke manusia. Katanya, virus ini sungguh tidak terduga, dan sayangnya para ilmuwan belum cukup tahu apa yang membuat virus itu bisa menular ke manusia.

Bayi yang terifeksi virus avian di Vietnam
Orang bisa sakit dengan menangani ternak unggas yang terinfeksi atau daging unggas yang terkontaminasi. Saat ini, tidak ada vaksin yang bisa melindungi manusia dari jenis virus maut flu burung ini. Pada tahun lalu, lebih dari 50 orang di Asia Tenggara tertular penyakit ini dan kebanyakan meninggal. Perez mengungkapkan: “Gejalanya biasa dimulai dengan semacam gejala flu. Namun, gejala itu tidak mereda seperti halnya infeksi flu normal pada orang dewasa normal, melainkan bertambah buruk dan menyebabkan radang paru-paru dan kematian.”

Para peneliti di Universitas Maryland berasal dari berbagai penjuru dunia, termasuk Bangladesh, Israel dan Filipina. Hongquan Wan dari Cina mengeksplorasi bagaimana virus itu ditularkan dari unggas ke mamalia. Ia mengatakan, satu alasan flu burung menyebar begitu cepat di Cina karena para petani berternak ayam dan hewan-hewan lain bersama-sama dalam kondisi yang sangat jorok. Di negerinya. Ia sering mengatakan kepada para petani mengenai masalah itu. Katanya: “Saya sering menemui mereka dan mengatakan apa yang terjadi – bagaimana mencegah penyakit tersebut berpindah dari ayam dan spesies lain ke manusia.”

Peneliti Gloria Ramirez dari Kolombia mengatakan, meski tidak ada laporan mengenai virus itu di Amerika Latin, wabah bisa terjadi setiap saat. Ramirez mengatakan: “Jika virus itu menyerang Kolombia, contohnya, dan kita memiliki populasi yang tidak memiliki perlindungan apapaun, tanpa kekebalan, akibatnya bisa sangat hebat.”

Meski demikian, Perez prihatin sejumlah negara di dunia menyembunyikan epidemi flu avian. Ia mengatakan epidemi itu merupakan masalah kesehatan masyarakat yang besar sehingga iia berharap negara-negara bersikap lebih terbuka apakah mereka mengalaminya atau tidak. Perez berharap para peneliti bisa menemukan cara untuk mengatasi flu burung. Meski demikian, ia tahu, bahwa itu tidak akan terwujud segera dan dibutuhkan rencana jangka panjang untuk bisa memberantas virus ini. Tujuan utama penelitian ini mencegah kemungkinan bahwa virus itu menyebar dari ayam ke manusia, bukan dari ayam ke ayam. ***

XS
SM
MD
LG