Tautan-tautan Akses

Muslimah Amerika Hadirkan Multikulturalisme dalam Novelnya


Penulis buku 'On Clipped Wings,' Jameela Alter, dalam acara 'We The People' di Washington baru-baru ini.

Penulis buku 'On Clipped Wings,' Jameela Alter, dalam acara 'We The People' di Washington baru-baru ini.

Seorang muslimah Amerika asal India, Jameela Alter, menuangkan pengalaman hidupnya mengenai interaksi antarbudaya dan antaragama dalam sebuah novel.

Pengalaman sebagai seorang Muslim yang dibesarkan di India lalu tinggal di Timur Tengah dan negara Barat, telah membentuk Jameela Alter sebagai pribadi yang spiritual. Ia lalu menuangkan pengalaman pribadinya itu ke dalam sebuah novel berjudul "On Clipped Wings." Baru-baru ini, wartawan VOA Vina Mubtadi berbincang dengan Jameela pada acara ‘We The People’ di Washington, DC, yang menampilkan beberapa seniman perempuan Muslim.

Vina Mubtadi: Sebelumnya saya ucapkan selamat atas novel terbaru Anda yang berjudul On Clipped Wings. Apa yang menginspirasi Anda untuk menulis buku ini?

Jameela Alter: Sebagian dari buku ini menceritakan tentang masa lalu saya. Saya dibesarkan dalam keluarga Muslim yang taat, tapi belajar di sekolah Katolik, dan saya juga mengenal banyak orang Hindu di India. Jadi, saya mendengar banyak informasi yang berbeda-beda. Ada yang mengatakan hanya umat Katolik yang masuk surga, hanya umat Islam yang paling unggul, dan umat Hindu sering tertekan karena kawin paksa, dan lain-lain. Semua ini berlari-lari di dalam pikiran saya. Lalu saya berkesempatan tinggal di luar negeri. Saya pernah tinggal di Libya, Arab Saudi, Inggris dan Amerika. Sejak lama saya ingin menulis buku. Lalu saya mengambil cuti dan mulai menulis "On Clipped Wings," buku yang berisi beragam budaya dan karakter yang pernah saya temui dalam hidup saya.

Vina: Siapa karakter utama dalam buku ini?

Jameela: Karakter utamanya adalah seorang pengemis perempuan yang sangat pemberani. Dia adalah sosok yang jauh berbeda dari saya, karena saya dibesarkan secara keras. Bukunya berisi pikirannya dan interaksinya dengan umat Hindu dan Muslim. Saya rasa, sudah waktunya kita untuk mempelajari kebudayaan berbeda.

Vina: Sepertinya Anda sangat terinspirasi dengan pengalaman pribadi?

Jameela: Ya, memang, karena begitu banyak hal yang indah dalam hidup ini. Meskipun ada banyak skandal, kejadian menyeramkan dan lain-lain, saya selalu bisa melihat keindahan dari manusia dan alam. Jadi buku ini tidak menampilkan keburukan. Saya rasa buku ini inspiratif. Kita bisa mengambil hikmah dalam setiap kejadian, jika kita bisa melihat keindahan dalam kehidupan.

Vina: Apa yang bisa pembaca pelajari dari buku ini?

Jameela: Para pembaca akan mempelajari tentang Hindu, budaya, Muslim. Mereka akan mengenal tentang kemuliaan orang, dan mereka akan mengetahui tentang perempuan yang sering tertindas namun mampu bangkit kembali dengan sayap mereka. Karena itulah saya namai judul buku ini "On Clipped Wings," karena kita semua memiliki sayap yang dipotong atau dibentuk. Kita adalah produk dari orang tua, guru, dan pendidik. Cara kita berpikir ditentukan oleh cara kita dibesarkan.

Vina: Menurut Anda, apakah pengalaman tinggal di Timur Tengah dan di negara Barat telah membentuk kepribadian Anda?

Jameela: Tentu saja. Sejak saya datang kemari, terutama ke Amerika, orang-orang disini sangat bebas dan berani. Kepribadian saya telah berubah, dari orang yang pemalu, yang sering bergaul dengan biarawati dan guru-guru Islam, tapi sekarang saya tidak pemalu lagi, saya bisa menyuarakan banyak hal.

Vina: Bagaimana rasanya menjadi seorang perempuan Muslim di Amerika?

Jameela: Rasanya luar biasa. Saya merasa bebas karena saya adalah seorang Muslim tapi juga orang yang spiritual, jadi saya terbuka pada segala hal yang baik dalam agama Budha, Hindu, Islam, Kristen. Pada dasarnya semua adalah agama yang baik.

Vina: Apa perbedaan yang Anda rasakan dalam menjalani hidup sebagai Muslim di India, di Timur Tengah dan di negara-negara Barat?

Jameela: Di India, ketika saya dibesarkan pada tahun 1950an, kami bisa hidup dengan bebas, tidak seperti di Libya, Mesir atau di negara-negara lain yang kebebasannya dikekang. Di India sangat bebas. Saya masuk ke sekolah Katolik dan tidak diharuskan belajar di sekolah Islam. Tidak ada aksi terorisme waktu itu. Jadi kita hidup dengan bebas. Sementara di Arab Saudi dan Libya, sebagian warganya arogan. Sebagai Muslim dari India, saya tidak dianggap. Itu menjadi pukulan buat saya. Apalagi di Arab Saudi perempuan tidak boleh menyetir dan tidak boleh bekerja, jadi sangat mengekang. Suami saya orang Amerika. Ketika itu mereka tidak senang karena saya mengencani orang kulit putih. Kemudian saya pindah ke Amerika dan saya sangat menghargai kebebasan dan kebebasan berpendapat disini. Sebenarnya saya juga memiliki kebebasan ini di India, tapi waktu itu saya masih terlalu muda dan penakut.

Vina: Terima kasih Jameela Alter dan sukses untuk buku Anda, "On Clipped Wings."

XS
SM
MD
LG